Berita Properti

30 Jan 2004

Menjaga Pesona Kamar Mandi

Asaki.or.id, Kamar mandi selalu penuh pesona. Itulah antara lain pandangan masyarakat yang amat menyukai fungsi kamar mandi.

ARTIS senior, Rae Sita, misalnya, memandang kamar mandi sebagai salah satu tempat rileks yang nyaman. Maka, ia membuat kamar mandi dengan nuansa alami. Perabotan, batu alam, lantai, bentuk, dan lekuk dinding benar-benar dengan pendekatan alam. Ia juga menggunakan keramik alam dan gentong besar untuk mandi. Di ujung dinding, dibuat celah selebar setengah meter, yang memungkinkan udara dan sinar matahari leluasa menerobos masuk ruang kamar mandi itu.

Seorang usahawan properti, yang berkantor di Jalan Sudirman, membuat kamar mandi yang fantastis dari aspek ongkos pembuatan. Pengusaha ini enggan menyebut berapa biaya pembuatan kamar mandinya yang berdiameter delapan kali delapan meter. Namun, dari marmer yang digunakan di sekeliling kamar mandi, bahan bak mandi yang menawan, serta beberapa peralatan kamar mandi yang dilapisi emas murni dapat diketahui bahwa kamar mandi itu setara dengan harga satu unit apartemen papan atas di Jakarta.

Perupa dan keramikus, F Widayanto lain lagi. Meski sama dengan Rae Sita dalam hal penggunaan batu alam, kerikil, kayu jati, dan gentong besar, Widayanto menambahnya dengan menggunakan ornamen dan peralatan kamar mandi yang khas dan sepenuhnya memberi warna masa silam. Juga sebagian besar benda itu, buatan tangan dan dapur keramiknya.

Widayanto membuat dua jendela cukup besar di dua sisi pada tiga kamar mandinya sehingga memungkinkan udara segar bebas keluar masuk. Dari dua jendela itu pula, pengguna kamar mandi akan merasakan kenyamanan yang hebat karena mata dapat menikmati pemandangan di sekitar kamar mandi yang menawan.

Membuat dua jendela besar di tiap kamar mandi memang tepat karena rumah Widayanto terletak di areal “hutan” seluas dua hektar-memang memungkinkan pengguna bathroom boutique itu habis-habisan menikmati pesona alam. Dari kamar mandi itu juga bisa terdengar gemercik air dari beberapa pancuran air di rumah itu.

Hal yang mungkin membuat agak kikuk adalah struktur kamar mandi itu yang terlalu terbuka. Bagi yang sepenuhnya mendambakan privacy, mungkin kurang pas menggunakan kamar mandi jenis ini. Namun, bagi Widayanto yang mendambakan “memasukkan” keindahan alam outdoor menjadi bagian elemen estetika dari indoor, justru dengan sengaja “membuka” ruang kamar mandinya supaya intim dan bersentuhan pesona yang amat khas.

Namun, terlepas dari masalah tersebut, kamar mandi ala Widayanto bisa menjadi contoh bahwa untuk mendapatkan kamar mandi ideal, tidak perlu dengan peralatan super luks. Peranti sederhana, alami, dan kreativitas penataan dengan selera tinggi sudah jauh dari memadai.