Berita Daerah

06 Jun 2004

Mencari Keramik Plered di Purwakarta

Asaki.or.id, Jika bepergian dari Kota Bandung, Jawa Barat, menuju Jakarta ataupun sebaliknya ada suatu pemandangan yang khas ketika melewati wilayah Kabupaten Purwakarta. Di sepanjang jalan tampak berjejer pajangan keramik yang menarik perhatian. Berbagai bentuk keramik mulai dari perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak bisa menjadi suvenir yang menarik untuk dibawa pulang. Keramik Plered, begitulah kerajinan masyarakat yang kini menjadi tujuan para wisatawan untuk datang ke Purwakarta.

Pembuatan keramik Plered memang sudah berlangsung turun temurun dan diperkirakan dimulai sejak tahun 1904. Awalnya, masyarakat sekitar membuat keramik dari tanah liat merah dan termasuk gerabah ini untuk memenuhi perkakas rumah tangga. Tapi, pada perkembangannya kerajinan tersebut mampu menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Dan kini, dengan mutu keramik yang baik, kerajinan tersebut sudah diekspor ke sejumlah negara di antara Jepang, Belanda, Thailand, Singapura dan negara-negara lainnya. Peningkatan kualitas produki itu sendiri terjadi pada 1978. Sementara jenis keramik Plered adalah gerabah, cowet, kendi, waja, teko, terakota, dan porselen.

Objek wisata lainnya yang dapat dikunjungi di Purwakarta adalah Bendungan Jatiluhur. Dengan jarak relatif dekat dan waktu tempuhnya hanya sekitar dua jam dari Jakarta, Waduk Jatiluhur menjadi pasar wisata yang potensial. Untuk menuju objek wisata ini hanya ada satu jalan, yaitu melalui Cilegong. Sedangkan jarak yang lebih dekat, yaitu melalui Desa Pangkalan di Kabupaten Karawang belum ada jalan tembus menuju Jatiluhur.

Sebenarnya ide pembangunan bendungan ini semula ditujukan untuk mengantisipasi kebutuhan pangan dalam negeri dengan membuat pengadaan pengairan dalam skala besar. Tak heran, Jatiluhur menjadi salah satu pilot projectatau proyek percontohan bendungan pertama yang ada di Indonesia. Tapi sejalan dengan perkembangan, fungsi Bendungan Jatiluhur mulai berubah. Selain berfungsi sebagai pembangkit listrik, Jatiluhur juga menjadi objek wisata.

Di objek wisata ini, pengunjung dapat melihat menara air terbesar di Asia Tenggara yang memiliki ketinggian sekitar 100 meter di bawah permukaan air. Tak hanya itu, ribuan jaring terapung tempat pembudidayaan ikan air tawar di Kampung Air, juga menjadi pesona tersendiri bagi para wisatawan. Di tempat ini, para wisatawan dapat menikmati makanan di restoran terapung. Bahkan, para pengunjung juga bisa memberi makan pada ikan yang berada di sekitar lokasi. Pengunjung juga bisa membeli langsung ikan segar yang diinginkan dengan harga relatif murah sekitar Rp 15 ribu per kilogram.