24 Aug 2004
Sutradara Sinetron MVP Sesalkan Sikap Aa Gym
Asaki.or.id, Ahmad Yusuf, sutradara yang kerap menggarap sinetron produksi Multivision Plus mengaku menyesalkan sikap Aa Gym yang memprotes film “Buruan Cium Gue” (BCG). Menurutnya, Aa Gym bersikap agak ceroboh.
Menurut sutradara sinetron “Wah Cantiknya”, “Si Cecep” dan “Cintaku di Rumah Susun” ini, ia sebenarnya merupakan pengagum berat Aa Gym. Ia juga mengaku memiliki koleksi kaset kiai kondang tersebut. Ia bahkan pernah berkunjung ke rumah Aa Gym yang berada di Bandung, Jawa Barat.
Tapi sayangnya, ungkap Ahmad Yusuf, Aa Gym terlihat agak ceroboh dalam menyikapi persoalan BCG. Menurutnya, Aa Gym seharusnya menonton BCG terlebih dahulu sebelum berkomentar.
“Saya pengagum berat Aa. Tapi dalam hal ini saya agak tidak setuju dengan beliau. Sebagai ulama, pemuka agama, saya nilai Aa agak ceroboh. Seharusnya Aa menonton filmnya terlebih dahulu, baru berkomentar. Dalam menilai sebuah film, seseorang tidak boleh sepotong-sepotong. Jangan cuma melihat judul atau sinopsisnya saja,” tutur Ahmad Yusuf kepada detikcom usai bertemu As Gym di Sekretariat Daarut Tauhid Jalan Cipaku, Jakarta Selatan, Senin (23/8/2004) malam.
Menurut Ahmad, himbauan Aa gym untuk menurunkan film BCG dari layar bioskop bisa diartikan sebagai kembalinya rezim lama dalam sebuah industri film. “Kita kembali lagi ke rezim lama. Kalau tidak suka, film itu harus diturunkan. Hal ini sangat meresahkan kalangan perfilman,” ungkap Ahmad Yusuf lagi.
Menurutnya, biarkan Lembaga Sensor Film (LSF) memainkan peranannya. Ia juga menambahkan, jika sebuah film memang dirasa tidak baik untuk masyarakat, biarlah LSF yang memutuskan hal itu dan selanjutnya melarang peredarannya.
Ia juga mempertanyakan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang melarang BCG. Menurutnya, salah satu anggota LSF berasal dari MUI, namun mengapa anggota LSF tersebut sebelumnya tidak melarang penayangan BCG di bioskop-bioskop.
“Kenapa anggota LSF yang berasal dari MUI tidak mempermasalahkan BCG saat proses penyensoran berlangsung. Seharusnya angota MUI yang ada di LSF itu merepresentasikan institusinya, tapi kenapa saat penyensoran dia diam
saja. Setelah filmnya sudah lolos sensor, MUI protes. Berarti dia tidak mengkomunikasikan hal itu pada institusinya, berarti fungsinya tidak dijalankan dengan baik,” ungkap Ahmad Yusuf.

