08 Sep 2004
Setelah Helena, Karen Juga Cabut dari Indonesian Idol
Asaki.or.id, Setelah Helena, Karen Juga Cabut dari Indonesian Idol
Mundurnya Helena Andrian (20) dari Indonesian Idol (II) masih menyisakan pertanyaan bagi banyak pihak termasuk pendukungnya. Belakangan juga terungkap kalau Karen Pooroe (16) juga memutuskan cabut dari II.
Karen memutuskan tidak menandatangani kontrak karena ingin melanjutkan sekolah. “Kebetulan aku tidak ikut manajemen IP, sudah memilih ditangani manajemen dari keluarga. Keputusan ini sudah aku bicarakan baik-baik dengan pihak Fremantle dan IP dan enggak ada masalah,” katanya saat dihubungi Warta Kota, Selasa (7/9).
Menurutnya, sifat manajemen pasti mengikat dan banyakshow. “Memang untuk kebaikan kita, tapi aku enggak yakin budget show yang diminta IP bisa aku penuhi. Jadi balik lagi, apa kita sreg atau enggak dengan manajemen artis. Lain dengan manajemen keluarga, karir dan sekolah bisa jalan.”
Karen yang kini masih duduk di kelas 2 SMU yakin, IP pasti profesional, maka Fremantle memilihnya untuk menjaga nama baik brand II. “Lewat IP pastinya karir akan naik. Tapi mungkin, Helena enggak sehati dengan IP, jadi milih mundur.”
Tante Karen, penyanyi Lita Zein mencoba ikut bicara. “Tadinya kita kasih kebebasan ke Karen, tapi karena dia masih di bawah umur, tetap didampingi. Tapi kami melihat, jadwalnya di Indonesian Idol aja sudah membuat sekolahnya keteteran. Jadi, Karen memilih jalan lain, konsentrasi ke sekolah dulu, biar tidak hanya jadi penyanyi yang baik, tapi juga pintar.”
Seperti diberitakan, Helena cabut dari II dan mimilih untuk bersolo karir (Warta Kota 6/9). Belakangan diketahui langkah yang diambil Helena itu lantaran dia tidak setuju dengan isi kontrak manajemen yang ditangani PT Indomugi Pratama (IP).
Helena kecewa karena isi kontrak itu berbeda dengan kontrak kerja di awal perjanjian. Yang juga dirasa aneh oleh Helena, Fremantle melarang ke-11 finalis untuk melakukan kegiatan di luar sepengetahuan mereka hingga Desember mendatang. Padahal, baru setelah bulan Desember, akan diumumkan siapa saja dari 11 finalis yang akan dipilih IP dan menandatangani kontrak kerjasama untuk kurun waktu 3 tahun.
Sementara, salah satu finalis yang setuju menandatangani kontrak, Adika, mengaku terima-terima saja, isi lembaran kontrak yang disodorkan kepadanya, kendati ia masih bingung beberapa hal.
“Di satu sisi, aku ini awam soal kontrak kerja. Di sisi lain, aku sudah diyakini pengacara. Mereka (pengacara) cukup mewakili kita kok, saat mengisi dan memperdebatkan soal isi kontrak. Sejauh mana keuntungannya untuk kita,” tutur Adika saat dihubungi, Selasa (7/9) sedang berada di Hotel Park Royal.
Namun, Adika mengaku masih melihat kelemahan di surat kontrak tersebut. “Kelemahannya, IP belum menyediakan jadwal atau rencana tertulis, untuk kita ke depan. Sampai Desember, 11 finalis masih roadshow dengan RCTI. Mungkin, jadwal itu belum sempat digodok IP.”
Adika sendiri sudah menyampaikan ke pihak IP bahwa dirinya bermaksud akan kursus singkat keluar negeri, setelah lulus kuliah di Jurusan Akuntansi, Universitas Atmajaya.
Humas FremantleMedia, Hadi Filino Daeli mencoba meluruskan. Menurut Hadi, dari tahap awal kompetisi II, Fremantle selalu ada lembaran aturan permainan, isinya kewajiban dan hak finalis dan Fremantle.
Memasuki 11 besar, aturan kian terinci: mereka akan dibawa ke mana setelah ini, dan untuk masa depannya, mereka sudah disediakan sarana dan prasarana. “Ke-11 finalis tidak pada option untuk bisa memilih, mereka harus terima, karena sejak awal sudah ada perjanjian tertulis, kita akan kasih mereka apa, mereka harus ikut. Option ada di kita (Fremantle),” katanya. (yus)

