01 Jun 2005
Pernyataan KETUM ASAKI pada Kompas
Asaki.or.id – Jakarta,
Hari Ini Pasokan Listrik Berkurang
Jakarta, Kompas – Pasokan listrik untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali mulai hari Senin (23/5) ini hingga 6 Juni mendatang mengalami penurunan sebesar 80 megawatt hingga 385 megawatt. Kondisi ini akan menyebabkan pengurangan kemampuan PLN untuk memasok listrik kepada pelanggan pada saat beban puncak pukul 17.00 hingga 22.00 sehingga akan terjadi pemadaman listrik secara bergiliran.
Penurunan pasokan listrik tersebut disebabkan BP Offshore North West Java akan melaksanakan penyambungan pipa gas (tie-in) ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang dengan kapasitas 500 megawatt (MW) dan PLTGU Tanjung Priok dengan kapasitas 1.100 MW. Penyambungan pipa itu dilakukan karena BP Offshore North West Java akan menambah pasokan gas untuk kedua pembangkit dari 180 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) menjadi 290-325 MMSCFD.
Kepala Pusat PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa dan Bali Muljo Adji AG hari Minggu di Jakarta mengatakan, kekurangan pasokan listrik saat beban puncak selama pemasangan pipa gas akan bervariasi, tergantung kebutuhan listrik pada saat beban puncak. Jika pelanggan berpartisipasi berhemat saat beban puncak, kekurangan dapat ditekan hingga 80 MW. “Jika pelanggan mengurangi pemakaian listrik, hal itu akan membantu memperkecil kekurangan pasokan listrik. Artinya pemadaman listrik secara bergilir akan dapat dikurangi,” ujarnya.
Menurut Muljo, total kebutuhan listrik di Pulau Jawa-Bali mencapai 14.281 MW dan kapasitas terpasang pembangkit yang ada mencapai 18.500 MW. Namun, sebagian dari kapasitas yang ada tidak dapat digunakan karena ada pemeliharaan, cadangan, dan pengurangan kemampuan pembangkit.
PLN, lanjutnya, telah berupaya mengganti bahan gas alam dengan bahan bakar minyak. Namun, kemampuan pembangkit tetap turun lebih dari 50 persen dibandingkan dengan memakai gas alam.
Pihak PLN, kata Muljo menambahkan, juga akan mengatur jadwal ulang pemeliharaan pembangkit setelah pemasangan pipa tersebut selesai. Menurut dia, PLN juga telah bernegosiasi dengan pelanggan besar agar yang bersangkutan bersedia memakai pembangkit listrik sendiri saat beban puncak.
Ia menambahkan, PLN akan mengurangi pemakaian listrik sebanyak 50 persen pada gardu induk dan mengimbau kepada seluruh karyawan serta pelanggan untuk mengurangi pemakaian listrik. Imbauan itu akan memperlihatkan adanya semangat berhemat dalam mengatasi masalah krisis pasokan listrik secara bersama-sama.
Harapan masyarakat
Direktur Korporasi dan Hukum PT Semen Cibinong Tbk Jannus O Hutapea mengatakan, Semen Cibinong sangat bergantung pada pasokan listrik dari PLN untuk memproduksi semennya. “Sebagai industri strategis pembangunan, kami mengharap PLN menjamin pasokan listrik secara terus-menerus karena kami tidak memiliki alternatif energi lainnya saat ini,” katanya.
Dia khawatir berkurangnya pasokan listrik dari PLN membuat produksi semen terganggu. “Apabila produksi terganggu, maka dikhawatirkan kebutuhan semen secara nasional dapat berkurang sehingga pertumbuhan konstruksi bisa menurun,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia Achmad Widjaja mengutarakan, berkurangnya pasokan listrik tidak berpengaruh banyak terhadap kelompok industri keramik karena 95 persen hingga 99 persen industri keramik yang ada sudah memiliki genset.
“Lagi pula di industri keramik listrik tidak terlalu berperan penting. Jadi kalau pasokannya dikurangi, kami rasa tidak akan terlalu berpengaruh banyak bagi kami,” ujarnya.
Menurut Widjaja, energi dominan yang diperlukan bagi industri keramik adalah gas. Dalam produksi keramik, gas memegang peranan 25 persen untuk proses pembakaran dalam tungku pembakar, sementara listrik hanya berfungsi untuk menggerakkan motor atau instrumen pengontrol lainnya, seperti komputer.
Informasi tentang pengurangan pasokan listrik ini, menurut Widjaja, memang sudah diterima beberapa pengusaha. Namun, sejauh ini kelompok industri keramik juga belum punya rencana apa-apa sebagai antisipasi jika pasokan listrik berkurang atau bahkan mati sama sekali lebih dari 24 jam.
Warga sesalkan
Sejumlah warga, yang dimintai tanggapannya soal rencana PLN ini, kemarin menyesalkan adanya pengurangan daya listrik secara serentak dan kemungkinan listrik padam mulai 23 Mei ini. Pemadaman yang akan dilakukan PLN pada pukul 17.00 hingga 22.00 dinilai dapat memberikan dampak besar terhadap keamanan, bisnis, dan pendidikan.
Dodi Safari (25), warga Jakarta Selatan, berpendapat, dia masih bisa mengerti kalau pemadaman listrik dilakukan secara bergiliran, bukan serentak. “Kalau dilakukan serentak dan pada malam hari, Jakarta bisa gelap gulita. Ini akan menjadi sasaran empuk bagi kawanan perampok,” papar Dodi.
Soal keamanan, lanjutnya, belakangan ini dalam kondisi listrik menyala normal saja sudah rawan perampokan, bagaimana kalau listrik padam secara keseluruhan.
Christian Raul, warga Ciledug, dan Ny Hamid (57), warga Palmerah, mempertanyakan apakah PLN juga akan bertanggung jawab jika saat pemadaman listrik nanti terjadi aksi perampokan yang akhir-akhir ini marak terjadi di Jakarta?
“Pemadaman hanya sehari saja tidak masalah, tetapi kalau sampai berhari-hari listrik padam pada malam hari akan membuat petugas keamanan berjaga ekstra ketat. Artinya, harus ada insentif bagi petugas keamanan,” papar Raul.
Selain keamanan, Dodi, Raul, dan Ny Hamid juga menyoroti waktu pengurangan daya dan kemungkinan pemadaman listrik yang tidak tepat.
“Sekarang ini anak sekolah sedang menghadapi ujian akhir. Jam lima sampai sepuluh malam itu waktu belajar mereka. Apakah mereka harus dikorbankan untuk belajar di bawah cahaya lilin?” kata Raul menyesalkan.
Sekretaris Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD DKI Jakarta Fathi R Shidiq mengatakan, pemadaman listrik serentak akan memberikan dampak besar bagi warga. “Entah itu dari segi bisnis, pendidikan, ataupun keamanan,” katanya. (PIN/(EGI/TAV/BOY/joe)

