Berita Manajemen

21 Jul 2005

Sumber Air Bersih Di Indonesia Tinggal 25%

Asaki.or.id – Jakarta,  Ketersediaan sumber air bersih yang layak konsumsi di Indonesia semakin terbatas akibat aktivitas pembangunan dan perambahan hutan secara serampangan sehingga membahayakan kelangsungan hidup masyarakat di masa mendatang. 

“Sumber air bersih yang layak konsumsi itu hanya sekitar 25 persen dari 5.860 sungai yang tersebar di Indonesia. Dan itu pun yang tersisa hanya di kawasan Indonesia timur,” ujar Ketua Rona Lingkungan Universitas Riau, Ariful Amri di Pekanbaru, Kamis. 

Menurut dia, sungai-sungai di Sumatera, Jawa dan Kalimantan terkontaminasi zat besi yang berasal dari pengisikisan lapisan tanah maupun aktivitas pertambangan dan kegiatan industri lainnya. 

Kebanyakan bentuk fisik air sungai tersebut menipu dengan kejernihannya namun bila diukur derajat keasamannya (PH) sangat rendah berkisar antara tiga atau empat. 

Air sungai kelihatan jernih akibat sulfinasi dari sejumlah zat kimia berupa Ni, Fe, Zi, Mn dan zat lainya dari pengikisanlapisan batu bara.”Air tersebut jernih namun memilii rasa sepet,” ujar Ariful. 

Bagi orang dewasa mengosumsi air yang kurang memenuhi standar kesehatan tersebut dalam jangka waktu pendek tidak akan berpengaruh terlalu besar. 

Namun bagi anak-anak dan lansia, dalam waktu panjang akan mengakibatkan gangguan syaraf dan motorik akibat keracunan zat besi. 

“Akibatnya baru akan dirasakan 20 hingga 40 tahun mendatang, disaat bayi dan anak-anak yang ada saat ini telah menjadi pemimpin negeri,” ujarnya.

Berita Manajemen

20 Jul 2005

Industri Keramik termasuk dalam 32 sektor prioritas agar diberikan kredit oleh Bank

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA: Menteri Perindustrian meminta kalangan perbankan nasional untuk memberikan dukungan pendanaan terhadap 32 sektor industri prioritas yang mempunyai prospek pasar baik dan banyak menyerap tenaga kerja. Menperin Andung A. Nitimihardja mengatakan kebijakan industri yang telah diselesaikan oleh departemen tersebut, dapat dijadikan acuan oleh kalangan perbankan swasta dan milik negara. “Industrial policy merupakan salah satu upaya dari Depperin untuk memberikan gambaran sektor mana saja yang menjadi prioritas, dalam jangka menengah dan panjang, sehingga diharapkan perbankan nasional tidak over prudent dalam mengucurkan kredit,” ujarnya pada sosialisasi kebijakan industri bagi kalangan perbankan nasional. Depperin telah membuat satu rencana kerja yang akan dilakukan dalam jangka menengah yang terdiri dari 10 sektor dan jangka panjang 22 sektor, sehingga diharapkan pada 2025, ke-32 sektor industri prioritas tersebut dapat tumbuh bersama-sama. Sektor yang dikembangkan mencakup industri inti yang terdiri dari industri pengolahan kakao dan cokelat, pengolahan buah, kelapa, kopi, gula, tembakau, pengolahan hasil laut, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, turunan minyak kelapa sawit, pengolahan kayu, pengolahan karet dan barang karet, pulp dan kertas, mesin listrik dan perlatan listrik, serta petrokimia. Di sektor industri penunjang mencakup industri baja, mesin dan peralatan pabrik termasuk konstruksi dan pertambangan, alat atau mesin pertanian, semen, elektronik konsumsi dan industri keramik. Khusus sektor otomotif, perkapalan, kedirgantaraan, perkertaapian dan telematika, merupakan diprioritaskan untuk dikembangkan menjadi industri andalan masa depan. Di dalam pengembangannya, sektor industri kecil dan menengah (IKM) juga merupakan sektor prioritas di antaranya adalah IKM kerajinan dan barang seni, batu mulia dan perhiasan, garam rakyat, gerabah dan keramik hias, minyak atsiri dan makanan ringan. Target pertumbuhan Andung mengatakan Depperin telah membuat langkah dan target pertumbuhan, di mana untuk sektor industri diharapkan mencapai 8,6% per tahun, sehingga diharapkan kontribusi industri terhadap perekonomian bisa mencapai 26% pada 2009 dan meningkat terus pada periode 2010-2025 yaitu mencapai 35% hingga 40%. Dia mengakui untuk mencapai target tersebut dibutuhkan investasi yang sangat besar, pihaknya memperkirakan sekitar Rp40 triliun-Rp50 triliun. Sekjen Depperin Agus Tjahajana mengatakan dalam pertemuan dengan perbankan nasional tersebut tidak diikuti dengan penandatanganan kesepakatan apapun. Pertemuan itu hanya bertujuan a.l. untuk menjelaskan kebijakan yang ditempuh pemerintah di sektor industri sehingga terdapat persamaan persepsi. Menurut dia, Depperin telah memberikan informasi yang dibutuhkan kalangan perbankan, sedangkan keputusan penyaluran kredit sepenuhnya merupakan hubungan bisnis antara perbankan dan dunia usaha. “Peran kami hanya sebatas sebagai fasilitator dan memberikan informasi yang sejelas-jelasnya. Kami akan selalu terbuka untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan oleh dunia usaha maupun perbankan, tapi tidak akan langsung ikut campur dalam proses pengucuran kredit,” tuturnya. Agus mengatakan selama ini, banyak pengusaha yang menanyakan langkah dan kebijakan apa yang akan dilakukan oleh Departemen Perindustrian. “Sekarang setelah semuanya terurai jelas, maka diharapkan seluruh stakeholder dapat mendukung pelaksanaannya.”

Berita Properti

20 Jul 2005

Industri Bangunan dan Program Sejuta Rumah

Asaki.or.id – Jakarta, Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah tempat tinggal (papan). Yang lain adalah sandang dan pangan. Tiga hal ini sering disebut kebutuhan primer artinya kebutuhan yang harus ada agar kehidupan manusia bisa berlangsung dan berkembang. Untuk memenuhi kebutuhan papan, khususnya bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah, pemerintah telah mencetuskan Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah pada 2003 lalu. Kebijakan ini merupakan komitmen pemerintah untuk membangun perumahan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rumah (MBR). Rumah yang akan dibangun adalah tipe Rumah Sehat Sederhana (RSH). Program tersebut tentu membutuhkan kesiapan sejumlah pihak terkait, seperti pengembang (developer), pemerintah daerah, serta industri bahan bangunan. Di samping menuntut kesiapan, adanya program tersebut tentu juga membawa berkah tersendiri pihak-pihak itu, khususnya industri bahan bangunan. Lalu sejauh manakah kesiapan industri bangunan untuk melaksanakan program pemerintah itu? Sekretaris Jenderal Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Zulfikar Lukman, kepada Republika mengatakan, dengan adanya program sejuta rumah, maka industri bahan bangunan, khususnya keramik, menjadi semakin prospektif. Namun pemerintah harus konsisten dan segera melaksanakan program itu. Menurut Zulfikar, angota ASAKI sudah siap untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan rumah sederhana bagi masyarakat menengah ke bawah. “Dari sisi pasokan, kami siap untuk mendukung program itu,” katanya beberapa waktu lalu. Zulfikar menandaskan, untuk melaksanakan program itu dibutuhkan kesiapan dalam beberapa hal, seperti lahan atau tanah, anggaran dan material bangunan. Hal penting lainnya, bagaimana menjadikan RSH itu bisa terjangkau oleh kalangan masyarakat bawah yang benar-benar membutuhkan.”Memang tidak mungkin gratis. Tapi bagaimana masyarakat bawah bisa tetap membelinya sesuai dengan kemampuan keuangan mereka,” ujarnya. Zulfikar menjelaskan, saat ini anggota ASAKI berjumlah 60 perusahaan. Mereka terbagi dalam tiga kategori yaitu lantai, ubin, dan genteng; saniter; dan table ware. Pasar terbesarnya selama ini adalah proyek perumahan dan renovasi. Tapi setelah terjadi krisis moneter dan ekonomi tahun 1997, pasar yang digarap ASAKI adalah proyek-proyek renovasi. Sedangkan proyek baru jarang sekali digarap karena jumlahnya yang sangat sedikit. “Karenanya, jika Program Sejuta Rumah ini benar-benar direalisasikan oleh pemerintah, maka akan memberikan kontribusi besar bagi industri keramik. Kami sudah siap untuk itu, tinggal pemerintah bagaimana,” ungkapnya. Hal senada diungkapkan General Manager PT Indalex selaku produsen dan kontraktor aluminium di bawah Grup Maspion, Frans Karamoy. Menurutnya, industri bahan bangunan akan semakin berkembang jika Program Sejuta Rumah benar-benar dilaksanakan. Program itu, katanya, juga akan semakin membuat sektor properti berkembang dengan pesat. “Semua sektor properti kini berkembang luar biasa, termasuk konsultan dan kontraktornya. Begitu banyak proyek yang sekarang dilakukan. Kalau Program Sejuta Rumah dilaksanakan, maka properti akan semakin pesat lagi,” katanya. Saat ini saja, lanjut Frans, hampir semua industri bangunan seperti besi, semen, keramik, dan granit, mengalami kekurangan stok akibat banyaknya permintaan. Namun Frans menegaskan, industri bangunan siap untuk melaksanakan program pemerintah itu. Masalahnya sekarang justru tergantung pemerintah. “Pemerintah, khususnya pemerintah daerah, harus benar-benar mendukung program ini. Misalnya memberikan kemudahan dalam proses perizinan. Artinya perizinan jangan dipersulit tapi justru dipermudah. Misalnya, izin kelayakan, dan IPAL,” imbuhnya. Pemerintah, lanjut Frans, juga harus transparan. Khususnya dalam penentuan harga tanah dan bangunan yang masuk akal. Yang terjadi selama ini, penetuan harga perumahan tidak pernah dilakukan secara terbuka. “Yang penting adalah harga rumahnya kompetitif dan terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Proses penentuannya haruslah transparan,” jelasnya. Pro poor policy Menteri Perumahan Rakyat, Mohammad Yusuf Asy’ari, dalam sambutan tertulis pada dialog terbuka REI Expo 2005 dan Indo Build Tech, di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan pemerintahan SBY-JK pro poor (berpihak pada masyarakat miskin). Salah satunya adalah mendukung Program Sejuta Rumah. Selain itu, program tersebut juga merupakan komitmen dan political will pemerintah dalam pembangunan perumahan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Beberapa kebijakan lainnya, kata Yusuf, antara lain dibentuknya kementerian perumahan rakyat, ditandatanganinya PP dan Perpres yang mengatur tentang secondary mortgage fasility (SMF), dan terbitnya PP Nomor 80 tahun 1999 yang mendorong disiapkannya bank tanah. Juga Permenpera Nomor 1 tahun 2005 tentang kenaikan batas maksimum harga RSH dan kenaikan subsidi uang muka, serta direncanakannya program kredit mikro perumahan lengkap dengan program penjaminan kreditnya. “Beberapa kebijakan di atas merupakan bukti komitmen dan political will pemerintah untuk suksesnya Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah. Untuk menunjang suksesnya program ini, maka diperlukan keuletan dan kesabaran para pelaku bisnis juga semangat kejuangan untuk menolong rakyat dari belenggu kemiskinan yang menjeratnya,” katanya. n jar Perlu Audit Kelayakan RSH Meskipun kategorinya rumah sederhana, kelayakan dan kualitas RSH yang akan dibangun oleh pemerintah dalam Program Sejuta Rumah harus tetap diperhatikan. Karena itu diperlukan audit kelayakan RSH. Menurut General Manager PT Indalex, Frans Karamoy, audit kelayakan RSH itu bisa melibatkan sejumlah pihak terkait seperti dinas lingkungan hidup, dinas kesehatan, dan instansi terkait lainnya. Selama ini, ujarnya, kualitas hidup di RSH seringkali diabaikan. “Kualitas bangunannya terkadang jelek. Misalnya, temboknya tidak cukup kuat. Belum lagi fasilitas air bersih yang tidak diperhatikan,” ujarnya. Selain itu, lanjut Frans, juga perlu diperhatikan akses masuk ke kompleks perumahan RSH. Yang sering ditemui, jalan masuk ke kompleks RSH sulit dijangkau dengan fasilitas transportasi umum. Belum lagi kualitas jalannya yang tidak bagus. Hal-hal yang semacam inilah yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan pengembang. “Meskipun rumah sederhana, kualitas hidup di dalamnya harus tetap diperhatikan dan dijaga. Ini butuh perhatian serius dari pemerintah,” ungkapnya.Frans menegaskan, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan terkait dengan program sejuta rumah, yaitu pemerintah membuat kebijakan, harga yang masuk akal, dan transparansi agar masyarakat membeli dengan suka rela. Pemerintah juga harus mengawasi pembelian RSH oleh masyarakat. Ini penting agar masyarakat yang membeli benar-benar yang membutuhkan, sehingga program ini tepat sasaran. Sebab, kata dia, bisa saja orang kaya memborong rumah sederhana karena harganya murah. Lalu rumah itu dikontrakkan kepada orang lain. ”Jadi tujuannya untuk investasi. Hal yang semacam inilah yang perlu diawasi oleh pemerintah sehingga Program Sejuta Rumah bisa tepat sasaran,” tandas Frans. Prinsipnya, harus ada seleksi calon pembeli RSH. Mereka, kata Frans, juga harus benar-benar konsisten untuk menempati rumah sederhana yang telah dibelinya. Sebab bisa saja terjadi orang membeli RSH tapi tidak ditempati dan dibiarkan kosong dalam jangka waktu lalu. Sementara masih banyak masyarakat lainnya yang membutuhkan rumah itu. “Kalau perlu pemerintah membuat kebijakan jika rumah dibiarkan kosong dalam jangka waktu tertentu, maka akan ditarik lagi. Ini untuk menjamin aspek pemerataan. Sebab yang butuh rumah sederhana kan jumlahnya sangat banyak,” kata Frans.

Berita Properti

18 Jul 2005

ASAKI Himbau MENKEU

Asaki.or.id – Jakarta,

JAKARTA, 15/7 – IMBAU DEPKEU. Ketua umum bersama Ketua bidang Hubungan Pemerintahan Asosiasi Keramik Indonesia (Asaki), Achmad Widjaja (kanan) dan Indra Kangean, membahas surat usulan Menteri Perdagangan/19 Mei/05 tentang penetapan bea masuk safeguard (pengamanan perdagangan) terhadap impor keramik yang masih tertahan di Departemen Keuangan, di Jakarta, Jumat (15/7). Asaki mengimbau pemerintah (departemen Keuangan) untuk segera menetapkan safeguard agar industri keramik dan pendukungnya tidak terpuruk akibat lonjakan keramik impor. FOTO ANTARA/Audy Alwi/ss/dk/05
Berita Daerah

12 Jul 2005

INPRES No. 10 / 2005 Ttg Penghematan Energi

 

LANGKAH HEMAT ENERGI

LANGKAH HEMAT ENERGI

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA : Beberapa pemerintah daerah dan instansi pemerintah menindaklanjuti Instruksi Presiden (Inpres) No 10/2005 tentang Penghematan Energi dengan memadamkan lampu dan aliran listrik di ruangan yang tidak terpakai.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X memerintahkan penggantian sakelar lampu di semua ruang perkantoran di lingkungan Pemprov DIY.

”Kami akan menggunakan sakelar lampu yang menyatu dengan kunci atau kartu, sehingga ketika ruangan tersebut ditinggalkan, otomatis aliran listrik ke ruangan itu terputus,” kata Sultan seraya berharap dapat menghemat anggaran pemprov hingga 10%.

Bagi Wali Kota Jakarta Utara Effendi Anas, mengatur pemakaian listrik di kompleks perkantoran juga menjadi prioritas. Dia membentuk satuan tugas yang mematikan lampu dan penyejuk ruangan usai jam kerja pukul 16.00 WIB.

Di luar lingkungan kantor, Effendi juga mengendalikan penyalaan lampu hias di sepanjang jalan di Jakarta Utara dengan memotong kabel listrik lampu hias agar bisa mati.

Langkah serupa dilakukan pula oleh Pemprov Jabar, yaitu mematikan semua lampu taman di halaman kantor mulai pukul 21.00 untuk menekan tagihan listrik sebesar Rp110 juta per bulan.

Selain itu, menurut Gubernur Jabar Danny Setiawan, pihaknya akan meninjau kembali jatah BBM untuk mobil dinas pejabat. Kini di lingkungan Pemprov Jabar terdapat 148 mobil dinas. Setiap mobil mendapat jatah BBM 200 liter per bulan.

Di Kantor Pemprov Riau hal pertama yang dilakukan adalah mematikan semua komputer dan lampu ruangan usai jam kantor.

Di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) juga terjadi pemadaman lampu di koridor kiri dan kanan gedung utama. Menurut penerima tamu,

hal serupa dilakukan juga di kantin DESDM, hanya televisi dan kipas angin yang tetap hidup.

Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso memprioritaskan pengurangan pemakaian lift. Pagi hari, kedelapan lift dioperasikan seperti biasa. Setelah itu hanya empat lift yang beroperasi dan malam hari satu lift.

Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan pengurangan jumlah kendaraan dalam konvoi pengamanan presiden dan wapres. Meski di negara mana pun pengamanan terhadap presiden dan wapres dilakukan secara ketat, itu bukan merupakan bagian dari kenyamanan, melainkan pengamanan