Berita Manajemen

20 Jul 2005

Industri Keramik termasuk dalam 32 sektor prioritas agar diberikan kredit oleh Bank

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA: Menteri Perindustrian meminta kalangan perbankan nasional untuk memberikan dukungan pendanaan terhadap 32 sektor industri prioritas yang mempunyai prospek pasar baik dan banyak menyerap tenaga kerja. Menperin Andung A. Nitimihardja mengatakan kebijakan industri yang telah diselesaikan oleh departemen tersebut, dapat dijadikan acuan oleh kalangan perbankan swasta dan milik negara. “Industrial policy merupakan salah satu upaya dari Depperin untuk memberikan gambaran sektor mana saja yang menjadi prioritas, dalam jangka menengah dan panjang, sehingga diharapkan perbankan nasional tidak over prudent dalam mengucurkan kredit,” ujarnya pada sosialisasi kebijakan industri bagi kalangan perbankan nasional. Depperin telah membuat satu rencana kerja yang akan dilakukan dalam jangka menengah yang terdiri dari 10 sektor dan jangka panjang 22 sektor, sehingga diharapkan pada 2025, ke-32 sektor industri prioritas tersebut dapat tumbuh bersama-sama. Sektor yang dikembangkan mencakup industri inti yang terdiri dari industri pengolahan kakao dan cokelat, pengolahan buah, kelapa, kopi, gula, tembakau, pengolahan hasil laut, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, turunan minyak kelapa sawit, pengolahan kayu, pengolahan karet dan barang karet, pulp dan kertas, mesin listrik dan perlatan listrik, serta petrokimia. Di sektor industri penunjang mencakup industri baja, mesin dan peralatan pabrik termasuk konstruksi dan pertambangan, alat atau mesin pertanian, semen, elektronik konsumsi dan industri keramik. Khusus sektor otomotif, perkapalan, kedirgantaraan, perkertaapian dan telematika, merupakan diprioritaskan untuk dikembangkan menjadi industri andalan masa depan. Di dalam pengembangannya, sektor industri kecil dan menengah (IKM) juga merupakan sektor prioritas di antaranya adalah IKM kerajinan dan barang seni, batu mulia dan perhiasan, garam rakyat, gerabah dan keramik hias, minyak atsiri dan makanan ringan. Target pertumbuhan Andung mengatakan Depperin telah membuat langkah dan target pertumbuhan, di mana untuk sektor industri diharapkan mencapai 8,6% per tahun, sehingga diharapkan kontribusi industri terhadap perekonomian bisa mencapai 26% pada 2009 dan meningkat terus pada periode 2010-2025 yaitu mencapai 35% hingga 40%. Dia mengakui untuk mencapai target tersebut dibutuhkan investasi yang sangat besar, pihaknya memperkirakan sekitar Rp40 triliun-Rp50 triliun. Sekjen Depperin Agus Tjahajana mengatakan dalam pertemuan dengan perbankan nasional tersebut tidak diikuti dengan penandatanganan kesepakatan apapun. Pertemuan itu hanya bertujuan a.l. untuk menjelaskan kebijakan yang ditempuh pemerintah di sektor industri sehingga terdapat persamaan persepsi. Menurut dia, Depperin telah memberikan informasi yang dibutuhkan kalangan perbankan, sedangkan keputusan penyaluran kredit sepenuhnya merupakan hubungan bisnis antara perbankan dan dunia usaha. “Peran kami hanya sebatas sebagai fasilitator dan memberikan informasi yang sejelas-jelasnya. Kami akan selalu terbuka untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan oleh dunia usaha maupun perbankan, tapi tidak akan langsung ikut campur dalam proses pengucuran kredit,” tuturnya. Agus mengatakan selama ini, banyak pengusaha yang menanyakan langkah dan kebijakan apa yang akan dilakukan oleh Departemen Perindustrian. “Sekarang setelah semuanya terurai jelas, maka diharapkan seluruh stakeholder dapat mendukung pelaksanaannya.”

Comments are closed.