Berita Properti

06 Jul 2005

Kenaikan Tarif Tol

Asaki.or.id – Jakarta,

MENTERI PU: KENAIKAN TOL SEBESAR 15 PERSEN KEMUNGKINAN TAHUN INI
 
Informasi yang disajikan dalam situs ini hanya untuk pengguna akhir (end-user). Menyiarkannya kembali dalam bentuk cetak, elektronik dan lain-lain tidak diperkenankan, tanpa izin tertulis dari LKBN ANTARA.
 
Jakarta (ANTARA News) – Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto mengatakan, pemerintah sedang mempersiapkan kemungkinan kenaikan tarif jalan tol (untuk tol-tol lama) agar dapat diberlakukan pada tahun ini dengan kenaikan berkisar antara 15 persen.

“Kita harapkan tahun ini juga (kenaikan tarif tol ). Mungkin sekitar 15 persen,” kata menteri saat menghadiri peluncuran Standar Akuntansi Pemerintahan di Istana Wapres Jakarta, Rabu.

Menurut Joko Kirmanto, pemerintah saat ini sedang mengkaji dan menguji terus kemungkinan kenaikan tarif tol tersebut termasuk berapa nilai kenaikannya.

Menurut Joko, sesuai undang-undang tentang jalan raya memang para pengelola jalan tol bisa mendapatkan kenaikan tarif tol setiap dua tahun sebesar tingkat inflasi untuk daerah masing-masing.

Sementara, kenaikan tarif tol terakhir dilakukan Juni 2003, sehingga rencana pengajuan kenaikan tarif tersebut sudah memenuhi rumusan undang-undang tersebut.

Kenaikan tarif tol tersebut, tambahnya hanya akan diberlakukan untuk tol-tol yang sudah beroperasi lama sedangkan untuk tol baru adalah tol Cipularang dan Ulujami-Serpong.

Menurut menteri, untuk ruas tol baru seperti Cipularang akan ditetapkan tarifnya sebesar Rp355 per kilo meter.

“Untuk Cipularang Rencananya berkisar Rp355 per kilo meter dan nanti akan mulai berlaku pada saat dibuka Presiden Yudhoyono 12 Juli 2005.”

Ketika ditanya mengenai masih seringnya terjadi kemacetan di jalan Tol, Joko Kirmanto mengatakan bahwa kemacetan tersebut terjadi karena memang jumlah jalan di Indonesai masih di bawah perbandingan luas kota.

“Jadi panjang jalan dibagi luas kota itu ada perbandingan tersendiri dan di Jakarta ini masih rendah. Sehingga bagaimanapun juga masih akan tetap macet,” katanya.
Menurut Joko, hal itu bukan karena masalah jalan tolnya, tetapi karena memang panjang jalannya masih kurang . “Mestinya yang harus dibandingkan itu adalah adanya jalan tol dan jika tidak ada jalan tol.”(*)

Berita Manajemen

06 Jul 2005

BI Rate Dipatok 8,5%

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (Media): Bank Indonesia (BI) menetapkan besarnya BI Rate untuk pertama kalinya sebesar 8,5% untuk tiga bulan mendatang. Meski demikian, besarnya BI Rate dapat disesuaikan sewaktu-waktu tanpa menunggu berakhirnya triwulan III 2005. Penetapan BI Rate dilakukan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin. BI Rate merupakan kebijakan BI untuk memberikan kerangka target inflasi (inflation targeting framework/ITF) yang menjadi arah besarnya suku bunga dalam tiga bulan ke depan. BI Rate akan menjadi acuan bagi pelaku pasar dan investor yang ikut dalam lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dalam siaran pers BI yang diterima Media kemarin, Dewan Gubernur BI memandang penetapan suku bunga itu dapat mengendalikan tingkat inflasi ke arah sasaran inflasi jangka menengah, sekaligus sangat kondusif untuk memelihara momentum pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dewasa ini. “Suku bunga itu akan berlaku selama triwulan III 2005, namun tanpa menutup kemungkinan dilakukannya penyesuaian pada bulan-bulan mendatang, sejalan perkembangan perekonomian dan kondisi moneter secara keseluruhan,” kata Direktur Direktorat Perencanaan Strategi dan Hubungan Masyarakat BI Halim Alamsyah. Mempertimbangkan perkiraan makroekonomi dan inflasi ke depan, kebijakan moneter yang cenderung ketat masih akan dilanjutkan. Mengenai perkembangan ekonomi yang terjadi dalam triwulan II 2005, RDG memandang, perkembangan ekonomi Indonesia tetap tumbuh tinggi yang diikuti pola ekspansi ekonomi dengan peran investasi yang semakin besar. Hal ini cukup menggembirakan meskipun ekonomi global tumbuh melambat dan diliputi ketidakpastian yang tinggi. “Produk domestik bruto (PDB) triwulan II 2005 diperkirakan tumbuh sesuai prediksi, yakni sebesar 5,5% hingga 6,0% year on year (tahun ke tahun),” ungkapnya. Dari sisi permintaan, ekspansi ekonomi masih didukung investasi yang tumbuh relatif tinggi, yakni sekitar 15%, dalam triwulan II 2005. Peningkatan investasi ini telah mendorong meningkatnya impor, terutama untuk impor bahan baku dan barang. Sedangkan ekspor masih tumbuh terbatas dan lebih bertumpu pada komoditas berbasis sumber daya alam dan produk industri yang terkait dengan hasil pertanian. Namun, terdapat indikasi awal adanya peningkatan peran ekspor produk industri manufaktur. Dengan melihat perkembangan itu, kinerja transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit lebih cepat daripada perkiraan semula. Kinerja neraca modal tercatat defisit, terutama karena tingginya pembayaran utang luar negeri swasta, aliran keluar investasi portofolio, dan belum membaiknya aliran modal masuk, khususnya investasi asing langsung. Secara keseluruhan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mengalami tekanan tersebut juga tercermin pada meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Inflasi tinggi BI juga menyatakan, inflasi IHK masih tetap terkendali meskipun berada pada tingkat yang relatif tinggi, yakni mencapai 7,42% (year on year) pada akhir Juni 2005. Secara fundamental, tingginya inflasi disebabkan masih tingginya ekspektasi inflasi terkait dengan kebijakan administered prices (kebijakan pengaturan harga) dan nilai tukar yang cenderung melemah. Faktor eksternal, khususnya melemahnya nilai tukar, memberikan tekanan terhadap inflasi, namun dengan tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya. Inflasi administered pada triwulan II 2005 masih cukup tinggi, tercatat 10,45%, terutama dari kenaikan tarif rumah sakit dan tarif angkutan (taksi). Inflasi bahan makanan sebesar 5,51%, yang cenderung melambat karena panen raya. Kebijakan moneter dan kebijakan pengendalian inflasi telah mampu meminimalkan dampak lanjutan kenaikan bahan bakar minyak dan menurunkan ekspektasi inflasi walaupun masih pada tingkat yang relatif tinggi. “Ke depan, prospek ekonomi dalam triwulan mendatang dan keseluruhan tahun 2005 tetap menggembirakan. PDB 2005 diperkirakan akan tetap tinggi dan tumbuh sekitar 5,9%,” kata Halim.

Berita Manajemen

05 Jul 2005

Laju Inflasi Semester I tahun 2005

Asaki.or.id – Jakarta, Laju inflasi tahun kalender Januari 2005 hingga Juni 2005 sebesar 4,28% sedangkan tingkat inflasi Year On Year ( Juni 2005 terhadap Juni 2004 ) adalah sebesar 7,42%.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa.

Berita Daerah

05 Jul 2005

Pasokan Premium Dikurangi

Asaki.or.id – Jakarta, Pasokan Premium Dibatasi JAKARTA, Investor Daily Online Pertamina akan membatasi pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium secara berkala guna mengatasi penyusutan kuota premium tahun 2005 yang saat ini tinggal 5,978 juta kilo liter (KL). Menurut APBN 2005, kuota premium tahun 2005 mencapai 15,173 juta KL. Namun, hingga akhir Juni 2005, jumlah yang sudah terpakai sudah mencapai 9,194 juta KL atau 60,6% dari total kuota. Sisa 5,9 juta KL tersebut dinilai tidak mampu mengatasi kebutuhan premium hingga akhir tahun, karena konsumsi premium pada tahun ini akan membengkak 4,02 juta KL atau 32% di atas kuota. “Jumlah konsumsi premium hingga akhir Juni telah melebihi 10,6% dari jumlah premium yang seharusnya dikonsumsi masyarakat,” jelas Kepala Hupmas PT Pertamina (persero) Abadi Poernomo kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (4/7). Dengan kondisi kritis seperti ini, Abadi menjelaskan, pemerintah harus menambah dana subsidi premium sekitar Rp 3 triliun untuk menormalkan kebutuhan. Angka tersebut menurut dia diperoleh setelah menghitung selisih harga premium internasional dan nasional yang mencapai Rp 1.400 per liter. Saat ini, harga premium nasional Rp 2.200 per liter. Abadi mengatakan, untuk mengatasi kekurangan kuota, Pertamina akan memperketat pendistribusian BBM dengan cara mengurangi distribusi premium dari jumlah biasanya. Kuota ideal konsumsi premium adalah 1,27 juta KL per bulan, sehingga konsumsi dalam setengah tahun diperkirakan 7,586 juta KL. “Pengurangan distribusi harus ditempuh Pertamina agar kuota BBM bisa mencukupi hingga akhir tahun,” katanya. Ia menambahkan, peningkatan pemakaian premium pada kahir tahun disebabkan adanya momen Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Abadi mengatakan, dalam APBN-P tahun 2005, Pertamina sebenarnya sudah mengajukan tambahan kuota, tapi tidak disepakati pemerintah dan DPR. Hal itu terjadi karena akan terjadi pembengkakkan nilai subsidi. Menutrut dia, dengan asumsi kuota BBM tahun 2005 sebesar 59,634 juta KL dan harga minyak mentah US$ 60 per barel, subsidi BBM akan membengkak menjadi Rp 100 triliun. Jumlah tersebut jauh dari nilai subsidi yang disepakati sebesar Rp 76,5 triliun dengan asumsi harga minyak US$ 45 per barel. “Bayangkan, nilai subsidi BBM Rp 100 triliun itu mencapai 20% dari APBN tahun 2005 yang mencapai kisaran Rp 450 triliun,” kata dia. Naikkan Kuota BBM Untuk mengatasi pembengkakkan kuota BBM, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro akan meminta persetujuan DPR untuk menaikkan kuota BBM hingga di atas 59,69 juta KL. Permintaan tersebut akan disampaikan pemerintah pada pembahasan APBN-P kedua bulan Agustus mendatang. “Tampaknya kuota BBM nasional memang akan lebih dari kuota yang telah ditetapkan saat ini, tapi tentunya untuk menaikkan kuota harus dibicarakan terlebih dahulu secara interdepartemen dan Pertamina untuk mengetahui secara pasti sejauh mana peningkatan kebutuhan BBM itu,” kata Purnomo usai menghadiri rapat panitia khusus (Pansus) RUU Mineral Batubara di Gedung DPR RI Jakarta, Senin (4/7). Purnomo mengatakan, dari laporan sementara Pertamina, telah terjadi peningkatan kebutuhan BBM yang melebihi kuota yang ada. Namun, pemerintah meminta agar Pertamina berjuang keras untuk bisa mempertahankan pendistribusian BBM sesuai dengan kuota yang ada dalam APBN-P sebesar 59,69 juta KL. Purnomo mengatakan, jika nantinya pendistribusian BBM itu akan melebihi kuota, Pertamina harus menanggung atau membayar sendiri volume kuota yang berlebih itu. “Inilah nanti yang bisa memunculkan kebijakan korporat bagaimana caranya bisa mengerem tingkat konsumsi yang sudah cukup besar itu,” katanya. Pada kesempatan itu, Purnomo memaklumi upaya pengurangan kuota BBM yang dilakukan Pertamina pada pekan lalu. Menurutnya, di satu sisi kebutuhan BBM memang sangat luar biasa, tapi di sisi lain harus ada pembatasan yang tentunya bisa memberikan dampak bagi perekonomian nasional. “Jadi pilihannya memang tidak banyak,” katanya. Purnomo juga mengatakan, pemerintah telah meminta pada Pertamina agar pasokan BBM untuk listrik, terutama untuk pembangkit listrik di Gresik dan Grati, lebih diprioritaskan, mengingat manfaat listrik yang besar sekali. Naikkan Penerimaan Pajak Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan, untuk menutup defisit anggaran akibat kenaikan harga minyak dunia, pemerintah akan meningkatkan penerimaan dari pajak dan bea cukai. Masuknya investasi juga diharapkan mampu memperkuat anggaran pemerintah. “Kita harapkan bisa diimbangi dengan suatu pertambahan atas pendapatan pajak dan cukai kemudian investasi,” kata Ical – panggilan akrab Aburizal – usai melantik pejabat eselon I di jajaran Kementerian Koordinator Perekonomian, di Jakarta, Senin (4/7). Di tempat terpisah, Menteri Keuangan Jusuf Anwar menyebutkan, pemerintah akan memperluas basis pajak dengan menarik wajib pajak (WP), melakukan ekstensifikasi, dan meningkatkan rasio pajak melalui RUU Perpajakan yang baru. “Untuk bea cukai belum ada kenaikan baru,” ujar Jusuf ketika ditemui di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Senin (4/7). Menyikapi pernyataan Ical tersebut, Dirjen Bea dan Cukai Eddy Aburrahman mengatakan, target penerimaan bea masuk dalam APBN 2005 yang sebelumnya Rp 12 triliun dinaikkan menjadi Rp 14,6 triliun dalam APBN-P 2005. Sedangkan, target cukai yang sebelumnya sebesar Rp 28,9 triliun dinaikkan menjadi Rp 31,4 triliun. “Dari sisi bea cukai saja tambahannya sudah melebihi Rp 5 triliun” ujar Eddy setelah Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Senin (4/7). Ia menambahkan, peningkatan ini dilakukan berdasarkan hitungan yang akurat. Sedangkan Dirjen Pajak Hadi Poernomo mengatakan, pihaknya tetap optimistis dengan kenaikan target penerimaan pajak yang direncanakan pemerintah. “Mudah-mudahan tercapai. Kita harus optimis,” ujarnya setelah Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Senin (4/7). Stok Nasional 19 Hari Sedangkan untuk komposisi stok BBM nasional, Abadi mengatakan, saat ini kondisi stok BBM nasional cukup aman dan sudah meningkat menjadi rata-rata 19 hari, dari akhir bulan lalu pada kisaran 18 hari. “Secara perlahan, Pertamina tetap optimistis stok 22 hari akan tercapai pada akhir bulan Juli 2005,” tambahnya. Dia menambahkan, stok BBM akan mencapai 22 hari pada akhir bulan Juli karena Pertamina hanya dibatasi berbelanja dolar maksimal US$ 50 juta per hari sesuai ketentuan Bank Indonesia. “Kita beli dolar hanya ke bank-bank pemerintah, seperti Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BRI,” imbuh dia. Pada kesempatan itu, Abadi juga menjelaskan, konsumsi BBM solar nasional masih minus 4% dari konsumsi yang seharusnya. Sedangkan minyak tanah (kerosene) telah melebihi 4% dari konsumsi yang seharusnya. Tahun 2005, kuota solar 26,296 juta KL dan kuota minyak tanah 10,503 juta KL. Kebutuhan solar menurun diperkirakan karena pihak industri mengalihkan konsumsi BBM ke energi alternatif seperti gas. Sedangkan kebutuhan minyak tanah membengkak karena terjadi penyimpangan. Konsumsi minyak tanah wilayah DKI Jakarta sudah over konsumsi hingga 11,9% dari konsumsi yang seharusnya. Sementara itu, menurut Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, kelangkaan BBM di Jakarta, karena terjadi kebocoran dalam distribusi di Jakarta, terutama aliran distribusi dari pangkalan ke konsumen. Kebocoran itu karena banyak distribusi BBM yang tidak tepat sasaran. “Seharusnya untuk rumah tangga atau pengguna kendaraan bermotor, tetapi dialihkan ke industri. Jika terjadi dalam jumlah yang besar, maka akan mengalami kelangkaan, penimbunan dan kenaikan harga,” kata Sutiyoso kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/7). Sebagai tindakan antisipasi, lanjut dia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Pertamina sedang merancang sistem distribusi BBM di DKI yang tepat sasaran, termasuk pembentukan tim terpadu yang akan mengawasi aliran distribusi dari pangkalan ke konsumen. (rie/lim/ c51/c79/ c81)