Berita Manajemen

25 Nov 2005

ASAKI akan BINA 6 sentra Industri Kecil

Asaki.or.id – Surabaya, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) siap pemberdayaan industri kecil menengah (IKM) keramik di enam sentra produksi melalui pembinaan manajemen, pemasaran, teknologi produksi serta desain. Chairman Asaki Achmad Widjaya mengatakan keenam sentra tersebut mencakup Plered (Jawa Barat), Kasongan (Yogyakarta), Dinoyo (Malang), Singkawang (Kalbar) dan NTB dan Bima (NTT). Asaki juga akan merintis kerja sama dengan Dinas Perindag setempat untuk program pembinaan yang akan dilaksanakan paling lambat mulai awal 2006 ini. Saat ini, Asaki tengah melakukan pendekatan dengan perajin keramik di sentra-sentra industri keramik rakyat di Plered (Jawa Barat) dan Dinoyo (Malang). “Kami berharap pembinaan ini dapat meningkatkan kualitas produksi serta memperluas akses ke pasar ekspor,” kata Achmad Widjaya kepada Bisnis, kemarin. Di enam sentra itu, terdapat sekitar 50.000 perajin yang mempekerjakan lebih dari 500.000 orang. Widjaya menyatakan, potensi keramik Indonesia sangat besar, sementara kualitas maupun desainnya tidak kalah dengan keramik China, Jepang maupun Korea Selatan. “Desain keramik yang unik dan sarat dengan nilai seni budaya merupakan keunggulan komparatif untuk menembus pasar Eropa, Amerika Serikat maupun Australia,” ujarnya. Hanya saja industri lokal belum memiliki jaringan pasar yang efektif dan lemah dalam promosi sehingga seolah-olah kalah dengan kerajinan keramik negara lain. Pembinaan ini dapat ditingkatkan dalam kerja sama operasional dengan pihak ketiga untuk membuka pasar global.

Berita Properti

17 Nov 2005

ASAKI akan naikkan Harga Jual

Asaki.or.id – Jakarta, Asaki Akan Menaikkan Harga Jual JAkarta, Kompas – Asaki berencana untuk kembali menaikkan harga jual produksi sebesar 10-15 persen tahun depan, sekalipun pada awal Oktober 2005 harga jual sudah dinaikkan pada kisaran sama, 10-15 persen. Sekretaris Jenderal Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Zulfikar Lukman, Selasa (15/11) di Jakarta, menjelaskan, rencana tersebut harus dilakukan mengingat akibat kenaikan harga gas 15 persen per 15 Oktober 2005, ditambah dengan faktor kenaikan harga BBM serta melemahnya nilai rupiah, biaya produksi industri keramik lantai dan dinding membengkak sebesar 30 persen. Belum lagi ditambah faktor rencana kenaikan upah regional minimum awal tahun 2006, inflasi yang akan terjadi saat itu, serta tingkat suku bunga perbankan yang belum menentu, membuat kenaikan harga yang sudah terjadi tetap tidak bisa menutup biaya produksi yang membengkak tersebut, katanya. Selain itu, faktor meningkatnya biaya transportasi juga berpengaruh pada rencana kenaikan harga itu. Sehingga paling tidak, katanya, harga jual produksi harus sama dengan biaya produksi supaya seimbang. Ketua Umum Asaki Achmad Widjaya menegaskan, sekalipun rencana kenaikan harga sudah dipertimbangkan, Asaki tetap mempertanyakan kemampuan daya beli masyarakat. Pasalnya, dari konsumen, berupa proyek-proyek konstruksi dalam negeri yang selama ini diharapkan, ternyata keramik produksi nasional justru terserap oleh pasar ritel (rumah tangga) yang daya belinya kini semakin melemah. Zulfikar menambahkan, sebetulnya, kapasitas produksi sudah naik 5 persen pada awal tahun 2005 dari posisi tahun 2004 sebesar 4 juta meter persegi per hari. Ini karena optimisme kami adanya permintaan, katanya. Namun, melemahnya daya beli masyarakat telah membuat tingkat produksi industri keramik nasional turun. Akibatnya, sampai akhir tahun ini Asaki tetap yakin pasar keramik dalam negeri belum bagus. Kapasitas produksi keramik pun tetap. Sementara untuk menembus pasar ekspor, pengusaha keramik nasional harus bisa bersaing dengan produsen lain terutama dari China. Asaki belum bisa memproyeksi kapasitas produksi keramik 2006 akibat proyeksi ekonomi yang belum jelas. (HLN)