Berita Daerah

13 Dec 2005

Bertahan Dalam Keterpurukan Industri Keramik

Asaki.or.id – Malang, Jawa Timur, Di kala banyak pengusaha keramik terpuruk akibat situasi perekonomian yang gonjang-ganjing, Sri Handayani, tetap eksis dengan usaha yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. “Perjuangan untuk tetap eksis tidak mudah. Bukan sekadar modal besar tapi lebih dari itu,” tandas Sri Handayani yang akrab disapa Yani, saat bercakap-cakap dengan Tokoh. Kegoncangan industri keramik, tutur Yani, sudah mulai dirasakan saat pemerintah menaikkan harga BBM, Maret lalu. Keadaan makin tak karuan setelah pemerintah kembali menaikkan harga BBM awal Oktober lalu. Daerah Dinoyo, Malang, Jawa Timur, tempat di mana Yani tinggal, yang dikenal sebagai sentra kerajinan keramik, mulai meredup. Pasalnya, banyak pengusaha keramik kolaps karena tak kuat menghadapi tingginya biaya produksi. Maklumlah, masih banyak pengusaha menggunakan BBM untuk pembakaran keramik. Kenaikan harga BBM otomatis memukul mereka juga. Belum lagi, harga material lain yang ikut naik. Dampak yang sama juga dirasakan Yani, yang bersuamikan, Suheri, guru SMPN di Malang. “Bayangkan, sekalipun biaya produksi tinggi, kami tak bisa menaikkan harga begitu saja karena konsumen menolak. Konsumen sekarang memang kritis dan tak mau menerima begitu saja apa kata pedagang. Sementara kalau kami jual dengan harga lama, kami rugi. Sebagai pengusaha, kami jadi terjepit dan serba salah.,” tutur Yani. “Akhirnya saya ubah semua cetakan, ganti desain, baru bisa menyesuaikan harganya,” imbuhnya. Diketahui, terpuruknya industri keramik akibat kenaikan harga BBM memang bukan hanya dialami oleh pengusaha di Dinoyo, Malang, tapi kebanyakan pengusaha keramik di Indonesia. Untuk bisa bertahan, masing-masing pengusaha harus pandai menyiasatinya. “Saya pikir kalau mau tetap eksis, harus mencari terobosan dan selalu kreatif,” ujar wanita kelahiran Blitar 10 Oktober 1970 ini. Disadari Yani, dia memiliki cukup banyak kompetitor dalam negeri. Ia pu mengakui, terkadang ia menemukan produk-produk yang lebih baik dari miliknya. Belum lagi kompetitor dari luar negeri seperti Cina, yang belakangan aneka produknya, termasuk keramik kreatif, menyerbu pasar Indonesia. Cina bukan sekadar menjual mutu dan kecantikan desain, tapi juga harga jual yang relatif lebih murah dibandingkan barang lokal. “Nah, bagaimana kami tidak terpuruk. Kita bukan saja kalah bersaing dengan Cina, tapi memang material di sini harganya mahal, jadi harga jual pun ikut mahal jika dibandingkan dengan Cina. Tapi mau apa lagi, kami kan nggak mungkin menurunkannya, juga tidak bisa banting harga, bisa rugi dong,” lanjut Yani. Karena itulah, tutur Yani, sebagai pedagang agar bisa eksis, harus pandai membaca pasar serta mengambil keputusan yang tepat pada saat yang pas. Termasuk dalam strategi penjualan. Yani memutuskan untuk menonjolkan hal lain sebagai nilai lebih dibanding Cina. Misalnya, menawarkan mutu yang lebih baik, desain serta servis. Nyatanya, hal ini berhasil. Buktinya, sejumlah pelanggan asingnya yang semula komplin karena merasa harga yang ditawarkannya terlalu mahal dibanding produk lain, akhirnya tetap mengambil barang padanya karena dinilai produknya punya kelebihan. Tapi lajunya perkembangan usaha yang dinikmati belakangan ini, agak terusik dengan masalah keamanan. “Bom Bali kedua serta peristiwa yang terjadi belakangan ini, bikin saya lemes. Meski bom meledaknya di Bali, tapi saya yakin, dampaknya bukan hanya di Bali tapi seluruh daerah di Indonesia. Termasuk terhadap bisnis saya yang adanya di daerah lain,” keluh Yani yang juga memiliki konter di Bali. “Rasanya getir juga menghadapi situasi seperti ini. Apalagi saya punya banyak pelanggan dari luar negeri,” tambahnya. Kalau biasanya buyers asing datang ke rumah untuk melihat-lihat produk, sepertinya sejak kejadian itu (bom Bali II) mereka jadi wait and see dulu. “Saya tak tahulah bagaimana ke depannya, tapi sekarang ini saya mencoba bertahan dengan mengerahkan segala modal yang ada,” ucap Yani yang mewarisi bakat berbisnis dari kedua orangtuanya. Yang dimaksudnya modal, bukan hanya uang tapi juga kemampuannya mendesain. Sebab keunggulan yang dijualnya selain mutu barang, juga keunikan desain. “Yang saya jual adalah seninya, desainnya. Kalau hanya sekadar keramik sudah banyak tapi tidak semuanya menyajikan desain unik,” papar Yani yang kerap memasang kupu-kupu pada produknya. Modal Awal Rp 1 Juta Yani bercerita, dia memulai usaha ini sekitar 11 tahun lalu, tepatnya tahun 1994. Awalnya dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang bersuamikan seorang guru sekolah negeri. Bertahun-tahun tinggal di kawasan Dinoyo, Malang, yang dikenal sebagai salah satu sentra keramik di Jawa Timur, membuat Yani tertarik ikut berbisnis produk yang sama. “Daripada banyak waktu luang terbuang percuma, saya tertarik berbisnis kecil-kecilan yang banyak dilakukan para tetangga saya,” tutur wanita berkerudung ini. Berbekal modal Rp 1 juta hasil menjaminkan SK (surat keputusan) pengangkatan pegawai negeri milik suaminya di Bank BRI, Yani pun mulai berbisnis. Ternyata usaha kecil-kecilan itu berjalan dengan baik, bahkan berkembang lumayan serta mencapai puncaknya pada tahun 1998, saat Indonesia mengalami krisis moneter. Nilai rupiah terpuruk, sementara dolar melambung tinggi. Bila ketika itu banyak pengusaha besar yang ambruk, justru pengusaha kecil banyak yang berkibar, termasuk usaha Yani. “Pada masa krisis, saya justru booming. Saya sampai kewalahan, terpaksa menolak orderan karena tak mampu memenuhinya. Konsumen keramik banyak yang “lari” ke kampung saya, Dinoyo, untuk belanja keramik. Mereka sampai antri lho. Padahal dulu itu keramik saya belum seperti sekarang. Dulu hanya keramik kecil-kecil, putih, bukan keramik kreatif seperti sekarang, tapi banyak yang membelinya,” tutur Yani mengisahkan ulang kejadian tujuh tahun lalu. Sejak itu juga, tutur Yani, industri keramik makin subur di daerahnya. Jumlah pabriknya pun makin bertambah. Namun setelah perekonomian mulai stabil dan nilai dolar turun, keadaan berubah total. “Saat itu hancur-hancuran. Pemain-pemain pemula yang telanjur terjun dalam industri keramik, goncang. Mereka yang punya modal pas-pasan, langsung kolaps. Yang memaksa tetap bertahan pun kembang kempis. Di daerah saya yang tadinya marak dengan perajin keramik, tinggal 30 persen saja yang bertahan,” paparnya. Usaha Yani pun tak luput dari goncangan itu. Untunglah dia segera banting setir. Ia memutuskan untuk meninggalkan produksi keramik biasa dan beralih pada pembuatan keramik kreatif. “Selain itu saya juga mulai memikirkan pengembangan ke depan. Saya pikir, kalau saya tidak ikut pameran, produk saya tidak akan dikenal orang. Karena itu meskipun perlu biaya, saya mengusahakan untuk ikut pameran, khususnya pameran-pameran besar yang berorientasi ekspor,” tuturnya. Dia mengaku sangat merasakan manfaatnya mengikuti pameran, bukan saja produknya makin dikenal tapi dari sanalah dia kebanyakan mendapat buyers asing. “Buyers asing pertama saya dapat dari pameran. Sekaligus tiga buyers, dari Columbia, Filipina dan Malaysia. Pada kesempatan lain, saya mendapat buyer dari Singapura, Jepang, dll. Mereka itulah yang menjadi buyer tetap saya,” tuturnya. Omzet Rp 500 Juta per Tahun Yani merasa beruntung karena pada masa sulit masih memiliki modal cukup untuk tetap bertahan. Modal tersebut bukan dari pinjaman bank melainkan sepenuhnya keuntungan yang didapatnya sebelum keguncangan melanda industri tersebut. “Modal awal saya kecil hanya Rp 1 juta, tapi kemudian berkembang terus,” kata ibu dua orang anak usia 13 tahun dan 5 tahun ini. Dalam pencarian ide, Yani justru mengaku tak pernah melihat internet atau majalah-majalah luar negeri yang banyak menampilkan desain-desain keramik. Dia takut dituduh menjiplak. “Saya lebih suka melihat kerajinan lain di luar keramik. Dari sanalah saya banyak mendapat ide. Misalnya saja membuat motif batik terawang di keramik. Saya kombinasikan, karena kalau batik saja kurang menarik,” tutur Yani. Upaya lain adalah terus melakukan penetrasi pasar. Hal ini memang tidak mudah mengingat cukup banyak pesaing yang bermain di produk sejenis. Karena itu, ungkap Yani, sebisa mungkin produk yang ditawarkan memiliki kekhasan serta keunikan tersendiri. Kesuksesan pun berhasil diraih wanita berlatar belakang pendidikan matematika ini. Usahanya berkembang pesat dengan omzet setahun lebih dari Rp 500 juta. Dia juga telah memiliki pabrik sendiri, suatu cita-cita yang sejak lama diimpikannya. “Dengan memiliki pabrik sendiri, saya bisa bebas berekspresi. Kalau sebelumnya, saya memakai pabrik orang lain yang kadang hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Meskipun pabrik saya pembakarannya masih semimodern, dengan memakai elpiji, tapi hasilnya lumayan bagus,” tutur Yani yang merasa sangat bersyukur mampu bertahan di saat industri keramik banyak yang terpuruk

Comments are closed.