Berita Properti

27 Feb 2006

Tren Properti Tahun 2006

Asaki.or.id – Jakarta, Laju pertumbuhan properti 2006 diperkirakan akan terhambat dampak kenaikan BBM, inflasi tinggi, suku bunga naik, dan fluktuasi rupiah. 

Perkembangan properti 2006 akan sangat tergantung dari situasi dan kondisi 2005. Banyak pihak mengaku agak pesimistis terhadap perkembangan properti 2006 mengingat situasi dan kondisi makro ekonomi pada tahun sebelumnya kurang menguntungkan.

Salah satunya merupakan imbas dari kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Oktober tahun lalu. Daya beli masyarakat menurun, inflasi tinggi, suku bunga naik, termasuk bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar juga terus berfluktuasi. Bahkan, tak jarang nilai tukar dolar menembus angka di atas Rp 10 ribu.

Kondisi seperti ini yang diperkirakan akan menghambat laju pertumbuhan properti di 2006. Meski situasi terlihat pesimistis, berbagai harapan tetap dilontarkan oleh para praktisi dan pengamat properti.

Chief executive officer (CEO) Lembaga Riset dan Konsultan Properti Coldwell Banker Commercial Indonesia, Tom Graciano, adalah salah seorang yang mengaku pesimistis terhadap perkembangan properti. Menurutnya, laju properti akan mengalami penurunan tahun ini. Penyebabnya kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, seperti inflasi tinggi dan suku bunga tinggi.

Akibatnya, beberapa pengembang akan mengkaji ulang proyek-proyek yang akan mereka bangun. ”Secara umum properti memang akan mengalami penurunan. Ini terjadi di apartemen, komersial, maupun perkantoran. Sedangkan perumahan masih tetap dibutuhkan. Karenanya masih bisa berkembang,” ujarnya.

Pengamat properti, Handoko Wignyowargo, mengungkapkan, kebutuhan properti di 2006 tetap ada, terutama untuk ditempati dan bukan untuk investasi. Sebab, dengan kondisi yang seperti ini, investasi akan menjadi tanda tanya. Ini membuat para investor properti akan lebih berhati-hati memilih sektor mana yang akan dijadikan ladang investasi .

Di sisi komersial (pusat perdagangan dan pusat perbelanjaan) Handoko melihat, saat ini sudah mengalami over supply. Sebagai contoh nyata adalah kawasan Mangga Dua dan Kelapa Gading. ”Dua kawasan itu bukan untuk ditambah suplai baru lagi. Sebab proyek-proyek yang sekarang sedang dibangun akan segera masuk ke pasaran pada 2006 ini,” ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi pada pasar apartemen. Saat ini, kata Handoko, suplai apartemen sudah lumayan banyak. Untuk pasar tertentu memang masih tetap ada kebutuhan. Misalnya, untuk segmentasi kelas atas. Sebab mereka masih memiliki uang segar untuk investasi.

Namun, secara umum pasar apartemen tidak banyak tumbuh. ”Kecuali membangun sekarang dan selesai dua hingga tiga tahun mendatang. Harapannya pada 2007 atau 2008 kondisinya sudah membaik sehingga peluang untuk investasi di properti kembali terbuka,” jelas Handoko.

Yang masih berpeluang untuk tetap tumbuh, lanjutnya, adalah perumahan, khususnya untuk segmentasi menengah ke atas. Kalangan ini masih memiliki daya beli yang cukup baik. Yang menjadi masalah adalah perumahan untuk kalangan bawah sebab daya beli mereka sedang menurun.

Tetap optimistis
Meski demikian, Handoko mengaku tetap optimistis terhadap perkembangan properti. Rasa optimisme ini dibangun oleh kebijakan pemerintah yang melakukan pergantian kabinet beberapa waktu lalu. Langkah itu diharapkan bisa membawa perbaikan di sektor perekonomian. ”Jadi, saya masih optimistis sebab selalu saja ada harapan. Hanya saja, kita harus lebih cermat, baik yang mau membangun proyek baru maupun yang mau membeli properti,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Lukman Purnomosidi. Dia memprediksi pertumbuhan properti akan terhambat pada semester pertama dan kedua pada 2006. Ini karena kenaikan harga-harga, inflasi tinggi, serta suku bunga yang tinggi sehingga harga properti juga mengalami kenaikan. ”Tanjakannya masih agak berat,” ungkap Lukman pada sebuah diskusi beberapa waktu lalu.

Tahun ini, lanjut Lukman, motor pergerakan properti adalah sektor perumahan sebab tingkat kebutuhannya tinggi. Hanya saja, akan terjadi penurunan tipe rumah yang bisa dibeli masyarakat. Misalnya, masyarakat yang memiliki uang Rp 150 juta sebelum kenaikan harga-harga bisa membeli rumah tipe 100. Kini, dengan uang yang sama hanya bisa untuk membeli rumah tipe 80 atau 90.

”Yang agak tertekan adalah apartemen sebab pasokannya banyak sekali. Ini butuh waktu untuk penyerapan,” tutur Lukman. ”Ritel juga sudah terlalu banyak di Jakarta. Sektor ritel ini akan berkembang justru di luar Jakarta dan kota-kota lainnya,” lanjutnya.

Investasi asing
Sementara itu, praktisi bisnis properti, Frans Karamoy, menyatakan ada tiga pihak yang yang selama ini bermain di bisnis properti. Pemerintah, swasta, dan asing. Untuk tahun ini, pemerintah dan swasta akan menahan diri untuk menggelontorkan dana investasi. Sementara pihak asing tidak terpengaruh.

”Tahun ini saya prediksikan investasi asing justru akan banyak masuk ke Indonesia. Sebab kemampuan dana mereka tidak terpengaruh dengan kondisi ekonomi dalam negeri. Kalau benar seperti ini, maka kuartal kedua tahun ini properti bisa tumbuh lagi dengan baik,” ungkapnya.

Menurut Frans, pemerintah perlu melakukan terobosan baru untuk mendongkrak pertumbuhan properti. Salah satunya dengan memberi keleluasaan kepada orang asing untuk membeli properti di sini. Selama ini orang asing hanya diberi waktu 25 tahun untuk memiliki unit properti di Indonesia.

Pemerintah, lanjutnya, perlu membebaskan masa kepemilikan properti bagi orang asing. ”Di Indonesia ada sekitar 200 ribu orang asing. Jika mereka dibebaskan untuk memiliki properti di sini, maka banyak pasokan yang akan terserap. Ini akan membawa dampak yang positif bagi perkembangan propeperti di Indonesia,” jelas Frans.
Strategi Bertahan

Pertumbuhan properti di 2006 diperkirakan tidak akan sebesar gairah pertumbuhan pada 2005. Menurut Ketua DPP Real Estate Indonesia, Lukman Purnomosidi, ada beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk membangun properti di tahun ini. Pertama, di tingkat nasional pemerintah perlu menumbuhkan harapan. Beberapa hal sudah dilakukan pemerintah sepertireshuffle kabinet dan pemberantasan korupsi. Kedua hal ini akan memberikan harapan bagi pemulihan kondisi perekonomian nasional.

Strategi kedua, di tingkat industri perlu dilakukan penguatan subsidi untuk rumah sederhana sehat (RSH), memangkas ekonomi biaya tinggi, meluaskan pasar, serta mencari sumber-sumber pendanaan baru.

”Yang ketiga di tingkat perusahaan pengembang. Yang perlu dilakukan adalah konsolidasi, dan menahan diri untuk melakukan ekspansi. Ini bisa dilakukan dengan cara lebih fokus pada pasar dan mengkalkulasi cash flow,” ujar Lukman.

Sementara itu, menurut General Manager PT Indalex — anak perusahaan Maspion Group, Frans Karamoy, mengatakan, pemerintah perlu menghidupkan industri-industri strategis yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Ini penting dilakukan karena pada 2006 banyak perusahaan yang akan mem-PHK karyawannya. Akibatnya angka pengangguran akan semakin meningkat. Menurutnya, jika industri-industri strategis dibuka, banyak tenaga kerja yang terserap. Dengan demikian, tingkat ekonomi mereka akan membaik. Ini akan diikuti membaiknya daya beli. Dengan demikian mereka akan bisa membeli rumah, dan berdampak langsung pada pertumbuhan sektor properti.

Berita Daerah

23 Feb 2006

Keramik Hias Plered Akan Distandarkan

Asaki.or.id – Pikiran Rakyat Bandu, JAKARTA, (PR).- Departemen Perindustrian pada tahun ini akan mengkaji penerapan standardisasi terhadap produk gerabah dan keramik hias di seluruh sentra produksi gerabah dan keramik hias. Sejauh ini, salah satu sentra-sentra produksi gerabah dan keramik hias yang cukup menonjol berlokasi di Plered, Purwakarta. “Selama ini gerabah dan keramik hias belum ada penelitian dan pengkajian kualitas mutu bahan baku. Namun, tahun ini hal itu akan dilakukan,” kata Direktur Industri Kerajinan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Depperind, Tri Reni Budiarti di sela penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Keramik Indonesia (Asaki) dan Bupati Purwakarta H. Lily Hambali Hasan, mengenai pengembangan industri keramik Plered di Jakarta, Rabu (22/2). Pengkajian untuk upaya standardisasi itu, ujar dia, akan dilihat dari kualitas keramik hias dan gabah di tiap sentra. “Raw material di tiap sentra berbeda, karenanya standardisasi di tiap sentra juga akan berbeda,” kata Tri Reni. Selain Plered Purwakarta, sentra gerabah dan keramik di Indonesia adalah Kasongan (Jawa Tengah) dan Singkawang (Kalimantan Barat). Dia menambahkan, dengan adanya standardisasi tersebut, maka keramik hias dan gerabah di tiap sentra akan memiliki kualitas yang sama. Selain program standardisasi, Depperind tahun ini juga akan mengembangkan cluster industri kecil menengah (IKM) gerabah dan keramik hias. Sementara itu, Ketua Asaki Ahmad Wijaya mengatakan, kualitas produk dari perajin keramik hias umumnya belum sama. “Nantinya kita akan mengumpulkan perajin keramik hias dan gerabah di satu tempat atau di kelompokan. Ini bisa dilakukan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian setempat sedangkan Asaki siap melakukan pembinaan,” katanya. Bupati mengakui, nota kesepahaman tersebut berguna untuk pengembangan kualitas keramik hias IKM skala kecil. “Di Plered, Purwakarta, perajin keramik hias yang tercatat sebanyak 3.000 orang,” katanya. Ahmad Wijaya menambahkan, melalui nota kesepaham tersebut, Asaki menargetkan pada 2007 sudah tercipta linkage dengan pasar Eropa untuk pengembangan pemasaran produk keramik hias dan gerabah dalam negeri.

Berita Informasi Teknologi

15 Feb 2006

Masa Depan 3G Ada di PC?

Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta, Intel dan GSM Association akan berjuang membawa 3G ke ranah komputer. Masa depan 3G bukan di ponsel? Di Indonesia sudah ada lima operator pemegang lisensi telekomunikasi selular generasi ketiga (3G). Layanan 3G pun dijanjikan hadir tahun 2006 ini, atau selambat-lambatnya tahun 2007. Di sisi lain, pemilik ponsel dengan kemampuan 3G mungkin masih terbatas. Apalagi harga ponsel kelas 3G memang berbeda, alias cukup menguras kantong. Tapi bagaimana jika 3G bukan diakses lewat ponsel, namun melalui komputer jinjing? Seperti diberitakan Cnet, Rabu (15/02/2006), Intel dan GSM Association berniat untuk mendorong penerapan 3G di personal computer (PC). Intel dan GSMA akan mendorong produsen laptop untuk mengintegrasikan modem 3G, HSDPA, dan EDGE dalam produk mereka. HSDPA (High-Speed Downlink Packet Access) dan EDGE (Enhanced Data rates for Global Evolution) adalah teknologi pengaliran data tingkat tinggi pada jaringan bergerak. “Ini penting, karena artinya PC telah menjadi mobile. Kami melihat ini dengan sangat positif,” ujar Craig Conway, CEO GSMA. Conway melihat peluang bagi operator seluler untuk menggali sumber pendapatan baru. Beberapa produsen pun sudah mulai melirik kemungkinan ini. Nama-nama seperti Dell, Lenovo, bahkan Sony sudah mulai disebut-sebut akan mengadopsi modem 3G, HSDPA, atau EDGE. Meski demikian, pihak analis pasar masih mempertanyakan kemungkinan itu. Gartner bahkan masih merekomendasikan laptop dan perangkat konektivitas mobile dibeli secara terpisah. “Untuk banyak bisnis, kartu tambahan adalah investasi yang lebih baik dan fleksibel,” sebut Gartner

Sumber:  ASAKI
Berita Daerah

13 Feb 2006

Asaki bina UKM keramik Malang

Asaki.or.id – Surabaya, SURABAYA: Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyepakati kerja sama dengan Dinas Perindag Jatim dalam pembinaan manajemen, pemasaran dan teknologi produksi hingga desain bagi perajin keramik skala menengah kecil, khususnya di Dinoyo Malang secara gratis.

Achmad Widjaya, Chairman Asaki, mengatakan pembinaan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas pusat litbang keramik yang ada pada Unit Pelayanan Teknis (UPT) Lingkungan Industri Kecil (LIK) yang ada di kawasan Dinoyo, Malang.

“Kerja sama pembinaan bagi industri keramik skala kecil mikro ini merupakan yang pertama kali direalisasi. Selanjutnya kami akan memperluas kerjasama serupa dengan Dinas Perindag daerah lain, utamanya yang menjadi pusat kerajinan keramik. ” ujar Achmad Widjaja selepas penandatangan MoU di Surabaya, pekan lalu.

Saat ini secara umum pusat industri kerajinan keramik Indonesia, khususnya jenis cindera mata dan table ware tersebar di enam daerah, yaitu Plered (Jateng), Kasongan (Yogyakarta), Dinoyo (Malang), Singkawang (Kalbar) dan NTB serta Bima (NTT) dengan jumlah perajin 500.000 orang dengan menyerap tenaga kerja 5 juta orang.

Dia menyatakan selama ini sebenarnya potensi industri keramik, baik berupa produk cendera mata hingga table ware cukup besar, dimana setiap daerah memiliki keunggulan karena memiliki kekhasan sendiri, mulai motif desain hingga keragaman jenis keramik yang diproduksi.

“Namun harus diakui produksi kerajinan keramik yang mereka produksi umumnya kualitasnya kerap tidak standar, jaringan pasarnya terbatas dan dilakukan secara sendiri-sendiri. Kalau begini kapan majunya.”

Widjaja menyatakan selain melibatkan tenaga ahli melakukan pembinaan, Asaki juga siap melengkapi peralatan laboratorium UPT LIK.

Berita Manajemen

03 Feb 2006

9.209 Pos tarif diharmonisasi

Asaki.or.id – Jakarta,

 

DJBC, Pemerintah melakukan harmonisasi 9.209 pos tarif bea masuk-berlaku efektif 1 Februari 2006-untuk mengurangi distorsi antarkomoditas dan industri serta mengurangi insentif penyelundupan. Dengan demikian, total pos tarif yang telah diharmonisasikan hingga tahun ini mencapai 11.717 tarif.  

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengaku beberapa produk masih memiliki tingkat tarif yang cukup tinggi dan berbeda-beda, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Persoalannya adalah bagaimana menyelaraskan antara keinginan untuk melindungi produk dalam negeri dan keinginan mendapatkan produk murah,” ujarnya di sela-sela peringatan Hari Pabean Internasional ke-54, di Jakarta kemarin.

Sri Mulyani memberi contoh produk minyak pelumas dan alat-alat pertanian di Indonesia yang bisa dilihat dari kepentingan berbeda.

Meski harmonisasi tarif berdampak negatif terhadap penerimaan negara dari bea masuk, pemerintah tetap berkomitmen menyesuaikan pos tarif lainnya hingga 2010. Sebab, menurut Menkeu, dalam jangka panjang penurunan tarif akan meningkatkan efisiensi dan daya saing industri.

Program harmonisasi tarif BM 2005-2010 (Tahap I dan II)

Sektor

Pos Tarif Umum

Pos Tarif Khusus

Total

Pertanian

496

70

566

Perikanan

157

21

178

Pertambangan

201

-

201

Farmasi

162

21

183

Keramik

39

-

39

Besi-baja

765

30

795

Logam, mesin, dan maritim

1921

19

1940

Aluminium

87

*

87

Alat angkut darat

945

432

1377

Elektronika dan TI

630

248

878

Tekstil

1234

9

1243

Aneka lainnya

376

74

450

Kimia hulu

419

124

543

Kimia hilir

945

15

960

Agro

745

170

915

Hasil hutan dan selulosa

334

211

545

Kimia hasil pertanian

145

6

151

Barang seni dan kerajinan

108

7

115

Lain-lain

3

-

3

Jumlah

9712

1457

11.171

Pemecahan pos tarif Sumber: Depkeu

Dirjen Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman menyatakan harmonisasi tarif BM bertujuan memberikan perlakuan yang adil bagi seluruh industri, selain kepastian berusaha bagi investor. Tujuan lainnya adalah mengantisipasi globalisasi, meningkatkan efisiensi administrasi kepabeanan, dan mencegah penyelundupan.

“Semakin rendah tarif semakin kecil disparitas harga domestik dan luar negeri. Jika disparitas harga kecil, penyelundupan otomatis berkurang. Sebab dengan margin harga yang tipis, penyelundupan menjadi tidak ekonomis,” ujar Dirjen Bea dan Cukai di tempat yang sama.

Harmonisasi tarif tahap kedua ini sempat ditargetkan selesai Oktober 2005. Namun akhirnya baru bisa berlaku Februari 2006.

Tarif BM yang diharmoniskan itu adalah MFN (Most Favored Nation), yaitu tarif BM yang dikenakan atas barang impor yang masuk ke Indonesia dari negara lain, kecuali negara yang memiliki perjanjian khusus mengenai BM dengan Indonesia.

Program Harmonisasi Tarif Tahap I yang berlaku per 1 Januari 2005 meliputi 1.964 pos tarif. Dari jumlah itu, tarif BM yang mengalami perubahan 239 pos tarif (96 pos tarif mengalami kenaikan dan 143 pos tarif mengalami penurunan).

Arah harmonisasi

Dunia usaha menghargai upaya pemerintah menuntaskan harmonisasi tarif, meski mundur empat bulan dari jadwal semula. Mereka meminta pemerintah segera mengumumkan rencana program harmonisasi tarif tahap ketiga.

Pengumuman itu terutama menyangkut arah harmonisasi, apakah pada perlindungan petani, pengamanan pasar, atau pengurangan risiko investasi hingga stimulus bagi iklim investasi.

“Kami belum terima hasilnya. Tapi kami minta pemerintah segera persiapkan arah untuk tahap ketiga nanti,” ujar Thomas Dharmawan, Ketua Komite Tetap Pengembangan dan Pemasaran Produk, Kadin Indonesia, di Jakarta kemarin.

Thomas meminta pemerintah, termasuk dunia usaha, agar terbuka dalam masalah nontarif seperti standar dan kualitas. “Selama ini masalah nontarif tidak banyak terungkap karena pengusaha khawatir pasarnya terdistorsi.”

“Ini saatnya pelaku usaha terbuka dengan pemerintah sehingga yang dibicarakan tidak hanya tarif, tapi apa yang membuat perdagangan kita tidak bisa lancer.”

Sekjen Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia Budi Susanto mengatakan kebijakan Depkeu memasukkan 124 pos tarif kimia hulu dan 15 tarif ke dalam pola khusus, merupakan upaya melindungi industri domestik dan mengundang investor.

“Tarif merupakan salah satu instrumen perdagangan yang dapat dipakai untuk menarik investasi, dan sektor kimia, khususnya sektor hulu, sangat membutuhkan pabrik baru untuk mengisi kebutuhan nasional,” ujarnya kemarin.

Sekjen Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Zulfikar Lukman mengatakan tarif industri keramik sudah dinaikkan dari semula rata-rata 5% menjadi 30%.

Menurut dia, harmonisasi tarif sangat dibutuhkan bagi industri untuk melindungi kinerja di tengah meningkatnya beban biaya produksi. (gajah kusumo)

 
     
  BERITA TERBARU:  
 
9.209 Pos tarif diharmonisasi