13 Mar 2006
INDUSTRI KERAJINAN KERAMIK MALANG LESU
Asaki.or.id – Malang, Malang, 11/3 (ANTARA) – Pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) awal Oktober 2005 lalu, industri kerajinan keramik Malang yang sudah puluhan tahun beroperasi mengalami kelesuan cukup parah bahkan banyak yang sudah gulung tikar.
Menurut Ketua Paguyuban Pengrajin Keramik Dinoyo, Sucipto, Sabtu, di Malang, kepada ANTARA, saat ini posisi pengrajin keramik sangat sulit bahkan kalau hingga sekarang bisa bertahan saja sudah bagus.
“Sebenarnya kelesuan industri keramik di daerah ini sudah cukup lama, namun puncaknya setelah adanya kenaikan BBM awal Oktober 2005 lalu yang berakibat semakin mahalnya bahan baku,” katanya.
Selain itu, katanya, kualitas keramik yang kurang bagus dan membanjirnya produk keramik dari luar negeri seperti China juga menjadi salah satu penyebab sulitnya memasarkan produksi keramik dalam negeri terutama produk dari Malang.
Ia mengakui, akibat kenaikan harga BBM tersebut banyak pengrajin yang gulung tikar, sebab sebelumnya anggota paguyuban pengrajin keramik Dinoyo saja mencapai 200 orang lebih, namun akibat terpaan krisis ekonomi yang berkepanjangan, sekarang yang mampu bertahan sekitar 20 orang pengrajin.
Dikatakannya, kondisi pengrajin yang sampai saat ini masih bertahanpun juga terancam gulung tikar, kalupun mereka enggan meninggalkan usahanya, karena tidak ada alternatif pekerjaan dan usaha lainnya.
Kondisi memprihatinkan itu ternyata tidak hanya dialami oleh pengrajin keramik, para pengrajin gerabahpun juga mengeluhkan situasi perekonomian yang menyulitkan usahanya untuk berkembang dan maju.
Salah seorang pengrajin gerabah di Kecamatan Klojen, Ngadiono, mengakui, salah satu hambatan berkembangnya kerajinan gerabah adalah kurangnya permodalan disamping kualitas dan desainnya yang tidak mengikuti tren dan kurang menarik pembeli.
“Kami akui, kami tidak memiliki ketrampilan dan kemampuan lebih serta ilmu yang cukup guna menciptakan desain dan memformulasikan kualitas kerajinan gerabah sehingga kami berharap adanya bimbingan termasuk pelatihan dari pemerintah ataupun pihak manapun agar kerajinan khas Malang ini tetap bertahan dan diminati pembeli,” katanya

