03 May 2006
WAPRES INGATKAN JAJARAN DEPERIN FAHAMI SISTEM KONDUSIF BAGI PENGUSAHA
Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta, 3/5 (ANTARA) – Wapres Jusuf Kalla mengingatkan jajaran Departemen Perindustrian (Deperin) agar memahami bagaimana membangun sistem dan iklim yang kondusif bagi dunia usaha dan semua pihak perlu bersama-sama merumuskan peraturan dan insentif agar industri bisa mendapatkan keuntungan.
“Deperin harus memahami bagaimana pengusaha berjalan dan bagaimana memberi keuntungan kepada pengusaha. Karena industri itu harus menguntungkan. Industri itu di `domain` swasta. Karena itu kita berikan layanan kepada pihak swasta karena pengusaha lebih mampu berpikir industri daripada kita (pemerintah,” kata Wapres saat membuka Rakernas Deperin di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu.
Ditegaskan Wapres bahwa dimanapun di dunia, industri dituntut untuk meningkatkan persaingan harga, kualitas dan jasanya, yang berarti dibutuhkan suatu sistem yang kompak.
“Jadi industri di suatu negara apapun kembali kepada teori dasar yakni tingkat kompetitifnya yang betul. Kita tahu betul kompetitif itu hanya untuk sisi `knowledge`. Kita harus ambil celahnya dimana kita bisa bersaing, artinya bisa murah, kualitas produksi baik, dan `delivery` baik,” kata Wapres.
Terkait dengan kebijakan otonomi daerah, Wapres mengatakan, dengan prinsip otonomi itu maka secara riil kegiatan dilaksanakan daerah sementara kebijakan umum oleh pemerintah pusat dan kemudian dikaji bagaimana industri bisa berkembang dengan keragaman daerah yang ada.
Wapres menegaskan, pemerintah juga tidak bisa membuat aturan sebanyak-banyaknya dan juga tidak bisa memerintah sampai ke daerah-daerah karena sudah ada otonomi itu.
Lebih lanjut Wapres mengatakan, tidak zamannya lagi pemerintah membuat industri karena sekarang ini adalah masanya privatisasi sehingga industri yang ada sebaliknya dijual.
“Jadi kondisi sekarang terbalik dengan 20 tahun lalu. Paradigma kita jangan lagi berpikir sama seperti 20 tahun lalu,” katanya.
Dengan berbasiskan otonomi itu, maka semua orang tidak boleh lagi berpikir untuk mengembangkan industri seperti di Jakarta karena setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda.
“Jawa Timur lain, sumatera juga lain. Tentu itu yang di`promote`,” katanya seraya menambahkan bahwa setiap daerah harus melihat kekuatan masing-masing seperti di Sumatera unggul untuk kelapa sawit dan derivatifnya.
Dalam kesempatan itu Wapres juga mengingatkan bahwa industri Indonesia memerlukan pula efisiensi dan tingkat keseuaian yang tinggi agar bisa bersaing.
“Kita bisa buat barang bagus tapi harganya mahal, atau barang murah tapi kualitasnya rendah atau barang murah kualitasnya tinggi tapi lama `delivery`nya,” katanya.

