19 Sep 2006
Ekspor Keramik US$ 20 Juta BATAL
Asaki.or.id – Jakarta, Kalangan produsen keramik dalam negeri terpaksa membatalkan order ekspor keramik senilai US$ 20 juta akibat seretnya pasokan gas dan bahan baku.
” Order senilai US$ 20 juta itu kami terima sejak tahun lalu hingga saat ini. Karena dibatalkan, order itu dialihkan ke negara lain,”kata sekjen ASAKI, Henry Kembaren usai Roundtable Discussion Kadin Indonesia tentang visi 2010 dan roadmap industry 2030 di Jakarta, baru – baru ini.
Menurut Henry, nilai pembatalan ekspor itu setara dengan 15% ekspor keramik nasional tahun lalu yang mencapai US$ 129 juta,” Ini kerugian besar untuk industri dalam negeri,” ujarnya.
Dia menjelaskan, ekspor keramik yang dibatalkan itu diantaranya dari pembeli di Amerika Serikat, Asia Timur, dan Eropa. Mereka akhirnya mengalihkan pesanan ke negara-negara pesaing yakni Cina dan Vietnam.
“Kekurangan pasokan gas dan rendahnya mutu gas dalam negeri merupakan masalah klasik. Bayangkan saja, tekanan gas yang dibutuhkan industru keramik harus stabil pada 4 bar. Tetapi, dalam seharu, 8-10 jam tekanan gas anjlok sampai hanya 0.02 bar,”ujarnya.
Selain masalah mutu dan pasokan gas, menurut Henry Kembaren, industri keramik nasional belum mendapat pasokan bahan baku yang berkualitas di dalam negeri. Bahan baku keramik seperti feldspar, clay, dan pigmen masih harus diimpor dari Cina.
“Sebenarnya pasokan bahan baku itu ada di dalam negeri, tapi kualitasnya rendah, sehingga produktivitas menurun 50% dibandingkan bahan baku impor. Tapi kalau impor, kami harus menunggu pengapalan dan tidak bisa mengirimkan pesanan tepat waktu,”tuturnya.
Ketua Umum ASAKI, Achmad Widjaya menambahkan, saat ini utilisasi industri keramik nasional yang berjumlah 80 perusahaan mencapai 60% akibat kekurangan pasokan gas. Selain itu, impor ilegal yang masih marak terjadi turut mematikan ekspor ini.

