Berita Manajemen

20 Sep 2006

Industri Nasional Terancam Beralih Jadi Pedagang

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA– Iklim usaha yang tidak kondusif di dalam negeri menyebabkan sejumlah industri besar dan menengah terancam beralih menjadi pedagang dibandingkan meneruskan kegiatan produksinya.

Hal itu dikemukakan sejumlah asosiasi industri yang hadir dalam diskusi Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan, dalam upaya menyusun peta jalan industri nasional 2010 dan visi 2030, di Jakarta, Selasa.

“Saya khawatir ke depan kita akan menjadi PT Trading Indonesia karena banyak industri akan beralih menjadi importir, karena iklim yang tidak kondusif,” kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Achmad Wijaya.

Ia mengatakan saat ini di industri keramik kecenderungan itu menjadi kian jelas. Karena berbagai kondisi di dalam negeri yang tidak mendukung tumbuh berkembangnya di industri tersebut, seperti pasokan gas yang tidak stabil, penyelundupan baik underinvoice maupun transhipmentterutama dari produk Cina untuk menghindari bea masuk (BM) 20 sampai 30 persen.

Selain itu masalah buruh dan upah minimum regional (UMR), serta maraknya berbagai pungutan liar lainnya, kata dia, semakin memberatkan industri di dalam negeri sehingga tidak bersaing dengan produk impor yang masuk dengan penyelundupan pula.

“Kondisi tersebut menyebabkan industriawan cenderung menjadi pedagang saja,” ujar Achmad yang menilai kecendrungan itu sudah ada sejak tahun 2003.

Hal senada dikemukakan Ketua Umum Asosiasi Pabrik Billet, Batang Kawat, Besi Beton, dan Profil Seluruh Indonesia (Abbepsi) Ismail Mandri, yang mengatakan akibat kebijakan pemerintah yang tidak jelas dalam pelaksanaan Standar Nasional Indonesia (SNI) besi beton menyebabkan banyak produk impor yang murah masuk dan menggoda kalangan produsen untuk ikut mengimpor.

“Untuk industri besi beton di dalam negeri misalnya wajib SNI, tapi karena kebijakan itu belum dinotifikasi di WTO maka produk impor terutama dari Cina yang murah bisa melenggang masuk walaupun tidak penuhi SNI dan membahayakan keselamatan konsumen,” katanya.

Hal yang sama dikemukakan Ketua Umum Asosiasi Pabrik Seng Indonesia (GAPSI) Rudy S Syamsuddin yang mendesak pemerintah melakukan tindakan konkrit agar kalangan industriawan tidak beralih menjadi pedagang

Comments are closed.