Asaki.or.id – Manado, Manado,7/11 (ANTARA) – Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris mengatakan, produktivitas industri nasional masih kalah jauh dibandingkan negara lain, maka perlu upaya meningkatkannya dibarengi efisiensi dan daya saing.
“Hasil studi konsultan terkemuka di dunia, Mc Kenzie, produktivitas di bidang tekstil India tiga kali, China 4,8 kali dari Indonesia,sedangkan dibidang elektronika India 1,4 kali dan China 2,3 kali, bidang pakaian jadi India 1,5 kali dan China 2,4 kali dari Indonesia,”kata Menperin Fahmi Idris ketika membuka Konvensi Nasional Gugus Kendali Mutu (GKM) Industri Kecil Menengah (IKM),Rabu malam di Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Gambaran ini menunjukkan perlu peningkatan produktivitas di perusahaan- perusahaan Indonesia, bila produktivitas meningkat akan membuat surplus perusahaan lebih besar, dimana nilai tambah produk dapat naik sedangkan biaya tenaga kerja menurun, kata Menperin dalam Konvensi akan berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 Desember 2006.
Di lain pihak akan berlimpahnya jumlah barang yang diproduksi sehingga bagi konsumen harga menjadi lebih murah, sedang bagi pekerja penghasilan menjadi lebih besar dan bagi pengusaha akan memperoleh keuntungan.
Apabila semua perusahaan IKM dapat meningkatkan produktivitas, maka dampak terhadap perekonomian akan semakin besar yaitu permintaan barang akan naik oleh karena daya saing meningkat dan akhirnya investasi akan naik pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih tinggi.
Konvensi GKM merupakan momentum sangat tepat, selain menambah semangat, motivasi dan tekad berjuang mengupayakan penerapan GKM di perusahaan IKM, serta merupakan sarana pertukaran pikiran dan pengalaman diantara peserta dibawah bimbingan pakar yang dihadirkan dengan teknik-teknik dan pengetahuan baru.
“Penerapan GKM IKM di Indonesia sudah berlangsung sejak 15 tahun lalu, lima tahun diantaranya mengalami kevakuman, dalam periode tersebut tercatat telah terbentuk 3.833 gugus di 3.417 perusahaan IKM. Namun bila dibandingkan dengan jumlah 400 kabupaten/kota di Indonesia, maka jumlah perusahaan terapkan GKM masih terbatas,”kata Menteri Fahmi Idris.
Perkembangan IKM di Indonesia saat ini mencapai 3,5 juta unit, menyerap 9,2 juta tenaga kerja, hasilkan nilai ekspor sebanyak 8,7 miliar dolar Amerika Serikat, sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor industri mencapai 38 persen, tetapi masih sangat rendah dibandingkan kontribusi industri besar yang mencapai 62 persen.
Gubernur Sulut dalam sambutan disampaikan Wakil Gubernur Sulut, Freddy H Sualang, mengatakan, adanya konvensi nasional GKM-IKM di Manado, diharapkan bsia menumbuhkembangkan motivasi pembudayaan penerapan GKM di kalangan IKM dalam rangka peningkatan mutu dan produktivitas serta daya saing secara terus menerus pada gilirannya dapat memberikan sumbangsih bagi upaya kita bersama membangun industri nasional yang kokoh dan berdaya saing.
Ketua Panitia Konvensi Nasional GKM-IKM, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Albert Pontoh mengatakan, pelaksanaan berlangsung tanggal 6 hingga 8 Desember 2006, diikuti perwakilan dari 33 propinsi terdiri atas peserta dan pendamping. Peserta akan diuji oleh tim juri guna menentukan yang terbaik.
Agenda lainnya yang cukup menarik yakni pameran hasil produk industri kecil di seluruh Indonesia. Sedangkan konvensi “Dengan GKM Membangun Budaya Mutu di Lingkungan Industri Kecil dan Menengah.”
Dalam konvensi kali ini telah diserahkan pula sejumlah bantuan peralatan dan mesin kepada beberapa pemerintah kabupaten kota di Propinsi Sulut.
Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Jenderal IKM, Sakri Widhianto, Walikota Bitung, Hanny Sondakh, Wakil Walikota Manado, Abdi Buchari, pejabat Disperindag serta peserta datang dari propinsi di Indonesia.