Berita Informasi Teknologi

08 Jan 2007

Tren Genteng Keramik

Asaki.or.id – Jakarta, Ketua Umum ASAKI menyebutkan perkembangan genteng keramik masih terkendala harga yang relatif mahal. Pemainnya memang belasan, tapi yang bisa disebut dalam artian yang cukup terkenal dengan coverage pemasaran cukup luas hanya 5-6 produsen: KIA, Kanmuri, Karangpilang, M-Class, dan Ikad.

Produksinya juga belum maksimal. Dari kapasitas terpasang 20 juta potong per bulan, yang terpakai baru sekitar 12 juta.” Jadi, masih sangat kecil,”katanya. Ia menambahkan, genteng keramik akan lebih berkembang kalau harganya lebih murah, di bawah Rp. 4.000,- per potong. Agar lebih murah produksinya mau tak mau harus massal.

Berkembangnya gaya arsitektur modern minimalis dalam beberapa tahun terakhir, juga berperan menghambat perkembangan genteng keramik. Genteng flat dinilai paling tepat mencitrakan gaya itu. Dan yang bisa memenuhinya genteng beton.Produsen genteng keramik harus men-setting ulang mesinnya untuk bisa memproduksinya. Dan itu biayanya mahal.

Hal itu diakui Yudhi Pusaka S., Marketing and Sales Manager PT. Ikad Ceramics Industrial (Kedaung Group), produsen genteng Ikad.”Genteng keramik itu dibakar sampai mengering sehingga ada sedikit gelombang.Beda dengan beton tidak mengalami suhu bakar. Bisa saja genteng keramik dibikin flat, tapi harus diberi rangka agar tidak mengembang. Tapi, bikin mouldnya mahal sekali,” katanya.

Harga genteng beton juga lebih murah sehingga lebih dipilih developer untuk menyiasati kenaikan harga bahan bangunan. Di satu sisi bisa memenuhi tren desain yang berkembang, di sisi lainharganya lebih murah. Dengan kondisi seperti itu jangan heran tren genteng keramik masih berpusing di seputar teknologi interlocking.

Ikad misalnya, awal 2007 melansir genteng double interlock ( memiliki pengunci di sisi atas dan samping ). Genteng itu sebenarnya sudah diproduksi sejak 1998 tapi kebanyakan untuk pasar ekspor ( Malaysia dan Eropa ). Menurut Yudhi, Ikadlah yang pertama membuat genteng double interlock secara lokal.

“Sebelumnya baru ada genteng interlock impor yang harganya mahal,”katanya. Ikad double interlock hanya tersedia dalam warna terakota natural untuk pasar retail. Sedangkan untuk pesanan khusus bisa warna – warna lain. Mengenai genteng keramik lain yang juga disebut double interlock, ia menyatakan interlocknya hanya menutup, tidak mengunci.

“Istilahnya double interlock banci.Kalau Ikad Double interlock benar – benar menutup dan mengunci. Ibaratnya, kalau ada angin puting beliung pun tidak akan lepas. Jadi, hanya kami yang punya genteng double interlock. Pemasangannya mudah dan presisi,”ujarnya.

KIA juga masih mengandalkan genteng KIA interlock yang juga mengklaim memiliki dua sisi pengunci,” semua bilang interlock, tapi ada yang hanya satu sisi atau hiasan saja. Yang ini the real interlock. Kita garansi tidak ada kebocoran sampai nol persen. Kunci melihat interlock itu di belakang genteng. Lihat bisa mengunci atau tidak,” kata Elvis Samallo, Product Manager PT. KIA.

Ia menambahkan, genteng itu juga sesuai dengan tren minimalis karena lebih flat dan glossy dengan warna natural,” Jadi tren rumah saat ini bisa dibilang cocok dengan genteng KIA interlock,”ujarnya. Hanya ia mengakui, genteng yang dilansir Januari 2006 dengan warna – warna anggur dan kopi ( diamond grape, opal green, garnet coffe, citrine brown) itu mengalami kendala dalam pemasaran.

” Untuk pemasangan genteng secara random dengan warna-warna berbeda pada atap, masyarakat kita belum terbiasa. Apalagi dengan warna agak keunguan itu,”katanya mengenai genteng yang juga tersedia dalam tipe multicolor itu. Karena itu KIA sedang mengevaluasi genteng tersebut untuk di relaunching tahun depan.

Begitu pula KANMURI, produksi PT. Satya Jaya Trading COY dan Ceris yang diimpor Lafarge dari Thailand, disebut sebagai genteng keramik double interlock. Menurut Dedy Rudiyanto, Product Manager PT. Lafarge Roofing Indonesia, Ceris didesain dengan dua pengunci yang disebut underlocked di bagian bawah dan coverlocked di bagian samping atas sehingga mengunci secara presisi.

Sumber:  Estate, Edisi Januari 2007

Comments are closed.