Berita Daerah

27 Mar 2007

Tambahan Pasokan Gas 30%, Amankan Industri

Asaki.or.id – Jakarta,TEMPO Interaktif,Jakarta:

Departemen Perindustrian memastikan tambahan pasokan gas sebanyak 30 persen akan memenuhi kebutuhan industri. Tambahan pasokan ini telah lama dinanti sejalan dengan defisit gas yang membuat produksi beberapa industri dalam negeri tak optimal.

“Dengan tambahan gas 30 persen, neraca kebutuhan dan ketersediaan gas menjadi seimbang, kebutuhan industri menjadi aman,” ujar Menteri Perindustrian Fahmi Idris saat meninjau pameran Industri Keramik dan gerabah. Kamis (22/3). 

Realisasi penambahan gas, kata Fahmi diserahkan kepada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Angka kebutuhan 30 persen tersebut hasil kajian bersama antara Departemen Perindustrian dan Departemen Energi. 

Produksi gas sebanyak 30 persen sebagai target hingga tahun 2010. Saat ini, produksi gas bumi mencapai 8-9 miliar kaki kubik per hari. Pada 2010, target produksi gas bumi 10 miliar kaki kubik per hari dan pada 2025 
ditargetkan produksi gas sebesar 15 miliar kaki kubik 
per hari. 

Beberapa industri sejak beberapa tahun terakhir mengalami kekurangan pasokan gas. PT Petrokimia Gresik, badan usaha milik negara penghasil pupuk, hanya memperoleh pasokan 
gas 83 persen dari kontrak dengan Blok Kangean sebanyak 60 juta kaki kubik per hari. “Kami masih mengalami kekurangan 10 juta kaki kubik per hari,” kata Direktur Utama Petrokimia Gresik, Arifin Tasrif kepada Tempo

Industri keramik pun mengalami hal yang sama. Kebutuhan industri keramik terhadap gas sebanyak 40 juta kaki kubik per hari. Namun, pasokan gas hanya 70 persen dari yang 
dibutuhkan.

Berita Manajemen

22 Mar 2007

Harmonisasi Tarif dengan China Disepakati

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (SINDO)-Pemerintah Indonesia dan China menyepakati harmonisasi tarif berupa penurunan Bea Masuk (BM) atas produk-produk kedua negara. Rencananya penetapan tarif baru tersebut akan ditandatangani Menteri Keuangan pada awal April 2007.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Anggito Abimanyu mengatakan, kesepakatan tersebut merupakan bagian dari perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/ FTA) antara ASEAN dan China yang disepakati pada 2005 lalu. “Tarif Indonesia-China sudah dijadwal selama lima tahun,dan tiap tahun ditetapkan menkeu,” kata dia di Jakarta,kemarin.

Harmonisasi tarif tersebut tingkat spesifikasinya disesuaikan dengan buku tarif yang jumlahnya mencapai sekitar 12 ribu pos. Nantinya, pemerintah akan mengeluarkan buku tarif yang baru yang memasukkan tarif penyesuaian berdasarkan hasil kesepakatan regional maupun bilateral.

Anggito mengakui, penurunan tarif BM berdampak negatif terhadap industri dalam negeri. Sebab, impor dari China lebih besar dibanding ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu. Dampak itu akan dirasakan oleh industri- industri yang memproduksi barangbarang yang sejenis dengan produk asal China,namun tidak sanggup bersaing.

Di tempat terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi meminta pemerintah berhatihati menandatangani kesepakatan harmonisasi tarif tersebut.

Berita Manajemen

12 Mar 2007

ORI002, Akankah Mengulang Sukses 2006?

Asaki.or.id – Jakarta, MULAI 8 Maret 2007, pemerintah melakukan penawaran obligasi negara ritel seri ORI002.Tingkat kupon yang ditetapkan sebesar 9,28%, dengan masa jatuh tempo tiga tahun, atau berakhir pada 2010.

Penawaran ini merupakan salah satu bagian upaya pemerintah untuk mendapatkan sumber pendanaan APBN melalui penerbitan instrumen obligasi. Pada tahun ini, APBN mensyaratkan adanya penerbitan obligasi neto sebesar Rp40,6 triliun. Dengan demikian, tahun ini akan lebih banyak instrumen obligasi yang akan ditawarkan pemerintah. Selain instrumen SUN dan ORI, pemerintah juga berencana menerbitkan sukuk (obligasi syariah) dan surat perbendaharaan negara (SPN).

Tahun lalu,pemerintah sukses menerbitkan surat utang berbasis investor ritel pertama kalinya,yakni ORI001.Obligasi tersebut jatuh tempo pada 2009 (tenor tiga tahun) denganmemberikantingkatbunga kuponsebesar12,05%.Pembayaranbunga dilakukan setiap bulan. Penerbitan ORI001 pada 2006 dapat dikatakan sebagai test caseyang berhasil bagi pemerintah.

Tantangan bagi pemerintah saat itu adalah mencoba untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat pascakrisis reksa dana yang terjadi pada 2005.Terlebih,ORI memang ditujukan kepada masyarakat yang ingin berinvestasi langsung pada instrumen utang pemerintah dengan nilai penempatan relatif terbatas.

Berkaitan dengan penerbitan perdana tersebut, awalnya pemerintah hanya mematok target penerbitan ORI001 senilai Rp2 triliun.Jumlah ini tidak terlalu jauh berbeda dengan angka rata-rata penerbitan SUN.Namun ternyata,minat para investor ritel ternyata cukup tinggi, yaitu mencapai agregat Rp3,2 triliun atau mengalami oversubscribed 1,6 kali.

Setelah masa penawaran perdana berakhir, ORI001 kemudian diperdagangkan di pasar sekunder.Tidak dibutuhkan waktu lama bagi ORI-001 untuk menyesuaikan yield to maturity (YTM) dengan para seniornya (SUN) di pasar sekunder.Adanya pergerakan YTM tersebut sudah memberikan indikasi bagaimana persepsi investor pada ORI001 di pasar sekunder,termasuk aspek risiko.

Sedikit hal yang agak membedakan transaksi ORI di pasar sekunder adalah dengan diperkenankannya investor institusi untuk melakukan transaksi beli dan jual di pasar sekunder. Padahal, mereka tidak diperkenankan ikut pada penawaran perdana.Kehadiran investor institusional tersebut juga memberikan kontribusi bagi likuiditas transaksi ORI di pasar sekunder.

Prospek ORI002

Bagaimana peluang penawaran ORI kedua ini? Dilihat dari kupon yang telah ditetapkan, yakni sebesar 9,28%, memang angkanya lebih kecil dibandingkan dengan ORI001 yang sebesar 12,05%. Kendati demikian, angka tersebut masih tidak jauh berbeda dengan tingkat suku bunga BI Rate yang besarnya mencapai 9%.

Saat ORI001 ditawarkan pada Juli 2006, BI Rate saat itu angkanya tidak terpaut jauh dari tingkat suku bunga ORI-001. Dengan kecenderungan penurunan tingkat suku bunga yang masih akan terjadi hingga akhir 2007 dan kemungkinan berlanjut pada 2008,penawaran tingkat suku bungakuponsebesar9,28% tersebutmasih dalam kisaran yang menarik untuk instrumen utang berjangka waktu tiga tahun, terutama untuk pasar ritel.

Konsensus pasar sejauh ini masih memperkirakan bahwa tingkat suku bunga pada akhir 2007 adalah pada kisaran 8%. Berbeda dengan penawaran perdana SUN,penawaran ORI lebih mirip dengan penawaran pada obligasi korporasi yang terlebih dahulu ditetapkan tingkat kuponnya. Kemudian, harga penawaran perdana hampir pasti pada harga 100% nilai par.

Pada saat diperdagangkan di pasar sekunder, barulah mekanisme pasar akan membentuk angka YTM, dan angka YTM memiliki hubungan yang terbalik dengan harga obligasi di pasar sekunder. Harap diingat rule-of-thumb: Jika YTM turun, harga obligasi akan naik.Demikian pula sebaliknya. Pada penawaran perdana SUN, calon investor mengajukan angka YTM yang diinginkan sesuai dengan jangka waktu SUN yang ditawarkan tersebut.

Kemudian nantinya pemerintah menetapkan tingkat bunga kupon bagi seri SUN tersebut, sehingga dalam hal ini, pemerintah selaku penerbit bisa menjual SUN pada harga di atas atau di bawah nilai par. Dikaitkan dengan tren penurunan tingkat bunga yang masih akan berlanjut pada setahun ke depan,semakin awal kita bisa mendapatkan investasi pendapatan tetap, maka hal itu akan semakin baik.

Saat diperdagangkan di pasar sekunder, YTM dari instrumen pendapatan tetap juga akan cenderung terus menurun karena mengikuti penurunan tingkat suku bunga referensi (di Indonesia,dalam hal ini BI Rate. Tren penurunan YTM akan berimplikasi pada kenaikan harga instrumen di pasar sekunder, sehingga investor akan memiliki peluang untuk mendapatkan imbal hasil.

Tidak hanya berasal dari imbal hasil kupon bunga, namun juga imbal hasil dari capital gain apabila investor tersebut menjual instrumennya di pasar sekunder. Tentunya ada trade-off dari penjualan demi mendapatkan capital gain ini. Investor akan terpapar pada risiko reinvestasi. Maksud risiko ini adalah, pada saat dia menjual instrumen investasinya dan berminat untuk menginvestasikan pada instrumen lain, maka belum tentu dia bisa mendapatkan investasi dengan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan dengan investasi yang dia miliki sebelumnya.

Tentunya,bagi sebagian investor obligasi, termasuk SUN dan ORI, risiko ini tidak mungkin terjadi karena investor SUN dan ORI seharusnya sudah memiliki rencana matang berkaitan dengan penempatan dananya. Sebagai kesimpulan,investasi di ORI masih memberikan imbal hasil yang relatif menarik di tengah tren penurunan tingkat suku bunga yang masih berlanjut.

ORI juga bisa menjadi komplemen/ pelengkap bagi aneka investasi lainnya di pasar modal, terutama bagi investor ritel. Namun, sebelum berinvestasi, pastikan dulu tujuan investasi Anda.Alokasikan dana dan lakukan perencanaan secara seksama.Selamat berinvestasi di ORI.(*)

DIAN ABDUL HAKIM 
Analis Obligasi Trimegah Securities

Berita Daerah

05 Mar 2007

INDUSTRI KERAMIK MAINKAN PERAN PENTING DI INDONESIA

Asaki.or.id – Medan, Industri keramik andalan akan memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan perindustrian Indonesia di masa depan. Kelemahan pembangunan industri di Indonesia adalah kurangnya percepatan industri material baku (raw material), kata Prof. Drs. Mohammad Syukur, MS, dalam pidato akademisnya di Medan. Pidato tersebut disampaikannya pada pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Fisika Meterial pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara di Medan, belum lama ini. Dalam pidato ilmiahnya berjudul: “Potensi Ubur-Ubur Sebagai Sumber Material Baku Keramik Tahan Api:”A New Alternative”, ia mengatakan, salah satu material baku keramik tahan panas (refractories) adalah magnesium oksida (Mgo). “Produk keramik tahan panas atau api ini hampir sebagian besar dipasok dari luar negeri.Umumnya meterial bakunya diperoleh dari hasil pertambangan,” ujarnya. Selanjutnya ia mengatakan,akan diajukan suatu alternatif baru di mana material baku Mgo bukan dari hasil pertambangan akan tetapi dari ubur-ubur (jellyfish). Selanjutnya, dengan alat atau metode difraksi sinar-x, akan diamati dan diuji kebenaran apakah telah terbentuk Mgo tersebut. Menurut Mohammad, pada tahun 1999, produksi Mgo di seluruh dunia sekitar 5 juta ton yang diperoleh dari hasil pertambangan magnesit,serta sekitar 1 juta ton yang diproduksi dari air laut atau air asin. Selain itu, negara memproduksi Mgo dari magnesit alam terbesar adalah Cina dan diperhitungkan hampir separoh dari produksi dunia. “Eropa Barat dan Amerika Serikat memproduksi Mgo dari air laut diperhitungkan 3/4 produksi dunia,” katanya. Lebih lanjut ia menjelaskan, pada tahun 2000, Amerika Serikat sendiri menghasilkan 400.000 ton.Untuk mengatasi kekurangan konsumsinya (730 ribu ton).Maka sekitar 380.000 ton diimpor dari Cina dan 50.000 ton diekspor kembali. Industri besi dan baja adalah pengguna bata tahan api terbesar.”Hampir 2/3 aplikasi meterial tahan api menggunakan Mgo, sedangkan penggunaan Mgo yang 1/3 lagi diaplikasikan untuk berbagai kegunaan seperti untuk pertanian, konstruksi, obat-obatan dan sebagainya,” katanya.