Berita Daerah

05 Mar 2007

INDUSTRI KERAMIK MAINKAN PERAN PENTING DI INDONESIA

Asaki.or.id – Medan, Industri keramik andalan akan memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan perindustrian Indonesia di masa depan. Kelemahan pembangunan industri di Indonesia adalah kurangnya percepatan industri material baku (raw material), kata Prof. Drs. Mohammad Syukur, MS, dalam pidato akademisnya di Medan. Pidato tersebut disampaikannya pada pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Fisika Meterial pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara di Medan, belum lama ini. Dalam pidato ilmiahnya berjudul: “Potensi Ubur-Ubur Sebagai Sumber Material Baku Keramik Tahan Api:”A New Alternative”, ia mengatakan, salah satu material baku keramik tahan panas (refractories) adalah magnesium oksida (Mgo). “Produk keramik tahan panas atau api ini hampir sebagian besar dipasok dari luar negeri.Umumnya meterial bakunya diperoleh dari hasil pertambangan,” ujarnya. Selanjutnya ia mengatakan,akan diajukan suatu alternatif baru di mana material baku Mgo bukan dari hasil pertambangan akan tetapi dari ubur-ubur (jellyfish). Selanjutnya, dengan alat atau metode difraksi sinar-x, akan diamati dan diuji kebenaran apakah telah terbentuk Mgo tersebut. Menurut Mohammad, pada tahun 1999, produksi Mgo di seluruh dunia sekitar 5 juta ton yang diperoleh dari hasil pertambangan magnesit,serta sekitar 1 juta ton yang diproduksi dari air laut atau air asin. Selain itu, negara memproduksi Mgo dari magnesit alam terbesar adalah Cina dan diperhitungkan hampir separoh dari produksi dunia. “Eropa Barat dan Amerika Serikat memproduksi Mgo dari air laut diperhitungkan 3/4 produksi dunia,” katanya. Lebih lanjut ia menjelaskan, pada tahun 2000, Amerika Serikat sendiri menghasilkan 400.000 ton.Untuk mengatasi kekurangan konsumsinya (730 ribu ton).Maka sekitar 380.000 ton diimpor dari Cina dan 50.000 ton diekspor kembali. Industri besi dan baja adalah pengguna bata tahan api terbesar.”Hampir 2/3 aplikasi meterial tahan api menggunakan Mgo, sedangkan penggunaan Mgo yang 1/3 lagi diaplikasikan untuk berbagai kegunaan seperti untuk pertanian, konstruksi, obat-obatan dan sebagainya,” katanya.

Comments are closed.