Berita Manajemen

26 Apr 2007

Deperin Minta Kontrak Gas Industri Ditata Ulang

Asaki.or.id – Jakarta, Departemen Perindustrian (Deperin) meminta kontrak pasokan gas untuk industri nasional diperpanjang dari biasanya dua sampai tiga tahun menjadi 10-20 tahun serta mengurangi volume ekspor gas ke luar. Pasalnya, defisit pasokan gas bagi industri nasional sudah mencapai taraf mengkhawatirkan sehingga menghambat investasi di dalam negeri. Dirjen Industri Agro dan Kimia Deperin Benny Wachjudi menegaskan, defisit pasokan gas untuk industri nasional pada tahun ini akan bertambah besar meski pemerintah telah melakukan sinkronisasi antara kebutuhan dan pasokan gas. Karena itu, tidak ada jalan lain pemerintah harus mempercepat peningkatan produksi gas domestik. “Kalau terjadi shortage maka diperlukan pembukaan ladang-ladang baru. Selain itu, kami meminta industri mengubah kontrak menjadi jangka panjang. Secara komersial, harus di-update kontraknya supaya tidak ada kenaikan harga gas yang seenaknya,” jelasnya. Menurut dia, Deperin meminta adanya pengaturan kembali baik mengenai kontrak gas dan pasokan gas domestik yang selama ini dipenuhi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. “Harus ada aturan yang jelas karena ini kan natural monopoli dari PGN. Bukan kontrak ulang yang kita inginkan tapi kita buat ada kontrak jangka pendek supaya produsen punya posisi tawar untuk harga gas. Kalau ada pengaturan penjualan gas maka mood investor tidak berubah,” tuturnya. Apalagi, tambah dia, pipanisasi gas dari Sumatera Selatan menuju Jawa Barat kembali tertunda akibat permasalahan teknis soal pembebasan lahan yang belum rampung. “Kelanjutan soal gas untuk industri keramik di Jawa Barat masih menunggu pipanisasi selesai. Tapi sepertinya realisasi itu mundur lagi dan diperkirakan pada Agustus ini baru rampung dari perkiraan awal Juli 2007,” ucapnya. Benny menerangkan, Deperin telah mengusulkan untuk membuat neraca pasokan serta kebutuhan gas per sektor industri, bahkan per perusahaan. “Kemudian kami akan menyusun pendekatan penanganan apakah nanti berbentuk prioritas atau yang lain. Pembuatan neraca gas itu akan dikoordinasikan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,” tuturnya. Dalam neraca gas yang dibuat Deperin, selama 2005 tercatat defisit gas nasional mencapai 1.362 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day /MMScfd). Pasokan yang ada hanya sebanyak 8.100 MMscfd, sementara kebutuhan mencapai 9.462 MMscfd. Pada 2010, defisit gas nasional akan meningkat naik menjadi 1.601 MMscfd karena kebutuhan industri mencapai 14.248 MMscfd, sementara pasokan hanya 12.646 MMScfd. Sedangkan pada 2015, defisit gas mencapai puncaknya hingga 5.281 MMscfd karena pasokan pada tahun itu telah menurun sesuai dengan siklus lapangan gas menjadi hanya 9.608 MMscfd, padahal kebutuhan justru naik menjadi 14.889 MMscfd

Berita Daerah

26 Apr 2007

Kontrak Gas US$ 3,1 Miliar Diteken

Asaki.or.id – Jakarta, Tujuh perjanjian jual beli gas (PJBG) bernilai US$ 3,1 miliar dengan volume mencapai 738,52 triliun british thermal unit (tbtu) untuk keperluan domestik ditandatangani di Jakarta, Rabu (25/4). Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Kardaya Warnika mengatakan, penandatanganan PJBG tersebut untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, pabrik pupuk, kilang minyak, dan industri lainnya. “Ini agar dipasok secepatnya. Gas sebanyak 343 tbtu untuk pembangkit, sisanya untuk industri lain di Jawa, Sumatera, dan sebagian Kalimantan,” kata Kardaya usai penandatangan tersebut. PJBG tersebut adalah JOB Pertamina-Hess Jambi Merang sebagai produsen gas menjual gas mencapai 343,4 tbtu dari lapangan gas Sungai Kenawang dan Pulau Gading mencapai senilai US$ 1,18 miliar kepada PT PLN (Persero), dengan lama kontrak 10 tahun. Chevron Indonesia menjual gas kepada PT Pertamina (Persero) untuk Kilang Balikpapan, dengan lama kontrak enam tahun dan volume gas 65 tbtu senilai US$ 357,5 juta dari apangan gas Seturian. PT Pertamina EP menjual gas kepada PT Pupuk Sriwijaya selama lima tahun, dengan volume gas mencapai 326,03 tbtu senilai US$ 1,131 miliar. Gas akan dipasok dari lapangan Region Sumatera bagian selatan (Sumbagsel). Pertamina EP sebagai produsen menjual gas kepada PT Titis Sampurna selama tiga tahun, dengan volume mencapai 2,19 tbtu. Pertamina EP juga menjual gas kepada PT Pertiwi Nusantara Resources selama tiga tahun dengan volume gas 0,7 tbtu, kepada PT Pertiwi Nusantara selama tiga tahun dengan volume gas 0,5 tbtu, kepada PT Energi Kompresindo selama tiga tahun dengan volume gas 0,7 tbtu. Menurut Kardaya, keempat PJBG terakhir yang volumenya sebanyak 4,2705 tbtu dengan nilai US$ 430 juta itu, memanfaatkan gas buang (flare gas) milik Pertamina EP Region Jawa Barat. Pasokan gas diambilkan dari lapangannya Semanggi untuk PT Titis Sampurna, Kandanghaur Timur untuk PT Pertiwi Nusantara Resources, Pegaden untuk PT Pertwi Nusantara Rescources, dan Sukamandi untuk PT Energi Kompresindo. Deputi Keuangan dan Ekonomi BP Migas Eddy Purwanto menambahkan, harga rata-rata PJBG tersebut di atas US$ 2 per mmbtu. “PJBG flare gas merupakan kontrak baru, sementara yang lainnya merupakan amendemen PJBG. Dengan ini diharapkan kebutuhan gas untuk industri lebih terjamin,” tegasnya. Sementara itu, Direktur Keuangan PLN Parno Isworo mengatakan, gas yang diperolehnya akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Jawa Barat dalam program penambahan daya (repowering), seperti PLTGU Muara Tawar. Harga beli gas itu rata-rata US$ 2,95 per mmbtu. “Dengan pasokan gas tersebut, kami bias menghemat dana Rp 36,48 triliun dibandingkan membeli bahan bakar minyak (BBM, red) selama 10 tahun,” katanya. Flare Gas Kardaya melanjutkan, pemanfaatan flare gas perlu ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Flare gas umumnya merupakan sisa dari penambangan minyak mentah, karena jumlahnya yang sedikit banyak yang dibakar. “Bahkan, ke depan harus zero flare gas. Apalagi kalau tidak manfaatkan, ya gas ini harus dibakar, kalau tidak memang berbahaya,” tegasnya. Menurut dia, sebelumnya semua produsen gas terpaksa membuang-buang gas dengan membakarnya, kini justru mulai mengais-ngais gas. Sebab, kebutuhan gas saat ini terus meningkat, karena harganya lebih murah dibandingkan BBM. Selama ini, lanjut dia, pemerintah terpaksa membakar sekitar 60 juta kaki kubik per hari (mile-mile cubic feet per day/mmcfd) flare gas secara percuma di Laut Jawa, selama puluhan tahun. Hal itu dilakukan, karena waktu itu voluemnya yang umumnya kecil, sementara harganya waktu itu masih sangat rendah. “Pembakaran gas setara kebutuhan satu pabrik pupuk itu harus dilakukan, sebelum akhirnya gas membakar perkampungan sekitar ataupun kapal yang lewat,” imbuhnya.

Berita Informasi Teknologi

26 Apr 2007

Pertumbuhan Ponsel Global Melambat

Asaki.or.id – Jakarta, Samsung berjaya karena mampu memanfaatkan kesialan Motorola. Samsung berhasil meraih pertumbuhan dua kuartal berturut-turut sekaligus pertumbuhan tahunan. FIRMA riset International Data Corp (IDC) mengungkapkan, pada kuartal pertama 2007 pasar ponsel dunia terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Survei Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker terbaru yang dirilis IDC memaparkan, para produsen ponsel dunia berhasil menjual 256,4 juta unit ponsel secara global pada tiga bulan pertama 2007. IDC menilai, angka penjualan ponsel global pada kuartal pertama 2007 meningkat 10% daripada kuartal pertama 2006. Namun, IDC menegaskan, penjualan ponsel global pada kuartal pertama 2007 melemah 13,8% daripada penjualan pada kuartal keempat 2006. IDC menjelaskan, tiga bulan pertama 2007 merupakan kuartal pertama di mana pasar ponsel dunia mengalami pertumbuhan lebih lambat. Kinerja kuartal pertama 2007 sangat kontras dari pertumbuhan pesat yang terjadi pada setiap kuartal di sepanjang 2006. Pertumbuhan tahunan (YoY – year on year) pada masingmasing kuartal di 2006 sanggup melampaui 20%.Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan 10% yang terjadi pada tiga bulan pertama 2007.Penurunan penjualan ponsel tersebut selaras dengan perkiraan IDC. IDC memaparkan, ketika semakin banyak penduduk dunia berlangganan layanan seluler, maka semakin sedikit penduduk yang belum berlangganan. Konsekuensinya, pasar ponsel pun mengalami pergeseran. Dulu, pembeli ponsel adalah para pelanggan baru layanan seluler, mereka belum pernah memiliki ponsel dan baru membeli ponsel untuk pertama kalinya. Sebaliknya, pada saat ini pelanggan membeli ponsel untuk mengganti ponsel yang sudah dimiliki. Dengan demikian, pasar ponsel dunia memang akan terus bertumbuh, namun pertumbuhan tersebut tidak akan sepesat pada masa silam ketika pengguna ponsel masih sedikit. ”Peningkatan penjualan ponsel dunia sebagian didorong pelanggan baru di pasar berkembang dan sebagian yang lain adalah pembelian ponsel pengganti di pasar matang,” ungkap Research Analyst Mobile Devices Technology and Trends Group IDC Ramon Llamas. Llamas menjelaskan, karena layanan konektivitas suara dasar dan keterjangkauan harga kerap menjadi komponen penentu permintaan di pasar berkembang, maka produsen ponsel yang rajin menawarkan ponsel murah di pasar-pasar tersebut berisiko terkena dampak penurunan ASP (harga jual rata-rata). Profitabilitas produsen turun ketika ASP turun. Agar tidak terkena penurunan ASP,Llamas menegaskan, produsen harus melakukan penyeimbangan portofolio (kombinasi ponsel kelas pemula, menengah, dan atas), memperbaiki efisiensi rantai suplai logistik, serta memindahkan produksi ke negaranegara yang berbiaya rendah. Samsung Berjaya Research Analyst Worldwide Mobile Phone Tracker IDC Ryan Reith mengungkapkan, pada kuartal pertama 2007 peringkat lima produsen ponsel terbesar dunia memang tidak berubah. Namun, Reith menyatakan, pasar ponsel dunia saat ini diwarnai tren baru yang menarik. ”Samsung mampu memanfaatkan kesialan Motorola. Alhasil, Samsung mampu meraih pertumbuhan berturut-turut pada kuartal keempat 2006 hingga kuartal pertama 2007. Pertumbuhan kuartalan berurutan ini sangat jarang terjadi pasar ponsel yang sangat dipengaruhi musim,”sebut Reith. Reith menambahkan, kendati Motorola berencana kembali menggairahkan pertumbuhan, perubahan mendadak momentum pasar ponsel dunia menegaskan bahwa industri ponsel memang sangat kompetitif. Di pasar ponsel global, produsen yang berjaya adalah produsen yang aktif menyajikan inovasi. Secara detail IDC menjelaskan, produsen ponsel terbesar dunia pada kuartal pertama 2007 adalah Nokia. Posisi puncak masih dikuasai produsen Finlandia tersebut karena Nokia berhasil mencatat angka penjualan 91,1 juta unit pada tiga bulan pertama 2007. Sukses Nokia didorong kesinambungan pertumbuhan penjualan ponsel di wilayahwilayah penentu. Penjualan ponsel Nokia di Timur Tengah, Afrika, dan China meningkat daripada kuartal keempat 2006.Sementara itu,penjualan di Asia Pasifik stabil, tidak turun dari periode belanja akhir tahun. Ponsel-ponsel kelas atas produksi Nokia juga sangat sukses di pasar. Di pasar ponsel kelas atas (smartphone), Nokia berhasil mencatat rekor penjualan 11,8 juta unit. Kesuksesan smartphone Nokia didorong keberhasilan N73, N70, dan E65 yang baru diluncurkan. Dengan bersusah payah, Motorola berhasil mempertahankan posisi kedua terbesar pada kuartal pertama 2007. Fokus pemulihan Motorola membuahkan penjualan 45,5 juta unit pada periode tersebut. Namun, produsen AS tersebut terpukul kerugian penjualan pada tiga bulan pertama 2007. Posisi terbesar ketiga dunia pada kuartal pertama 2007 dikuasai Samsung. Produsen ponsel Korea Selatan tersebut sukses dengan meraih pertumbuhan sequential (perbanding an kuartal saat ini dengan kuartal sebelumnya) serta pertumbuhan tahunan (kuartal tahun ini dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya). Dengan sukses berganda tersebut, Samsung berhasil mencatat rekor baru penjualan sebesar 34,8 juta unit. Pendorong utama sukses Samsung adalah ponsel tipis Ultra Edition, terutama D900 dan E250. Di samping Samsung, produsen ponsel yang sukses besar pada kuartal pertama 2007 adalah Sony Ericsson.Joint venture Jepang-Swedia tersebut berhasil meraih pertumbuhan tahunan terbesar di antara lima produsen ponsel terbesar dunia. Sony Ericsson mempertahankan posisi keempat terbesar dengan penguatan penjualan ponsel murah dan menengah di Eropa, Asia Pasifik, dan Amerika Latin.

Sumber:  SO
Berita Properti

11 Apr 2007

Pameran Keramik Plaza Perindustrian

Asaki.or.id – Jakarta, Pada tanggal 8-11 Mei 2007 bertempat di Lobby Gedung Departemen Perindustrian akan digelas Pameran Keramik dan Workshop yang akan diresmikan oleh Bapak Menteri Perindustrian Republik Indonesia.

Dalam pameran ini, lebih dari 40 booth akan diisi oleh anggota ASAKI baik dari industri tile, saniter, maupun tableware.

Lebih lengkap mengenai pameran ini, silahkan menghubungi Sekretariat ASAKI melalui email di info@asaki.or.id

Sumber:  ASAKI
Berita Manajemen

07 Apr 2007

DEPERIN TARGETKAN PERTUMBUHAN INDUSTRI 8,1 PERSEN PADA 2007

Asaki.or.id – jkt, Jakarta, 6/4 (ANTARA) – Departemen Perindustrian (Deperin) menargetkan pertumbuhan industri sebesar 8,1 persen pada 2007 untuk mencapai target rata-rata pertumbuhan industri 2004-2009 sebesar 8,6 persen. Hal itu dikemukakan Menperin Fahmi Idris di Jakarta, Kamis, pada rapat kerja (Raker) Deperin untuk menyusun rencana kerja 2007. Deperin, kata Fahmi, menargetkan pertumbuhan kelompok industri makanan, minuman, dan tembakau, sebesar 5,1 persen, kelompok tekstil, barang dari kulit dan alas kaki (5,0 persen), kelompok barang kayu dan hasil hutan (3,0 persen) serta logam dasar, besi, dan baja sebesar 3,0 persen. Pertumbuhan yang cukup tinggi diharapkan dari kelompok industri kertas dan barang cetakan sebesar 8,0 persen, pupuk, kimia dan barang dari karet (9,0 persen), serta kelompok alat angkut, mesin, dan peralatan sebesar 12,3 persen. Kelompok barang lainnya ditargetkan tumbuh 6,0 persen. Untuk mencapai target itu, kata Fahmi, rencana kerja 2007 diarahkan pada peningkatan daya saing industri manufaktur, peningkatan volume dan nilai ekspor, peningkatan intensitas standarisasi industri, pengembangan klaster, dan peningkatan SDM di pemerintahan maupun dunia usaha. “Peningkatan daya saing perlu agar pangsa pasar industri dalam negeri di pasar domestik semakin besar,” katanya. Pada 2006, Deperin menargetkan pertumbuhan industri sebesar 7,7 persen atau naik dibandingkan 2005 yang hanya 5,8 persen, jauh lebih kecil dibanding 2004 yang mencapai 7,51 persen. Fahmi optimis target 2006 akan tercapai karena tahun ini diawali dengan adanya perbaikan makro ekonomi yang terlihat dari makin turunnya tingkat inflasi dan nilai tukar yang menguat dan stabil. Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 sasaran pembangunan industri nasional, selain pertumbuhan industri 8,6 persen adalah antara lain peningkatan kapasitas produksi sekitar 80 persen, peningkatan penyerapan tenaga kerja rata-rata 500 ribu per tahun, serta meningkatnya investasi Rp40 triliun sampai Rp50triliun per tahun. Lemah Fahmi juga mengatakan alih teknologi industri di dalam negeri untuk beberapa produk masih lemah dan lamban sekali. Karena itu, dalam RPJM tersebut juga ditargetkan peningkatan proses alih teknologi dan untuk itu ia meminta jajaran Deperin di pusat maupun daerah meningkatkan kualitas dan pelayanan demi terwujudnya berbagai sasaran tersebut.