07 Apr 2007
DEPERIN TARGETKAN PERTUMBUHAN INDUSTRI 8,1 PERSEN PADA 2007
Asaki.or.id – jkt, Jakarta, 6/4 (ANTARA) – Departemen Perindustrian (Deperin) menargetkan pertumbuhan industri sebesar 8,1 persen pada 2007 untuk mencapai target rata-rata pertumbuhan industri 2004-2009 sebesar 8,6 persen. Hal itu dikemukakan Menperin Fahmi Idris di Jakarta, Kamis, pada rapat kerja (Raker) Deperin untuk menyusun rencana kerja 2007. Deperin, kata Fahmi, menargetkan pertumbuhan kelompok industri makanan, minuman, dan tembakau, sebesar 5,1 persen, kelompok tekstil, barang dari kulit dan alas kaki (5,0 persen), kelompok barang kayu dan hasil hutan (3,0 persen) serta logam dasar, besi, dan baja sebesar 3,0 persen. Pertumbuhan yang cukup tinggi diharapkan dari kelompok industri kertas dan barang cetakan sebesar 8,0 persen, pupuk, kimia dan barang dari karet (9,0 persen), serta kelompok alat angkut, mesin, dan peralatan sebesar 12,3 persen. Kelompok barang lainnya ditargetkan tumbuh 6,0 persen. Untuk mencapai target itu, kata Fahmi, rencana kerja 2007 diarahkan pada peningkatan daya saing industri manufaktur, peningkatan volume dan nilai ekspor, peningkatan intensitas standarisasi industri, pengembangan klaster, dan peningkatan SDM di pemerintahan maupun dunia usaha. “Peningkatan daya saing perlu agar pangsa pasar industri dalam negeri di pasar domestik semakin besar,” katanya. Pada 2006, Deperin menargetkan pertumbuhan industri sebesar 7,7 persen atau naik dibandingkan 2005 yang hanya 5,8 persen, jauh lebih kecil dibanding 2004 yang mencapai 7,51 persen. Fahmi optimis target 2006 akan tercapai karena tahun ini diawali dengan adanya perbaikan makro ekonomi yang terlihat dari makin turunnya tingkat inflasi dan nilai tukar yang menguat dan stabil. Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 sasaran pembangunan industri nasional, selain pertumbuhan industri 8,6 persen adalah antara lain peningkatan kapasitas produksi sekitar 80 persen, peningkatan penyerapan tenaga kerja rata-rata 500 ribu per tahun, serta meningkatnya investasi Rp40 triliun sampai Rp50triliun per tahun. Lemah Fahmi juga mengatakan alih teknologi industri di dalam negeri untuk beberapa produk masih lemah dan lamban sekali. Karena itu, dalam RPJM tersebut juga ditargetkan peningkatan proses alih teknologi dan untuk itu ia meminta jajaran Deperin di pusat maupun daerah meningkatkan kualitas dan pelayanan demi terwujudnya berbagai sasaran tersebut.

