Berita Daerah

26 Apr 2007

Kontrak Gas US$ 3,1 Miliar Diteken

Asaki.or.id – Jakarta, Tujuh perjanjian jual beli gas (PJBG) bernilai US$ 3,1 miliar dengan volume mencapai 738,52 triliun british thermal unit (tbtu) untuk keperluan domestik ditandatangani di Jakarta, Rabu (25/4). Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Kardaya Warnika mengatakan, penandatanganan PJBG tersebut untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, pabrik pupuk, kilang minyak, dan industri lainnya. “Ini agar dipasok secepatnya. Gas sebanyak 343 tbtu untuk pembangkit, sisanya untuk industri lain di Jawa, Sumatera, dan sebagian Kalimantan,” kata Kardaya usai penandatangan tersebut. PJBG tersebut adalah JOB Pertamina-Hess Jambi Merang sebagai produsen gas menjual gas mencapai 343,4 tbtu dari lapangan gas Sungai Kenawang dan Pulau Gading mencapai senilai US$ 1,18 miliar kepada PT PLN (Persero), dengan lama kontrak 10 tahun. Chevron Indonesia menjual gas kepada PT Pertamina (Persero) untuk Kilang Balikpapan, dengan lama kontrak enam tahun dan volume gas 65 tbtu senilai US$ 357,5 juta dari apangan gas Seturian. PT Pertamina EP menjual gas kepada PT Pupuk Sriwijaya selama lima tahun, dengan volume gas mencapai 326,03 tbtu senilai US$ 1,131 miliar. Gas akan dipasok dari lapangan Region Sumatera bagian selatan (Sumbagsel). Pertamina EP sebagai produsen menjual gas kepada PT Titis Sampurna selama tiga tahun, dengan volume mencapai 2,19 tbtu. Pertamina EP juga menjual gas kepada PT Pertiwi Nusantara Resources selama tiga tahun dengan volume gas 0,7 tbtu, kepada PT Pertiwi Nusantara selama tiga tahun dengan volume gas 0,5 tbtu, kepada PT Energi Kompresindo selama tiga tahun dengan volume gas 0,7 tbtu. Menurut Kardaya, keempat PJBG terakhir yang volumenya sebanyak 4,2705 tbtu dengan nilai US$ 430 juta itu, memanfaatkan gas buang (flare gas) milik Pertamina EP Region Jawa Barat. Pasokan gas diambilkan dari lapangannya Semanggi untuk PT Titis Sampurna, Kandanghaur Timur untuk PT Pertiwi Nusantara Resources, Pegaden untuk PT Pertwi Nusantara Rescources, dan Sukamandi untuk PT Energi Kompresindo. Deputi Keuangan dan Ekonomi BP Migas Eddy Purwanto menambahkan, harga rata-rata PJBG tersebut di atas US$ 2 per mmbtu. “PJBG flare gas merupakan kontrak baru, sementara yang lainnya merupakan amendemen PJBG. Dengan ini diharapkan kebutuhan gas untuk industri lebih terjamin,” tegasnya. Sementara itu, Direktur Keuangan PLN Parno Isworo mengatakan, gas yang diperolehnya akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Jawa Barat dalam program penambahan daya (repowering), seperti PLTGU Muara Tawar. Harga beli gas itu rata-rata US$ 2,95 per mmbtu. “Dengan pasokan gas tersebut, kami bias menghemat dana Rp 36,48 triliun dibandingkan membeli bahan bakar minyak (BBM, red) selama 10 tahun,” katanya. Flare Gas Kardaya melanjutkan, pemanfaatan flare gas perlu ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Flare gas umumnya merupakan sisa dari penambangan minyak mentah, karena jumlahnya yang sedikit banyak yang dibakar. “Bahkan, ke depan harus zero flare gas. Apalagi kalau tidak manfaatkan, ya gas ini harus dibakar, kalau tidak memang berbahaya,” tegasnya. Menurut dia, sebelumnya semua produsen gas terpaksa membuang-buang gas dengan membakarnya, kini justru mulai mengais-ngais gas. Sebab, kebutuhan gas saat ini terus meningkat, karena harganya lebih murah dibandingkan BBM. Selama ini, lanjut dia, pemerintah terpaksa membakar sekitar 60 juta kaki kubik per hari (mile-mile cubic feet per day/mmcfd) flare gas secara percuma di Laut Jawa, selama puluhan tahun. Hal itu dilakukan, karena waktu itu voluemnya yang umumnya kecil, sementara harganya waktu itu masih sangat rendah. “Pembakaran gas setara kebutuhan satu pabrik pupuk itu harus dilakukan, sebelum akhirnya gas membakar perkampungan sekitar ataupun kapal yang lewat,” imbuhnya.

Comments are closed.