15 May 2007
10 Investor Keramik Stop Produksi
Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (SINDO) –Sebanyak 10 perusahaan keramik menghentikan produksinya untuk sementara waktu akibat terhentinya pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Imbas penghentian proses produksi tersebut adalah kerugian yang ditaksir mencapai Rp10 miliar. Ketua Umum Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya menyatakan, penghentian pasokan gas sudah terjadi sejak Kamis (10/5). Hingga sekarang, seluruh produsen keramik di kawasan Bitung,Tangerang,Banten, dan Balaraja terancam bangkrut. Sekitar 10 perusahaan keramik tableware raksasa yang kini tidak mendapat pasokan gas,di antaranya Roman Ceramics, Toto (PMA asal Amerika Serikat), Arwana, Doulton Indonesia.Sementara itu,perusahaan keramik ubin dinding dan lantai, yakni Luki Ceramic dan Kopin sudah menghentikan produksinya sejak Kamis (10/5). ’’Kalau gasnya dalam waktu 1–2 hari ini tidak mengalir lancar dengan kualitas minimum 1,2 bar,pada 18 Mei nanti produsen keramik sudah tidak layak lagi beroperasi. Saat ini, yang diterima produsen cuma 0,1 bar–0,2 bar.Kalau begini, mendingan tutup dan jadi pedagang saja,”ujar Achmad,kemarin. Menurut dia,penghentian pasokan gas tersebut karena PT Pertamina (persero) meminta PGN memasok gas sebesar 25 million metric square cubic feet per day (mmscfd) yang diambil dari komitmen kontrak Pertamina-PGN sebesar 80 mmscfd. ’’Gas PGN sekarang dikurangi sama Pertamina sehingga pasokan gas PGN saat ini tinggal 55 mmscfd. Padahal, awal bulan lalu tidak seperti ini,”ujarnya. Achmad memperkirakan,kerugian yang diderita industri keramik akibat terhentinya pasokan gas PGN diperkirakan mencapai Rp10 miliar dan berpotensi merumahkan sekitar 20.000 karyawan. ’’Bukan hanya industri keramik yang terkena dampaknya, industri penunjangnya yakni karton, pengemasan, dan jasa logistik ikut tidak beroperasi,”tegasnya. Sementaraitu,Menteri Perindustrian Fahmi Idris menegaskan, PT PGN berada dalam posisi serbasulit karena pada dasarnya, PGN tidak berniat untuk menghentikan pasokan gas ke industri keramik. Namun, karena memang mereka memiliki suplai gas yang terbatas, tidak ada pihak yang bisa disalahkan. ’’Ini terjadi karena mereka mendapat suplai gasnya terbatas juga dari Pertamina. Keterbatasan suplai gas mengakibatkan PGN maupun Pertamina terpaksa membagi- bagi dan membuat giliran (penyaluran gas),”tutur Fahmi. Menanggapi keterbatasan pasokan gas dari PGN, anggota Komisi VIIDPR(ESDM) Alvinliemengungkapkan, hal itu dipicu oleh prioritas PGN yang tidak lagi melayani konsumen, termasuk industri, melainkan kepada sektor transmisi. ’’Selain itu, ini merupakan bukti tidak konsistennya program konversi energi dari BBM ke gas yang selama ini digaungkan pemerintah,” ujarnya. (thomas pulungan)

