15 May 2007
Instrumen Perbankan Bisa Cegah Penyelundupan Keramik
Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta - Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) minta dilakukan pengontrolan impor keramik melalui instrumen perbankan. Lewat instrumen perbankan bisa dicek apakah transfer barang sesuai dengan invoice.
Asaki menilai, meski impor keramik dikenakan safe guard tapi belum bisa memberantas penyelundupan. Dampak pengenaansafe guard juga dinilai masih belum terasa untuk mengurangi barang selundupan.
Untuk itu Asaki akan melobi Menkeu untuk memuluskan permintaannya tersebut.
Demikian dikatakan oleh Ketua Asaki, Ahmad Wijaya disela acara pameran keramik, di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (8/5/2007).
”Misalnya si A dia mengimpor dari mana-mana salah satunya Cina. Kita tidak tahu dia memasukkan berapa jumlah dan harganya karena packing list dan bill of lending (B/L) itu tidak masuk dalam paket pengontrolan Bea Cukai,” kata Ahmad.
Melalui instrumen perbankan, lanjut Ahmad, nantinya bisa dicek berapa jumlah yang ditransfer dan sesuaikah denganinvoice.
”Kenapa dalam Bea Cukai tidak dimasukkan instrumen perbankan, padahal saat mereka membeli dan membayar harus ada validasi bank. Bank kan bisa korespondensi ke lur negeri,” tanya Ahmad.
”Jadi akan jelas berapa harga dan jumlahnya bukan hanya untuk penghitungan pajak tapi juga pengontrolan,” imbuh Ahmad.
Menurutnya, pada tahun 1970-an semua impor tercatat karena harus menggunakan L/C. Namun karena perbankan diregulasi impor kini bisa dilakukan cukup dengan memakaitelegraphic transfer.

