Berita Manajemen

27 Jun 2007

Pemerintah Minta Penjelasan PGN

Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta, kompas – Pemerintah akan minta penjelasan ke PT Perusahaan Gas Negara terkait dengan rencana kenaikan harga gas yang akan diberlakukan pada Agustus 2007.

Direktur Jenderal Migas Luluk Sumiarso, Selasa (26/6) di Jakarta, mengatakan, sesuai dengan undang-undang, penetapan harga gas seharusnya diketahui oleh pemerintah. “Berdasarkan pemahaman saya, sesuai amandemen Undang-Undang Migas, penetapan harga gas itu menjadi domain pemerintah,” ujar Luluk.

PT PGN berencana menaikkan harga gas untuk kalangan industri sebesar 10 persen. Kenaikan diperlukan untuk menyesuaikan dengan harga beli dari produsen gas yang juga naik.

Sejauh ini, sejumlah kesepakatan harga gas tetap gagal dilaksanakan meskipun telah ada campur tangan pemerintah. Misalnya, harga gas yang disalurkan dari lapangan milik ConocoPhilips untuk PT Perusahaan Listrik Negara. Pemerintah telah minta agar harga gas 3,5 dollar AS per MMBTU, tetapi PGN tetap menginginkan harga 4,5 dollar AS per MMBTU.

Menurut Luluk, meskipun kesepakatan soal harga dicapai melalui perundingan bisnis, penetapan tetap harus dilakukan pemerintah. “Oleh karena itu, saya akan minta penjelasan ke PGN dalam waktu dekat,” ujar Luluk.

Tahun 2004, Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan untuk mengamandemen sejumlah pasal dalam UU Migas yang dinilai terlalu proliberalisasi pasar. Harga bahan bakar minyak dan gas termasuk yang harus ditetapkan pemerintah.

Sekretaris Perusahaan PT PGN Widyatmiko Bapang mengatakan, sampai saat ini amandemen UU Migas belum dikeluarkan pemerintah. Oleh karena itu, PGN berpegang pada Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi.

“Mengacu pada aturan itu, pemerintah hanya mengatur harga gas untuk rumah tangga dan usaha kecil. Kalau pemerintah mau mengubah aturan itu, ya silakan,” kata Widyatmiko.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya menyatakan, kenaikan harga gas tidak bisa ditentukan sepihak oleh PGN dan harus ditunda. Alasannya, pasokan gas dari proyek pemipaan Sumatera Selatan Jawa Barat pun belum ada jaminan.

Menurut dia, kenaikan harga paling tidak dibicarakan sekitar November 2007 dan kenaikan harga pada awal Januari 2008.

Dalam pembicaraan kenaikan harga itu, Widjaya meminta BP Migas didampingi Departemen Perindustrian sebagai penengah.

Selama ini, menurut Widjaya, dalam kekisruhan pasokan gas, PGN selalu memosisikan diri sebagai distributor dan melempar tanggung jawab itu kepada Pertamina sebagai produsen.

Widjaya menyatakan, suplai gas PGN diperkirakan baru mencapai 65 persen dari kontraknya yang sebesar 107 MMSCFD per tahun. PGN harus memenuhi dahulu kekurangan itu sebelum menaikkan harga gas.

Total omzet sebanyak 67 anggota Asaki mencapai Rp 13 triliun per tahun. (dot/osa)

Berita Properti

08 Jun 2007

Asosiasi Keramik Bahas Kenaikan Harga Produk

Asaki.or.id – Jakarta, Walaupun penghentian subsidi KPR tidak mempengaruhi penjualan keramik, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) tengah bersiap menaikkan harga produk mereka.

 

JAKARTA (Media): Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) tengah membahas kemungkinan kenaikan harga produk keramik bangunan, sementara penghentian subsidi KPR tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap penjualan keramik di dalam negeri.Demikian ungkap Direktur PT Arwana Citramulia (pabrik keramik bangunan) Johan Lugimin di Jakarta, kemarin. Menurut dia, komponen bahan baku impor industri keramik mencapai 30%, sedangkan 70% lagi berasal dari dalam negeri berupa lempung. Dengan kenaikan kurs dolar AS yang kini Rp 11.350-an per dolar, maka biaya produksi ikut meningkat. 

“Biasanya, kalau dolar naik, kami saling mengintai untuk menaikkan harga. Jika kenaikkan dolar sudah tetap seperti sekarang, biasanya kami berembuk untuk membicarakan penyesuaian harga. Beberapa hari lalu kami sudah membicarakan kemungkinan kenaikan harga di kantor Asaki,” kata Johan tanpa menyebut kemungkinan berapa persen kenaikannya.

Kenaikan harga keramik tahun lalu terjadi tiga kali, yakni pada April, Juli, dan September. Sedangkan tahun ini baru sekali, yaitu pada Februari. Kenaikkan berikutnya diperkirakan tidak lama lagi.

Mengenai prospek penjualan keramik di dalam negeri sehubungan dengan penghentian subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) oleh pemerintah, Johan mengatakan tidak banyak mempengaruhi pasar. Sebab, kini telah terjadi pergeseran pasar dari kualitas keramik berbahan baku granito turun ke kualitas keramik biasa. Pergeseran ini sejalan dengan penurunan daya beli konsumen.

Menurut dia, 95% produk keramik diserap sektor perumahan. Sektor ini terbagi atas kelas KPR, kelas menengah, dan kelas mewah. “Ketika ekonomi kita booming sebelum 1998, perumahan kelas menengah sempat menaikkan permintaan mutu keramik dari keramik biasa ke kelas granito. Kini perumahan menengah dan sebagian perumahan mewah pun sudah menurunkan mutu keramik yang dipakai, dengan memakai keramik biasa,” jelasnya.

Karena itu, permintaan produk keramik biasa–produksi terbesar di dalam negeri–tidak banyak berubah walaupun subsidi KPR dihentikan. “Apalagi, kami masih bisa menggali direplacement market (pasar pengganti), seperti rumah tegel diganti keramik dan sebagainya,” tambah Johan.

Harga keramik biasa sebelum krisis Rp 15.000 per meter persegi (m2), sedangkan keramik granito Rp 40.000 per m2atau dua setengah kali lebih mahal. Kini keramik biasa Rp 25.000 per m2, sedangkan granito Rp 120.000 per m2 atau empat lima kali lebih mahal.

Johan menjelaskan, perusahaannya kini tengah mempersiapkan penjualan saham mereka untuk mendapat dana segar (go public) di BEJ. Dari total emisi, sekitar 70% untuk memperbesar kepemilikan saham di anak usahanya, PT Sinar Karya Duta Abadi, pabrik keramik di Surabaya. Kemudian, 15% untuk peremajaan mesin dan 15% lagi untuk modal kerja.

“Investor bakal untung. Sebab, nilai buku menurut kami Rp 105 miliar. Padahal, menurut appraisal (penaksiran), Rp 232 miliar. Kami juga market oriented (sesuai dengan keinginan pasar). Barang keluar tungku masih panas sudah langsung naik truk karena dibeli orang, sehingga stok gudang cuma untuk tiga hari,” ujarnya. (Bam/E-2)

Sumber:  Media Indonesia