08 Jun 2007
Asosiasi Keramik Bahas Kenaikan Harga Produk
Asaki.or.id – Jakarta, Walaupun penghentian subsidi KPR tidak mempengaruhi penjualan keramik, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) tengah bersiap menaikkan harga produk mereka.
“Biasanya, kalau dolar naik, kami saling mengintai untuk menaikkan harga. Jika kenaikkan dolar sudah tetap seperti sekarang, biasanya kami berembuk untuk membicarakan penyesuaian harga. Beberapa hari lalu kami sudah membicarakan kemungkinan kenaikan harga di kantor Asaki,” kata Johan tanpa menyebut kemungkinan berapa persen kenaikannya.
Kenaikan harga keramik tahun lalu terjadi tiga kali, yakni pada April, Juli, dan September. Sedangkan tahun ini baru sekali, yaitu pada Februari. Kenaikkan berikutnya diperkirakan tidak lama lagi.
Mengenai prospek penjualan keramik di dalam negeri sehubungan dengan penghentian subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) oleh pemerintah, Johan mengatakan tidak banyak mempengaruhi pasar. Sebab, kini telah terjadi pergeseran pasar dari kualitas keramik berbahan baku granito turun ke kualitas keramik biasa. Pergeseran ini sejalan dengan penurunan daya beli konsumen.
Menurut dia, 95% produk keramik diserap sektor perumahan. Sektor ini terbagi atas kelas KPR, kelas menengah, dan kelas mewah. “Ketika ekonomi kita booming sebelum 1998, perumahan kelas menengah sempat menaikkan permintaan mutu keramik dari keramik biasa ke kelas granito. Kini perumahan menengah dan sebagian perumahan mewah pun sudah menurunkan mutu keramik yang dipakai, dengan memakai keramik biasa,” jelasnya.
Karena itu, permintaan produk keramik biasa–produksi terbesar di dalam negeri–tidak banyak berubah walaupun subsidi KPR dihentikan. “Apalagi, kami masih bisa menggali direplacement market (pasar pengganti), seperti rumah tegel diganti keramik dan sebagainya,” tambah Johan.
Harga keramik biasa sebelum krisis Rp 15.000 per meter persegi (m2), sedangkan keramik granito Rp 40.000 per m2atau dua setengah kali lebih mahal. Kini keramik biasa Rp 25.000 per m2, sedangkan granito Rp 120.000 per m2 atau empat lima kali lebih mahal.
Johan menjelaskan, perusahaannya kini tengah mempersiapkan penjualan saham mereka untuk mendapat dana segar (go public) di BEJ. Dari total emisi, sekitar 70% untuk memperbesar kepemilikan saham di anak usahanya, PT Sinar Karya Duta Abadi, pabrik keramik di Surabaya. Kemudian, 15% untuk peremajaan mesin dan 15% lagi untuk modal kerja.
“Investor bakal untung. Sebab, nilai buku menurut kami Rp 105 miliar. Padahal, menurut appraisal (penaksiran), Rp 232 miliar. Kami juga market oriented (sesuai dengan keinginan pasar). Barang keluar tungku masih panas sudah langsung naik truk karena dibeli orang, sehingga stok gudang cuma untuk tiga hari,” ujarnya. (Bam/E-2)
Sumber: Media Indonesia

