Berita Daerah

24 Jul 2007

Kawasan Sigarbencah Akan Menjadi Pusat Industri Keramik

Asaki.or.id – Jakarta, ”Memproduksi keramik dengan meniru desain China sudah bukan zamannya lagi. Kita bisa mengangkat dan membuat identitas produk keramik lokal, bahkan bahan baku pun mengambil dari bahan lokal,” kata Pemilik Sigar Bencah Keramik Roy Wibisono dalam seminar “Memotivasi Penumbuhan dan Penguatan Industri Kecil Kota Semarang” di Balaikota Semarang, Senin (9/7). Di studio keramiknya di Perumahan Bukit Kencana Jaya, di kawasan perbukitan Sigarbencah, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Roy membuktikan perkataan itu. Bersama sejumlah karyawannya, ia memadukan tanah Sigarbencah yang awalnya berfungsi sebagai tanah uruk dengan pasir atau filspar dan tanah abu dari Gunung Merapi, menjadi bahan keramik. Tanah Sigarbencah yang berwarna putih kusam dan banyak mengandung tanah liat itu menjadi bahan dasar pokok, yaitu sekitar 99 persen.

Dua bahan lain, yaitu filspar dan tanah abu yang banyak mengandung pasir, merupakan bahan baku tambahan. Dari perpaduan tanah itu dan kreativitas lokal, lahirlah keramik Semarang. Keramik-keramik itu menghidupkan ikon-ikon khas Kota Semarang, antara lain Tugu Muda, Gereja Blenduk, dan Lawang Sewu. Motif atau gambar Gereja Blenduk dan Lawang Sewu menjadi penghias gelas, vas bunga, dan jam dinding. Ikon Tugu Muda menjadi miniatur. Yang Melaksanakan Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang Bambang Purnomo mengatakan, kerajinan keramik itu akan dikembangkan menjadi keramik Semarangan

atau keramik khas Kota Semarang. Pengembangan itu dimulai dengan pelatihan sekitar 20 orang, terdiri dari warga sekitar dan peminat pengembang usaha keramik, di Studio Sigar Bencah Keramik pada 20-23 Juli. Dari pelatihan itu, mereka bisa mengembangkan suvenir khas Semarang dari keramik dan menciptakan kreativitas lain yang tetap bernapaskan lokal. “Harapannya, warga sekitar akan turut membuat dan mengembangkan keramik Semarangan sehingga Sigarbencah akan menjadi pusat industri keramik khas Semarang,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur PT Webe Inter Tirzada Wenny mengatakan, Kota Semarang bukan kota seni, keterampilan kerajinan kurang berkembang luas dan memasyarakat. Kondisi itu berbeda dengan kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Jepara. Di kota-kota itu, sebagian besar masyarakat terbiasa dengan keterampilan menghasilkan hasta karya beragam produk. Untuk itu, presiden direktur perusahaan manufaktur dan eksportir beragam kerajinan dari bahan-bahan natural ini akan turut membantu mengembangkan dan memajukan keterampilan para peserta dan perajin kecil.

Berita Manajemen

17 Jul 2007

Industri keramik gagal raih target produksi

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA: Target produksi industri keramik pada semester I/2007 sebanyak 164 juta meter3 dipastikan gagal dicapai akibat gangguan pasokan gas. Pada periode itu realisasi produksi diperkirakan hanya mencapai 35% atau sebesar 120 juta meter3. 

Problem gas tersebut juga secara langsung menyebabkan ekspor keramik pada semester I sangat rendah yakni hanya senilai US$85 juta, dari US$110 juta yang ditargetkan. 

Ketua Umum Asosiasi Industri Aneka Keramik (Asaki) Achmad Widjaya menjelaskan ketidakmampuan kalangan industri keramik mencapai target tersebut disebabkan pasokan gas semester I/2007 mengalami gangguan serius baik volume maupun tekanannya.

“Akibatnya, perusahaan keramik kita kehilangan kepercayaan dari buyers [pembeli di luar negeri]. Sejumlah importir pun mulai merelokasi order mereka ke Malaysia, Vietnam, dan China karena dikhawatirkan pabrik keramik di Indonesia tak mampu memenuhi kontrak order,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan setidaknya terdapat lima produsen keramik besar berorientasi ekspor yang kini kesulitan memenuhi order ekspor. “Akibatnya, mereka terkena dan terancam sanksi penalti oleh buyers.”

Beberapa perusahaan yang terkena dan terancam sanksi penalti tersebut a.l. PT Mulia Ceramics, PT KIA Ceramics, PT Roman Keramik, PT Kobin (Kedaung Group), dan PT Doulton Indonesia.

Salah satu dari lima produsen itu, tambah Widjaya, terancam dikenai penalti US$100.000 per kontainer akibat keterlambatan memenuhi order ekspor ke Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Australia

Berita Informasi Teknologi

17 Jul 2007

Harga Nokia E 90 Communicator Mulai Normal

Asaki.or.id – Jakarta, Harga Nokia E 90 Communicator saat ini mulai normal, di pasaran harga jualnya mencapai Rp. 10.900.000,-. Communicator terbaru Nokia E90, meluncur pertama kali di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, di kampung halaman Nokia pun peluncuran produk ini tertinggal beberapa jam. General Manager Nokia Indonesia, Hasan Aula, mengungkapkan hal tersebut saat peluncuran di Jakarta, Rabu (13/6/2007). “Peluncuran di Indonesia adalah yang pertama di dunia, lebih awal beberapa jam dari Finlandia,” kata Hasan. Ponsel Communicator merupakan salah satu produk unggulan produsen ponsel asal Finlandia ini. Dengan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, Indonesia mendapat giliran pertama untuk disambangi ponsel untuk kalangan profesional ini. Sebelumnya, pada Oktober 2004 Indonesia juga menjadi tempat pertama di dunia diluncurkannya Nokia 9500 Communicator. Saat itu, Hasan Aula menyebut Indonesia sebagai pasar paling besar, dengan penduduk yang memiliki kehidupan sosial yang paling aktif. Selain itu, orang Indonesia dinilai sebagai masyarakat yang paling bisa menerima teknologi baru. Alasan lain dipilihnya Indonesia sebagai tempat peluncuran pertama di dunia adalah faktor penjualan lokal dan dukungan dari Nokia Asia Pasifik. Trisnawan Cipto, Product Marketing Manager Enterprise Solution Nokia Indonesia mengungkap tingginya daya tawar yang dimiliki komunitas pengguna Communicator di Indonesia. Nokia sampai membenamkan fungsionalitas khusus yang disesuaikan dengan permintaan dari anggota komunitas ini. “E90 adalah Communicator pertama yang bisa getar dan ada backlight. Ini sesuai permintaan komunitas Communicator Indonesia,” ujarnya. E90 tampil dengan balutan warna hitam, dengan keyboard QWERTY di bagian dalam, dan keypad di bagian luar. Ponsel dengan sistem operasi Symbian v.9.2 ini dilengkapi kamera 3 Megapixel dan memori internal 128 MB. (nks/nks)

Sumber:  Detik
Berita Properti

17 Jul 2007

Menata dan Memajang Lukisan Keramik

Asaki.or.id – Jakarta,

ARTISTIK Setelah dibingkai, lukisan keramik memberi sentuhan estetis area dining room.

MEMAJANG karya seni seperti lukisan, gampang-gampang susah. Bila tidak tepat, bisa merusak tatanan interior. Media lukis saat ini sangat banyak sekali ragamnya. Di atas kanvas, mungkin itu sudah biasa. 

Kini,salah satu yang tengah tren, adalah lukisan keramik dan porselen. Ketut Yuliantara, desainer dan pemilik CV Bali Permata yang menghasilkan lukisan keramik dan porselen, menyebutkan, pada sisi tertentu media keramik memiliki berbagai keterbatasan. Mulai dari permukaan bidang, menjadi terbatas untuk menjajal berbagai gaya kepelukisan, hingga kondisinya yang rentan terhadap getaran. 

Keramik juga selalu berasosiasi kepada kerajinan. Keramik seolah-olah tak pernah digolongkan ke dalam seni murni yang didominasi oleh lukisan di atas kanvas.Namun, bagi seniman keramik sejati, hal tersebut bukanlah suatu penghalang. 

”Melukis di atas kanvas merupakan hal biasa dilakukan orang banyak, tapi kalau melukis di atas keramik mungkin belum pernah dilakukan. Karena alasan tersebut, kami ingin membuat sesuatu yang baru dan unik. Selain itu, melukis di atas keramik terasa lebih bebas berkreasi dibandingkan dengan media lainnya, seperti melukis di objek piring atau cangkir,” ujar Ketut. 

Keramik lukis yang sudah jadi bisa dimanfaatkan untuk hiasan dinding kamar mandi atau kolam renang. Dengan memasang keramik lukis ini akan memunculkan rasa berbeda di ruangan tadi. Secara keseluruhan,lukisan dengan media keramik memberi karakter yang berat kepada lukisan. 

Namun, karya seni ini tetap dapat dipadukan dengan beragam gaya arsitektur hunian yang disesuaikan tema dan desain hunian yang digunakan. Hunian bergaya Mediteranian yang penuh warna, cocok dilengkapi dengan lukisan keramik yang colorfull. ”Lebih pas lagi bila lukisan keramik ini diterapkan di rumah bergaya Bali karena lukisan keramik yang dibuat di sini identik dengan tema realisme kehidupan di Bali,”ucapnya mengakhiri persuaan dengan SINDO. 

Di mata desainer interior Farida Alaydrus, lukisan keramik dapat dipadukan dengan gaya hunian apa saja.Terpenting tema lukisan keramik tersebut serasi dengan desain interior sebuah ruangan. ”Misalnya, lukisan keramik dengan tema Chinesse, cocok ditempatkan di ruangan rumah bergaya tropis atau oriental. Adapun rumah bergaya etnik tradisional dapat mengaplikasikan lukisan keramik dengan tema senada. Seperti gambar suasana pedesaan,” katanya memberikan contoh. 

Menurut dia, padu-tidaknya sangat bergantung dengan konsep dan tema lukisan tadi. Bahkan, kini lukisan modern yang ditorehkan di lembar keramik juga sudah ada. Lukisan ini tidak hanya terdiri atas satu atau dua warna biasa, tapi ada permainan macam warna. Farida mengungkapkan, apabila lukisan keramik tadi hanya berupa sebuah aksen lukisan, maka desain lukisan itu bisa saja ditempatkan di rumah model apa saja. 

”Jadi tidak kaku semisal desain etnik, maka aksesori semuanya harus yang etnik. Desain rumah modern,tapi ada satu aksen hiasan etnik juga tidak apa-apa. Hal itu masih diterima,” ucap Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia ini. 

Teknik Pencahayaan 

MULTIFUNGSI, Lukisan di atas media keramik di kamar mandi ini memiliki manfaat ganda. 

PENEMPATAN lukisan etnik di gaya rumah modern bisa ditempatkan di satu titik yang eye catching, tanpa memuat hiasan lainnya. Dengan begitu, ruangan tadi mampu mengeluarkan kesan modern dengan lebih terasa. Sementara, lukisan etnik keramik tadi hanya sebagai akses. 

Penempatan lukisan keramik mesti proporsional dengan ruangan. Ukuran tak bisa menjadi patokan. Sejauh eye cathing penempatannya, maka lukisan itu akan lebih memberi makna dalam sebuah ruangan. 

”Bisa saja kami memainkan teknik pencahayaan. Apakah dari atas atau dari bawah yang menyorot ke lukisan tersebut. Penggunaan background cat dan wallpaper di dinding perlu dipilih yang kontras dan jangan warna senada. Ini akan memberikan kesan lebih kuat,” sebut Farida yang juga lulusan Academy of Art College San Fransisco, AS . 

Sementara itu, desainer interior Dewi Haliman mengingatkan, sebelum memutuskan mengaplikasikan sebuah dekorasi ruangan, terlebih dulu perlu menentukan desain rumahnya. Dalam merancang sebuah rumah, Dewi lebih terbiasa mengacu kepada desain rumahnya terlebih dahulu. Baru setelah itu, dekorasi mengikuti desain rumah yang telah ditetapkan. 

Bukan sebaliknya, menetapkan dekorasinya terlebih dulu, lalu merancang desain interior rumah. ”Jadi diawali dengan basic, kontainernya terlebih dulu. Kalau kontainernya sudah jadi, baru mencari dekorasi,” kata Dewi. Si penghuni harus menetapkan terlebih dulu gaya rumah yang memang diinginkannya. Furnitur dan aksesori lainnya baru dapat dipadukan bila cocok dengan gaya rumah yang dipilih tadi. 

Lukisan keramik dan porselen bisa saja dipasang di bagian depan, kamar mandi atau kolam renang. Apalagi kalau benda lukisan keramik itu berwujud, sebagaimana lukisan pada umumnya yang dibingkai, kemudian dipasang di dinding, maka itu dapat dipasang di ruang apa saja. 

Karena hiasan tadi, fungsinya lebih sebagai sebuah hiasan dinding, sama seperti lukisan biasa. Dengan begitu, apa yang dimunculkan dari pemakaian ornamen tersebut, sangat bergantung dengan tema lukisan yang diusung. (nuriwan trihendrawan)

Sumber:  SO
Berita Daerah

14 Jul 2007

Pasokan Gas Minim, Kedaung Grup Kena Penalti

Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta, Kompas – Akibat minimnya pasokan gas, perusahaan keramik Kedaung Group terkena penalti 100 persen. Setelah dinegosiasikan, seluruh pesanan terpaksa dikirim melalui pesawat udara.

Biaya pengiriman itu ternyata mencapai 500.000 dollar AS. Ironisnya, harga jual keramik tableware yang dikemas dalam 12 kontainer (masing-masing berisi 7.448 boks) tidak sebanding ongkos kirimnya. Harga jual tableware berkisar 28.000 dollar AS hingga 29.000 dollar AS per kontainer.

Direktur Produksi Kedaung Group Alton mengungkapkan kerugian yang dialaminya kepada Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya di Jakarta, Selasa (10/7), dalam jumpa pers persiapan pameran “Indo Asian Ceramics 2007″ yang diselenggarakan Rabu-Minggu (11-15 Juli 2007).

Alton mengaku kapok menerima kembali pesanan yang besar dari Inggris. Pasalnya, pasokan gas, baik volume maupun tekanannya, tidak pernah dipenuhi oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) secara kontinu.

Keterlambatan pengiriman akibat minimnya pasokan gas itu terjadi Maret lalu. Padahal, seluruh pesanan seharusnya sudah dikirimkan kepada konsumen di Inggris pada Februari 2007.

Kerugian itu baru diungkapkan karena selama ini Alton memilih bungkam. Kerugian itu pun pernah diungkapkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat resmi, tetapi tidak membuahkan hasil.

Kedaung Group yang dahulu kapasitas produksinya bisa mencapai 2,5 juta keping per bulan, kini menurunkan kapasitas produksinya menjadi 1,5 juta keping per bulan.

Alton mengatakan, “Sebetulnya saya sudah menjadwalkan pengiriman hasil produksi pakai kapal laut. Biaya seluruhnya paling sekitar 5.000 dollar AS. Sayangnya, hingga batas waktu produksi yang ditetapkan, proses produksinya terhambat akibat terhambatnya pasokan gas.”

Achmad Widjaya mengatakan, risiko bisnis memang selalu ada. Untuk urusan gas, pengusaha keramik Indonesia memang tidak mempunyai pilihan.

“Pembangunan pipa gas South Sumatera West Java (SSWJ) saja belum ada kepastian alokasi gas yang bisa disalurkan ke pabrik keramik,” ujarnya. (OSA)