14 Jul 2007
Pasokan Gas Minim, Kedaung Grup Kena Penalti
Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta, Kompas – Akibat minimnya pasokan gas, perusahaan keramik Kedaung Group terkena penalti 100 persen. Setelah dinegosiasikan, seluruh pesanan terpaksa dikirim melalui pesawat udara.
Biaya pengiriman itu ternyata mencapai 500.000 dollar AS. Ironisnya, harga jual keramik tableware yang dikemas dalam 12 kontainer (masing-masing berisi 7.448 boks) tidak sebanding ongkos kirimnya. Harga jual tableware berkisar 28.000 dollar AS hingga 29.000 dollar AS per kontainer.
Direktur Produksi Kedaung Group Alton mengungkapkan kerugian yang dialaminya kepada Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya di Jakarta, Selasa (10/7), dalam jumpa pers persiapan pameran “Indo Asian Ceramics 2007″ yang diselenggarakan Rabu-Minggu (11-15 Juli 2007).
Alton mengaku kapok menerima kembali pesanan yang besar dari Inggris. Pasalnya, pasokan gas, baik volume maupun tekanannya, tidak pernah dipenuhi oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) secara kontinu.
Keterlambatan pengiriman akibat minimnya pasokan gas itu terjadi Maret lalu. Padahal, seluruh pesanan seharusnya sudah dikirimkan kepada konsumen di Inggris pada Februari 2007.
Kerugian itu baru diungkapkan karena selama ini Alton memilih bungkam. Kerugian itu pun pernah diungkapkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat resmi, tetapi tidak membuahkan hasil.
Kedaung Group yang dahulu kapasitas produksinya bisa mencapai 2,5 juta keping per bulan, kini menurunkan kapasitas produksinya menjadi 1,5 juta keping per bulan.
Alton mengatakan, “Sebetulnya saya sudah menjadwalkan pengiriman hasil produksi pakai kapal laut. Biaya seluruhnya paling sekitar 5.000 dollar AS. Sayangnya, hingga batas waktu produksi yang ditetapkan, proses produksinya terhambat akibat terhambatnya pasokan gas.”
Achmad Widjaya mengatakan, risiko bisnis memang selalu ada. Untuk urusan gas, pengusaha keramik Indonesia memang tidak mempunyai pilihan.
“Pembangunan pipa gas South Sumatera West Java (SSWJ) saja belum ada kepastian alokasi gas yang bisa disalurkan ke pabrik keramik,” ujarnya. (OSA)

