Berita Manajemen

19 Sep 2008

Antam Jajaki Pasok Listrik ke PLN

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (SINDO) – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menjajaki untuk memasok listrik ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berdaya 2×75 megawatt (MW) di Pomala, Sulawesi Tenggara senilai USD300 juta. 

”Nantinya listrik itu kita akan jual ke PLN,” kata Direktur Keuangan Antam Djaja M Tambunan di Jakarta kemarin. Djaja mengungkapkan, kajian memasok listrik ke PLN dilakukan dengan terlebih dahulu memasok kebutuhan internal perseroan. Saat ini kebutuhan listrik internal mencapai 110 MW.Jika pembangunan independent power producer (IPP) tersebut terealisasi pada 2010,Antam akan memasok kelebihan daya sebesar 40 MW ke PLN.  

”Saya pikir memasok listrik ke PLN sesuai dengan kondisi saat ini karena hampir di seluruh wilayah kekurangan listrik,”imbuhnya. Mengenai kebutuhan batu bara PLTU tersebut, Djaja belum dapat memberikan angka pastinya karena masih dikaji. Dia hanya mengungkapkan, perseroan berencana menjajaki untuk mengakuisisi sejumlah lahan batu bara. Namun, dia belum dapat mengungkapkan wilayah mana saja yang sedang dibidik. 

”Mungkin tidak terlalu jauh dari lokasi PLTU, tapi bisa juga di luar wilayah tersebut,” katanya. Direktur Utama Antam Alwin Syah Loebis mengatakan, proyek pembangunan PLTU ini dilakukan sebagai energi alternatif di Pomala. PLTU tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2010. ”Selama ini kami menggunakan listrik dengan bahan bakar minyak.Kalau kami terus menggunakan cara ini, agak sulit masuk jadi pemain tingkat dunia,”tuturnya. 

Menurut dia, porsi perseroan dalam proyek IPP ini sebesar 20%, sedangkan sisanya dari sejumlah mitra yang berminat. ”Saat ini masih dalam pembukaan tender,” imbuhnya. Mengacu pada komposisi kepemilikan saham dalam proyek ini,Antam akan merogoh kocek USD60 juta yang berasal dari kas internal, dan sisanya dari mitra strategis. Sayangnya, dia belum dapat menyebutkan perusahaan mana saja yang akan masuk sebagai mitra perseroan dalam proyek ini. ”Bisa dari asing atau lokal,”kelitnya.

Berita Internasional

19 Sep 2008

Jepang Cari Solusi Masalah Pembangunan

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (SINDO) – Permasalahan dan kelemahan pembangunan di Indonesia akan menjadi fokus utama dalam pertemuan All Japan Cooperation Meeting kemarin. Jepang juga akan memberikan solusi,bukan hanya duduk dan diam serta tidak tanggap terhadap kendala yang dihadapi Indonesia. ”Permasalahan pembangunan di Indonesia antara lain di sektor ekonomi. Sektor ekonomi makro masih cukup baik, tetapi yang menjadi permasalahan adalah sektor mikro. Kendala pembangunan ekonomi mikro akan dibahas pada rapat ini,”ungkap Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri pada pembukaan All Japan Cooperation Meetingkemarin. Selain faktor ekonomi,kelemahan di bidang politik dan hak asasi manusia (HAM) juga akan dibahas.Tren pemerintahan otonomi di seluruh penjuru pemerintahan daerah di Indonesia juga menjadi pembahasan menarik. Solusi atas permasalahan itu akan disampaikan kepada Pemerintah Indonesia.Menurut Shiojiri,hal itu dilakukan sebagai bentuk kemitraan strategis sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang maju. Selain permasalahan pembangunan di Indonesia, pertemuan itu juga membahas peran dan posisi Indonesia di komunitas internasional. Menurut Shiojiri, posisi Indonesia di dunia internasional menguat.Namun, seiring 50 tahun persahabatan Jakarta-Tokyo, menurut dia, posisi Jepang di Indonesia justru agak menurun.”Ke depannya, Jepang harus berusaha meningkatkan kerja samanya dengan Indonesia,”katanya. Sementara topik khusus permasalahan Jepang di Indonesia,menurut Shiojiri, adalah faktor krisis manajemen. Dia mengatakan,hal itu penting mengingat terjadinya bencana alam atau kerusuhan massal tidak dapat diprediksi waktu dan tempatnya di Indonesia.Mengingat jumlah warga Jepang yang tinggal di Indonesia cukup banyak, krisis manajemen sangat diperlukan. ”Kita berkewajiban melindungi seluruh warga Jepang yang tinggal di Indonesia,” ucapnya. Menurut Atase Pers Kedutaan Besar Jepang Katsuri Tsunoda, All Japan Cooperation Meeting dihadiri seluruh konsul jenderal Jepang di Indonesia. Kepala Perwakilan JICA (Japan International Cooperation Agency),JETRO (Japan External Trade Organization), dan Japan Foundation juga tampak hadir. ”Seluruh kepala perwakilan Japan Club di seluruh kota besar di Indonesia juga turut hadir ikut memberikan masukan dan saran dalam pertemuan itu,”tutur Tsunoda.

Berita Daerah

04 Sep 2008

Inflasi Tinggi akan Dorong Naiknya BI Rate

Asaki.or.id – Jakarta, Pengamat ekonomi, Edwin Sinaga mengatakan, laju inflasi tahunan yang mencapai 11,85% akan mendorong Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) yang saat ini mencapai 9%. “BI diperkirakan kembali menaikkan bunga BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25% untuk menekan inflasi yang terus melaju di atas target pemerintah sebesar 11,2%,” kata Edwin di Jakarta, Selasa. Ia mengatakan, kenaikan BI Rate ini diharapkan dapat mendorong masuknya investor asing untuk menempatkan dananya di pasar uang Indonesia. “Karena sebagian besar investor asing telah mengambil dananya yang telah dialihkan ke pasar lain yang lebih menguntungkan,” kata Edwin yang juga Presdir Finan Corporindo. Kenaikan BI Rate itu, menurut dia, akan memicu rupiah kembali membaik setelah beberapa hari lalu terpuruk hingga mendekati angka Rp 9.200 per dolar AS. “Kalau rupiah menembus di atas angka Rp 9.200 per dolar AS hal ini sangat mengkhawatirkan,” katanya. Ia mengatakan, BI kemungkinan akan berusaha untuk menjaga rupiah tidak menembus angka Rp 9.200 per dolar AS dengan melepas cadangan dolarnya. Rupiah berada dalam posisi yang aman apabila berkisar antara Rp 9.150 sampai Rp 9.175 per dolar AS, namun jika sampai menembus angka Rp 9.200 per dolar AS biasanya rupiah akan terus terpuruk. “Posisi rupiah yang mencapai level Rp 9.195 per dolar AS sudah sangat mengkhawatirkan akibat rumors inflasi yang tinggi,” ujarnya. Inflasi, menurut dia, akan dapat mencapai angka 12%, karena berbagai faktor negatif yang terjadi di dalam negeri sangat memungkinkan mendorongnya ke arah angka tersebut. Inflasi tak lagi dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga BBM. “Dampak kenaikan BBM sudah tidak ada yang ada kenaikan harga gas,” katanya. Ia menyayangkan dinaikkannya harga gas pada saat masyarakat harus menanggung kenaikan harga BBM. “Ini kurang produktif dan justru kontra produktif. Meski harga gas pada akhirnya disesuaikan, namun saya kira tidak dalam tahun-tahun ini,” katanya. Untuk mengerem tingkat inflasi agar tidak berlebihan, menurut dia, pemerintah harus mempersiapkan diri untuk mengamankan pasokan barang dan memperbaiki distribusi barang terutama pada bulan September dan Desember yang akan terjadi inflasi musiman. “Terutama untuk puasa dan lebaran ini,” katanya.