04 Sep 2008
Inflasi Tinggi akan Dorong Naiknya BI Rate
Asaki.or.id – Jakarta, Pengamat ekonomi, Edwin Sinaga mengatakan, laju inflasi tahunan yang mencapai 11,85% akan mendorong Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) yang saat ini mencapai 9%. “BI diperkirakan kembali menaikkan bunga BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25% untuk menekan inflasi yang terus melaju di atas target pemerintah sebesar 11,2%,” kata Edwin di Jakarta, Selasa. Ia mengatakan, kenaikan BI Rate ini diharapkan dapat mendorong masuknya investor asing untuk menempatkan dananya di pasar uang Indonesia. “Karena sebagian besar investor asing telah mengambil dananya yang telah dialihkan ke pasar lain yang lebih menguntungkan,” kata Edwin yang juga Presdir Finan Corporindo. Kenaikan BI Rate itu, menurut dia, akan memicu rupiah kembali membaik setelah beberapa hari lalu terpuruk hingga mendekati angka Rp 9.200 per dolar AS. “Kalau rupiah menembus di atas angka Rp 9.200 per dolar AS hal ini sangat mengkhawatirkan,” katanya. Ia mengatakan, BI kemungkinan akan berusaha untuk menjaga rupiah tidak menembus angka Rp 9.200 per dolar AS dengan melepas cadangan dolarnya. Rupiah berada dalam posisi yang aman apabila berkisar antara Rp 9.150 sampai Rp 9.175 per dolar AS, namun jika sampai menembus angka Rp 9.200 per dolar AS biasanya rupiah akan terus terpuruk. “Posisi rupiah yang mencapai level Rp 9.195 per dolar AS sudah sangat mengkhawatirkan akibat rumors inflasi yang tinggi,” ujarnya. Inflasi, menurut dia, akan dapat mencapai angka 12%, karena berbagai faktor negatif yang terjadi di dalam negeri sangat memungkinkan mendorongnya ke arah angka tersebut. Inflasi tak lagi dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga BBM. “Dampak kenaikan BBM sudah tidak ada yang ada kenaikan harga gas,” katanya. Ia menyayangkan dinaikkannya harga gas pada saat masyarakat harus menanggung kenaikan harga BBM. “Ini kurang produktif dan justru kontra produktif. Meski harga gas pada akhirnya disesuaikan, namun saya kira tidak dalam tahun-tahun ini,” katanya. Untuk mengerem tingkat inflasi agar tidak berlebihan, menurut dia, pemerintah harus mempersiapkan diri untuk mengamankan pasokan barang dan memperbaiki distribusi barang terutama pada bulan September dan Desember yang akan terjadi inflasi musiman. “Terutama untuk puasa dan lebaran ini,” katanya.

