Berita Manajemen

27 Apr 2009

Industri keramik tertolong pasar domestik

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA – Industri keramik nasional hingga kuartal III-2009 belum memperoleh order dari pembeli (buyer) di beberapa negara tujuan ekspor tradisional,seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Akibatnya, kinerja ekspor industri ini pada kuartal I-2009 anjlok hingga 60 persen menjadi hanya USD30 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD75 juta. Ketua Asosiasi Industri Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya mengatakan, sepanjang kuartal I-2009, industri domestik hanya memenuhi order yang diperoleh pada kuartal IV-2008 lalu. “Pasar Amerika dan Eropa itu mewakili 70 persen dari ekspor keramik nasional,yakni sekitar USD300 juta, dan mereka sedang ambruk. Jadi, kita cuma bisa menunggu sekarang ini,” ujar Achmad saat dikonfirmasi, di Jakarta. Dia menambahkan, penurunan ekspor terbesar terjadi untuk produk lantai ubin. Produk ini juga sulit dialihkan ke pasar domestik karena produk yang diekspor memiliki ukuran, jenis, dan motif berbeda dengan jenis yang dijual ke pasar lokal. “Jadi kalau ekspornya mati, ya (penjualannya) mati,” katanya. Lebih lanjut dia menjelaskan, sisa ekspor yang masih berlangsung saat ini hanya ke beberapa negara tujuan di kawasan ASEAN, dia antaranya Myanmar, Sri Lanka, dan Kamboja. Namun, kontribusi ekspor oleh negara-negara itu sangat kecil. “Kalau negara di luar AS dan Eropa,kontribusinya masih kecil, maksimal hanya 8 persen, jadi sangat jauh sekali perbedaannya,” paparnya. Secara terpisah, Direktur Industri Kimia Hilir Departemen Perindustrian (Depperin) Tony Tanduk menerangkan, pada kuartal I tahun ini ekspor keramik memang diprediksi anjlok. “Ekspor memang diestimasi turun sekitar 30 persen. Terutama dari sektor perumahan,” ungkap Tony. Terlepas dari kondisi buruk tersebut, Achmad Wijaya mengatakan bahwa industri keramik sedikit tertolong oleh meningkatnya omzet penjualan untuk pasar domestik. Penjualan keramik di pasar domestik sepanjang Januari? Maret 2009 memperlihatkan peningkatan tipis sekitar 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari Rp3 triliun menjadi Rp3,5 triliun. “Penjualan domestik meningkat menjadi sekitar Rp3,1?3,5 triliun hingga Maret lalu. Konsumsiter besar masih didominasi produk ubin lantai,” ujarnya. Asaki memperkirakan pasar domestik akan terus membaik berkat perkembangan positif perekonomian nasional.

Sumber:  Okezone

Comments are closed.