Berita Utama

06 Apr 2009

‘Pasar Keramik Indonesia Paling Cepat Pulih’

Asaki.or.id – Jakarta,

‘Pasar Keramik Indonesia Paling Cepat Pulih’

Achmad Wijaya (Ketua Umum Asosiasi Keramik Indonesia)

Ditengah ketidakpastian transaksi penjualan sektor keramik di pasar internasional, khususnya di benua Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Australia, produk keramik produksi perusahaan di Indonesia relatif masih memiliki daya saing yang bagus. Di samping harga, faktor desain produk keramik Indonesia mendapat pengakuan konsumen dunia. Pesaing utama dari sisi desain dan model hanya Turki dan Meksiko. Sedangkan dari aspek harga hanya Cina yang masih menjadi pesaing terkuat.

Di tengah situasi yang tidak menentu tersebut, peluang pemulihan pasar ekspor keramik Indonesia diprediksi lebih awal dibanding produsen di negara-negara ASEAN dan Cina. Ketua Umum Asosiasi Keramik Indonesia (Asaki), Achmad Wijaya, kepada wartawan, termasuk wartawan Republika, Zaky Al Hamzah, beberapa waktu lalu memaparkan proyeksi dan strategi mempertahankan peluang ekspor ketika permintaan dunia menurun akibat pelemahan ekonomi dunia.

Bagaimana peluang produsen keramik di Indonesia?
Secara keseluruhan, market (pasar) keramik di Indonesia masih eksis dan berpeluang akan pulih dalam kuartal kedua tahun 2009 ini. Meski produksi tidak penuh, atau secara utilisasi rata-rata baru mencapai 80 persen, dan ada beberapa industri yang sempat berhenti, namun produksi nasional tetap terjamin. Bahkan, untuk mempertahankanmarket, tahun ini ada digelar dua pameran keramik, yakni 20-22 Maret di Jakarta Convention Center dan 1-5 Juli 2009, tujuannya tidak lain untuk menjamin stabilisasi pasar.

Bagaimana dengan eksistensi industri atau produsen keramiknya sendiri?
Sampai saat ini, anggota kita sudah mencapai 86 perusahaan atau bertambah dua perusahaan pada akhir 2008 kemarin. Satu perusahaan hulu dan satu perusahaan di Tangerang, Banten, yang awalnya tutup kemudian dioperasikan lagi, setelah melihat pasar tetap membaik.
Kemudian dari sisi kapasitas, pada akhir 2008 kemarin, tercatat ubin lantai dan dinding mencapai 332 juta meter kubik, keramik genteng 120 juta keping, tableware seperti piring dan mangkok terjual 368 juta keping. Produk sanitary terjual, 4,6 juta keping, dan kloset jongkok terjual 10 juta keping. Melihat kapasitas tersebut, utilisasi indsutri rata-rata masih 80 persen, dan masih bisa ditingkatkan.

Apa faktor yang membuat produksi dan pemasaran masih menjanjikan?
Hal ini tidak lain sinergitas sejumlah instansi pemerintah, dari Ditjen Bea dan Cukai (BC), Depkeu, Depdag, dan Depperin. Seperti kebijakansafeguard banyak sekali membantu industri ini tetap bertahan. Pejabat dan pegawai Ditjen BC pun banyak sekali mengimplementasikan proses penanganan di lapangan, bahkan terbilang ketat atau melebihi apa yang diinstrumenkan. Semua impor keramik masuk jalur merah, tidak ada jakur hijau.
Terus terang, Ditjen BC sangat membantu kita dalam hal mengimplementasikan hal itu. Belum lama ini, saya bertemu dirjen dan saya sampaikan terima kasih telah melakukan banyak hal membantu pada industri keramik. Beliau katakan proses instrumen yang diberikan tetap di jalankan, bahkan di beberapa pelabuhan justru impor keramik sangat susah masuk.
Kemudian, saya titip pesan, untuk produk tableware sudah adasafeguard, tapi produk keramik jenis sanitary dari Cina pengawasannya belum ketat. Khususnya, untuk profil harga masih sama dengan harga-harga dari negara ASEAN. Padahal, seharusnya mereka tidak boleh punya profil harga yang cukup rendah, tapi harus lebih tinggi. Kalau ini diterapkan, maka akan sangat membantu mengamankan produk dalam negeri.
Intinya, khusus untuk produk impor, BC sangat membantu kita. Sejak tahun 2006 hingga 2008, nilai impor produk keramik jenis tablewareturun, dari 10 juta dolar AS menjadi 8,7 juta dolar AS. Pada tahun 2008 sebenarnya turun, cuma karena kurs dolar AS naik dari Rp 9.000 ke Rp 12.000 per dolar AS, maka secara nilai naik, tapi volume turun. S
ecara volume, impor produk keramik pecah belah pada tahun 2006 mencapai 8,5 juta keping, tahun 2007 menjadi 6 juta keping, kemudian tahun 2008 menjadi 5 juta keping. Dari sisi ekspor, khusus produk pecah belah turun dari 34 juta keping menjadi 32 juta keping di tahun 2008. Penurunan terjadi pada Kuartal III tahun 2008.

Itu artinya pasar keramik masih punya harapan?
Masih menjanjikan. Pada kuartal II kita punya optimistik pasar akan pulih kembali.

Indikatornya?
Ada dua titik utama, pertama bunga KPR (Kredit Pemilikan rumah) turun, karena industri keramik beritegrasi dengan properti, maka bangkitnya kembali pasar properti ikut mendorong penjualan keramik. Kedua, PT PGN (Persero) dan PT PLN (Persero) masih mendukung proyeksi perusahaan keramik nasional. Justru sekarang sedang dibicarakan rekap penggunaan gas secara efisien dan efektif.
Sampai saat ini belum ada produsen yang menutup pabriknya, termasuk mengurangi pekerjanya. Tapi, kalau mengurangi produksi, iya. Misalnya, mengurangi shift dari 3 menjadi 2,5 shift, satu setengah di jadwal awal, dan satu setengah lagi di jadwal belakang.

Ada kendala sejauh ini?
Ya. Di antaranya pertama masih banyaknya pungutan-pungutan yang ditetapkan dalam perda di daerah-daerah. Kedua, rusaknya infrastruktur jalan, khususnya dari pabrik menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk pungutan, setiap satu unit produk keramik ubin lantai ukuran 30×30 cm, pungutannya sebesar Rp15 ribu. Padahal kita jual ke konsumen sebesar Rp 22 ribu per unit, jadi biaya siluman hampir 50 persen biaya jual.
Dalam perhitungan kasar, dari produksi 100 ribu keping keramik, maka pungutan yang dikeluarkan mencapai Rp 150 juta per hari. Itu satu perusahaan, bayangkan berapa banyak perusahaan yang dirugikan. Kalau dihitung-hitung, maka perusahaan akan tutup, tapi ini disiasati biaya retribusi itu dimasukkan ke marketing. Daerah yang pungutannya merugikan produsen selain di Jakarta, ada di Bogor, Surabaya, Makassar, dan Medan. (Perda) ini harus dihapus.
Kemudian, untuk infrastruktur, ada dua hambatan, pertama ombak dan ini karena alam jadi kita tidak bisa prediksi. Pasrahlah. Tapi, hambatan kedua, jalan rusak. Bayangkan dari pabrik di Tangerang hingga ke Tanjung Priok menelan waktu delapan jam sehari. Itu hanya satu kali jalan pengiriman (rate), padahal idealnya dua pengiriman. Karena sampai delapan jam perjalanan, maka cost yang dikeluarkan perusahaan sangat besar, termasuk harus dikirim hanya satu kali, dari yang semestinya dua kali.

Bagaimana dengan peluang pasar domestik?
Harapan besar kita ada pada proyek RSH (Rumah Sederhana Sehat), yang sampai saat ini masih dijalankan pemerintah, walau dunia properti tahun ini belum ada kejelasan. Walau krisis 10 tahun lalu, proyek RSH masih berjalan hingga kini. Satu lokasi dibangun seribu rumah, bayangkan jika banyak lokasi di Indonesia. Toh, program 1 juta rumah belum tuntas, dan ditargetkan rampung tahun ini. Kita tidak pernah ambil tolak ukur komersial, seperti apartemen, hotel, maupun pusat perbelanjaan, karena bangunan itu menggunakan marmer, granit, dan karpet. Seperti di hotel, kan pakai karpet, keramik hanya sedikit saja buat di kamar mandi.
Secara persentase penyerapan keramik, segmen renovasi pasar mencapai 60 persen dan sisanya 40 persen untuk proyek. Dari 40 persen proyek, sekitar 90 persen di antaranya untuk RSH, sisanya untuk komersil. Jadi, kalau ada yang mengatakan pembangunan mal (pusat perbelanjaan), hotel, dan apartemen bertambah, maka itu tidak banyak pengaruhnya dalam penjualan keramik di pasar domestik. Toh, untuk RSH, selama ini pemerintah belum menyetopnya.

Bagaimana dengan ekspor?
Di luar perusahaan multinasional, ekspor turun 30 persen. Khusus untuk di AS, penurunan pesanan hingga 50 persen. Hanya saja yang melegakan pembeli di sejumlah negara menyatakan jika semua negara mengucurkan stimulus secara bersamaan, maka pada Kuartal II akan dijanjikan memesan order lagi. Nah, jika hal itu terjadi, maka posisi pasar keramik Indonesia akan pulih lebih dulu dibanding negara-negara di Asean.

Mengapa ?
Karena posisi kita tidak sampai di titik nol. Pasar ekspor kita hanya 30 persen, dan sebanyak 70 persen untuk pasar domestik. Bandingkan dengan negara-negara Malaysia dan Singapura yang tidak punya sumber daya (resource), pasar ekspornya di atas rata-rata 60 persen, sehingga pemulihannya butuh waktu lama. Kembali ke pasar domestik, saat ini volume untuk ekspor dialihkan untuk memperkuat pasar domestik, sehingga komposisinya dari 70 persen menjadi 82-85 persen lah, tapi dari sisi volume produksi tetap sama.

Bagaimana dengan ekspor tahun 2009 ?
Kinerja ekspor tahun 2009 kita targetkan senilai 330 juta dolar AS atau naik dibanding tahun 2008 yang meski berat, masih bisa membukukan 287 juta dolar AS. Ketika pasar AS dan Uni Eropa jatuh, kita masih punya pasar sekunder (emerging market secondary) yakni di ASEAN dan Afrika, di antaranya Srilanka, Pakistan, Kolombo, Kamboja.
Di Timteng tidak terlalu banyak. Sebab, kontraktor di sana memesan produk khusus, misal ukuran 30 x 55 cm, dengan alasan tren di sana seperti itu. Dulu produsen keramik Indonesia tidak pernah perhatikan pasar sekunder ini, sempat pangsa pasar ekspornya 1 persen, tapi terus naik dan diprediksi pada Kuartal II/2009 menjadi 4,5 persen.
Yang membanggakan, dari segi desain dan model, negara pesaing kita hanya Turki dan Meksiko. Corak desain keramik kita sangat variatif, dan ini mudah dicontoh. Jadi, misal di Milan, Italia baru saja keluar desain baru, maka dalam sehari sudah bisa dicontoh lewat internet dan diproduksi disini.
Sedang dari segi harga, daya saing harga penjualan ke tiga benua, AS, Uni Eropa dan Australia, sangat bagus dan <I>leading<I>, bahkan Malaysia dan Vietnam mengikuti kita. Misal, produk keramik ukuran 40×40 cm, harga ekspor 4,5 dolar AS hingga 9 dolar AS per unit. Tapi, kalau melawan Cina, mereka berani lepas 2,5 dolar AS sampai 3 dolar AS per unit. Kelihatannya rugi, tapi Cina bicara kapasitas volume, yang di atas rata-rata produksi kita yang rata-rata kapasitasnya tiga hingga lima kali lipat.

Bagaimana dengan perbankan ?
Ini yang masih ganjalan industri keramik disini. Perbankan lebih percaya investor keramik dari asing yang peminjamnya merupakan sindikasi, dibanding produsen dalam negeri. Kalaupun kita pinjam, perbankan meminta persyaratan yang ribet dan berbelit-belit.
Secara keseluruhan, kami mengeluhkan dukungan dari kalangan perbankan, meski sektor ini relatif masih aman diterpa krisis keuangan dunia. Toh, kami juga menyadari sejumlah perbankan sedang mengalami pengeringan likuiditas.
Namun, jika tidak mendapat dukungan keuangan dari perbankan untuk modal kerja, sektor usaha keramik berpotensi semakin sulit berkompetisi di pasar global. Akibat keringnya likuiditas tersebut membuat pengetatan arus kredit perbankan menghambat kebutuhan tambahan modal industri keramik nasional pada tahun ini yang mencapai hingga 200 juta dolar AS.
Akibat seretnya modal, maka pendapatan dari ekspor dari total pencapaian 2008 sekitar 335 juta dolar AS menjadi hanya sekitar 280 juta dolar AS. Nah, seretnya pinjaman perbankan, sejumlah anggota Asaki banyak yang ditolak permohonan kreditnya untuk tahun ini. Ingat, apabila sektor ini tak bisa menambah modal kerja pada 2009, kondisi itu akan menghambat produktivitas, target ekspor, dan perluasan usaha.

Sumber: Asaki.or.id

Comments are closed.