Berita Utama

09 Jul 2009

Pebisnis butuh keberpihakan Apindo: Yudhoyono harus lebih berani ambil keputusan

JAKARTA: Kalangan pebisnis di Tanah Air menaruh harapan yang begitu besar terhadap presiden terpilih untuk secepatnya memacu pertumbuhan ekonomi nasional dan keluar dari krisis ekonomi.

Harapan yang begitu beragam tersebut sebagian besar mencerminkan kepentingan setiap pengusaha dan bidang usaha yang digeluti.

Namun, benang merah yang dapat ditarik adalah keberpihakan yang konkret dari presiden terpilih terhadap kepentingan dunia usaha.

Ketua Umum Kadin Indonesia M.S. Hidayat meminta presiden terpilih segera melakukan rekonsiliasi nasional dengan tetap berkomitmen bekerja sama meneruskan agenda ekonomi prokerakyatan.

Menurut dia, agenda pemerintahan baru ke depan harus mengutamakan peningkatan daya beli konsumen, membuka seluas-luasnya lapangan kerja baru, memperkuat basis industri mikro kecil dan menengah (UMKM), serta pertanian.

“Pasar harus terus digerakkan. Kuncinya ada di sektor riil. Lima tahun adalah waktu yang sangat singkat sehingga jika kebijakan prorakyat dilakukan dengan lebih cepat tentu lebih oke,” kata Hidayat kepada Bisnis, kemarin.

Untuk menggerakkan pasar domestik, pengembangan industri manufaktur, terutama yang berbasis padat karya dan memiliki nilai tambah besar, harus menjadi prioritas utama.

Itulah sebabnya, Kadin berharap pemerintahan baru periode 2009-2014 membatasi ekspor bahan mentah yang selama ini dilakukan besar-besaran termasuk gas, minyak bumi, dan barang tambang. “Dengan mengolahnya di dalam negeri, maka industri kita akan semakin berdaya saing.”

Untuk membantu memberikan arah kebijakan sesuai dengan visi dunia usaha, Kadin Indonesia dalam waktu dekat akan menyerahkan roadmap (panduan jalan) pengembangan ekonomi dan industri nasional kepada presiden terpilih.

Kadin berharap roadmap tersebut akan dijadikan bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil setiap kebijakan yang terkait dengan dunia usaha. “Pada saat kampanye, ketiga capres/cawapres sudah berkomitmen mendukung roadmap industri pada 2010-2015 yang disusun Kadin,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno mengingatkan pentingnya menekankan pembangunan ekonomi berbasis sektor riil dibandingkan dengan kegiatan usaha di sektor finansial.

“Lima tahun lalu, makroekonomi kita cukup bagus, tetapi sektor mikroekonomi masih lemah. Padahal, sektor riil adalah bidang usaha yang mampu memberikan lebih banyak lapangan kerja, pajak, dan devisa dibandingkan dengan sektor nonriil,” ujarnya.

Fokus perhatian pemerintah yang lebih besar terhadap makroekonomi membuat sektor riil menjadi cenderung terabaikan seperti yang dikhawatirkan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya.

“Jika presiden terpilih hanya fokus pada sisi makroekonomi, saya khawatir kinerja sektor riil tidak akan banyak berubah dari kondisi sekarang yang menghadapi banyak masalah,” katanya.

Tim kabinet

Karena itu, lanjutnya, tim kabinet yang terbentuk harus mampu memperkokoh sektor riil dan meneruskan agenda prokerakyatan.

“Jangan sampai Indonesia hanya dipersepsikan sebagai negara makmur tetapi sebenarnya banyak rakyat yang menderita karena tidak bisa bekerja.”

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko berharap para menteri yang akan duduk dalam tim ekonomi memiliki wawasan industrial dan tidak partisan.

“Para menteri ekonomi ini harus bisa bekerja sinergis dan tidak saling tumpang tindih sehingga sektor riil bisa maju lebih cepat. Selama ini, koordinasi menjadi salah satu titik lemah dari pemerintah,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Gajah Mada Revrison Baswir memperkirakan arah kebijakan ekonomi untuk 5 tahun ke depan masih sama seperti 5 tahun lalu, mengingat pemerintahan akan dipimpin oleh presiden yang sama [berdasarkan perhitungan cepat/quick count].

Namun, dia menilai, pemerintah mendatang akan sangat berhati-hati terutama terkait dengan kebijakan privatisasi karena isu itu akan menjadi sorotan publik.

Meskipun menggunakan gaya lama, Revrison mengatakan pemerintahan mendatang harus mau mengadopsi berbagai pemikiran dari banyak kalangan sehingga akan ada inovasi kebijakan perekonomian.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menambahkan kemenangan SBY-Boediono merupakan hal yang biasa saja, dalam arti tidak terlalu memberikan kejutan bagi kalangan pengusaha.

“Tidak ada respons berlebihan dari pasar. Kita sudah bertahun-tahun begini-begini saja di bawah SBY. Kecuali dia bisa bergerak lebih cepat, baru akan ada perubahan. Sekarang pilihannya, apakah dia akan melanjutkan cara lama atau punya cara baru,” katanya.

Sofjan menambahkan Yudhoyono juga harus mewujudkan janji-janji politiknya mulai dari perbaikan ekonomi hingga pembenahan infrastruktur. “SBY kan hanya melanjutkan saja, jadi dia sudah tahu apa yang bakal dia lakukan. Intinya kami minta agar SBY lebih berani ambil keputusan, jangan terlalu lambat…lah,”

Comments are closed.