Industri keramik lokal terbukti mampu berkontribusikan pendapatan kepada negara mencapai Rp15 triliun per tahun tetapi industri tersebut masih dianggap sebagai sunset industry.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Achmad Widjaja, di Jakarta, Selasa (21/7). “Industri keramik masih saja dianggap sebagai sunset sehingga tidak pernah mendapatkan akses pinjaman,” katanya.
Menurut dia, lembaga keuangan formal yakni perbankan tidak pernah secara langsung datang pada industri keramik untuk menganalisis kredit secara detail.
Padahal, katanya, industri keramik mampu menghasilkan omzet hingga Rp13 triliun per tahun dan memberikan pendapatan kepada negara Rp15 trilin per tahun. “Ini membuktikan pasar keramik tidak pernah turun, baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor,” katanya.
Ia mengakui, industri keramik terdampak krisis global, misalnya dalam hal terhambatnya ekspor ke Amerika Serikat, Australia, dan Inggris.
Namun industri keramik memiliki pasar yang tumbuh (emerging market ) kedua di ASEAN seperti Myanmar, Kamboja, Srilanka, dan pasar domestik yang besar. “Fakta lain yang perlu diungkapkan pada 2008 terjadi peningkatan utilisasi pemanfaatan kapasitas terpasang dari 71,2 persen pada 2007 menjadi 82,47 persen dari total produksi sebanyak 332 juta m2,” ujarnya.
Selain itu, untuk produksi ubin lantai, keramik genteng meningkat 20 persen menjadi 120 juta keping, keramik tableware sebanyak 268 juta keping, keramik saniter 4,6 juta keping dan kloset jongkok 10 juta unit. Sayangnya perbankan masih sangat kecil berkontribusi pada industri keramik nasional.
Pada 2007, perbankan hanya mengucurkan dana kepada industri keramik nasional sebesar 55 juta dolar AS.
Padahal, kata Widjaja, pembenahan industri keramik nasional perlu suntikan modal setidaknya 200 juta dolar AS untuk mengembangkan bisnis, investasi dan memperbaharui teknologi. “Perbankan tidak mengucurkan kredit pada industri keramik salah satunya karena masalah naik turunnya pasokan gas dari PGN,” katanya.
Di samping itu, perbankan juga lebih memprioritaskan proyeksi keuntungan jangka pendek. Sebaliknya industri keramik membutuhkan pembiayaan investasi jangka panjang. “Jika industri keramik tidak memperoleh suntikan modal, maka akan menghambat produktivitas, target, ekspor, dan perluasan usaha. Yang pasti industri keramik sulit berkompetisi di pasar global,” katanya.