Berita Internasional

04 Aug 2009

16th Session of World Tile Producers Forum

Dear members of the World Ceramic Tiles Manufacturers’ Forum,

Dear ceramic tiles manufacturers,

 

As decided at the 15th meeting of the Forum held in Mumbai on 23 October 2008, the 16th session of the Forum will be hosted by Taiwan in the city of Taipei from Wednesday 4 to Saturday 7 November 2009

 

The Taiwan Ceramic Industries Association is currently finalising the programme which will be sent to you in the coming days together with the invitations.   The Forum will be hosted at the Shangri-La’s Far Eastern Plaza Hotel (please find its website for your reference: http://www.shangri-la.com/en/property/taipei/fareasternplaza

Berita Daerah

04 Aug 2009

Asaki Keluhkan Arogansi PGN

Serang – Asosiasi Industri Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mengeluhkan sikap arogan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam menanggapi desakan pelaku industri keramik yang saat ini dihantui kebutuhan pasokan gas dan keinginan untuk bertransaksi rupiah dalam setiap pembelian gas dengan PGN.

Ketua umum Asaki Achmad Widjaja mengatakan kelancaran pasokan gas bagi industri keramik sangat penting karena gas menjadi instrumen utama dalam industri keramik. Sayangnya  persoalan pasokan gas, harga gas, mata uang transaksi pembelian gas sering menghambat industri keramik

Ia mengatakan akibat pasokan gas hanya dipasok dari PGN, menyebabkan terjadinya monopoli distribusi gas oleh PGN. Contoh arogansi PGN, lanjut Achmad, terjadi ketika ada pabrik keramik anggotanya mengalami kendala pembayaran gas ke PGN. Tak jarang anggota-anggota Asaki menerima ancaman pemutusan pasokan gas.

“PGN mereka memang memonopoli pasokan gas, dan arogan. Anggota diancam ditutup pasokan gasnya oleh PGN,” katanya disela acara kunjungan kerja Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di pabrik Plant II Arwana, Cikande Serang, Rabu (15/7/2009).

Ia juga mengharapkan masalah transaksi pembelian gas dengan mata uang dolar AS bisa segera diubah dengan kurs rupiah. Menurutnya, selama ini industri keramik justru lebih banyak mendapatkan pendapatan dalam denominasi rupiah.

“Pendapatan industri keramik selama ini banyak berasal dari rupiah,” ucapnya.

Selain itu, pembayaran transaksi gas dengan kurs rupiah menguntungkan industri karena tidak harus bersusah payah membeli dollar dan rentan dengan fluktuasi kurs. Sayangnya sampai saat ini PGN masih tetap memberlakukan transaksi gas dengan kurs dolar AS.

Saat ini, mekanisme perubahan pembayaran transaksi pembelian gas menggunakan rupiah sedang dibahas oleh pemerintah yang difasilitasi oleh Menteri BUMN dan Menteri Perindustrian. Pembahasan mengenai ini sempat terhambat karena adanya ajang pilpres.

“Sekarang sudah disampaikan oleh wapres, dalam waktu dekat, kita mungkin dapat kepastian dalam mendukung industri ini,”

Berita Properti

04 Aug 2009

Kunjungan Mendag ke Anggota ASAKI

Banten (Berita): Pemerintah memperpanjang pemberlakuan safeguard  selama tiga tahun (2009-2011) agar industri keramik terutama pecah belah (table ware) terhindar dari gempuran produk impor yang harganya lebih murah.

”Instrumen safeguard ini salah satu bentuk perlindungan pemerintah terhadap industri dan pasar keramik domestik. Terutama dari gempuran produk keramik impor dengan harga murah yang di lempar ke pasar di dalam negeri,” kata Mendag Mari Elka Pangestu, di sela kunjungan kerja ke pabrik keramik PT Arwana Citra Mulia, di Serang, Banten, Rabu [15/07].

Menurut Mari, kebijakan safeguard kemudian ditinjau kembali setelah melalui penelitian terhadap dampak dari kebijakan itu. Dalam arti apakah sudah relatif aman atau masih terganggu oleh produk impor sejenis.

”Instrumen safeguard bisa diperpanjang jika  produk industri kita masih diserbu produk keramik impor dengan harga muarh. Tetapi setelah ada pembuktian,” tambahnya.

Penerapan safeguard tidak bisa sembarangan diperpanjang. Sebab instrumen ini hanya boleh dilakukan secara temporary. Karenanya dia berharap industri keramik domestik bisa bersaing setelah pemberlakuan safe guar selama  3 tahun ke depan.

Ketua Umum Asosiasi Industri Aneka Keramik (Asaki)  Achmad Widjaja mengatakan, penerapan safeguard bagi produk keramik hanya untuk produk-produk pecah belah saja. Sedangkan keramik di luar pecah belah tidak digunakan safeguard.”Safeguard hanya pecah belah, kompetitornya China, glazing tile belum tersentuh,” jelasnya.

Dia menilai kebijakan ini akan membantu industri keramik dalam negeri dan mampu mendongkrak utilitas pabrik dari 50 persen menjadi 68 persen. Instrumen safeguard adalah mekanisme yang digunakan oleh negara tertentu jika suatu industri di negaranya mengalami gangguan dari serbuan produk impor yang berdampak pada industri hingga ke titik injury (kerugian) misalnya turunnya produktivitas.

Bagi industri keramik kelas menengah,menurut Dirut PT Arwana Citra Mulia, Tandean Rustandi, membajirnya produk impor di dalam negeri tak mempengaruhi produktifitas mereka. Karena sisi harga dan biaya produksi lebih bersaing ketimbang produk impor seperti dari Cina.  ”Kebetulan pasar kita 90 persen di lokal, jadi tak ada masalah. Lagipula, keramik yang kita jual kebanyakan untuk kelas menengah. Bahan baku  hampir 70 persen dari dalam negeri. jadi cukup bisa bersaing,” katanya.

Yang menggembirakan kata Tandean, perusahaannya tidak kena dampak krisis sehingga terus melakukan ekspansi ke Jawatimur. ”Sejak 2005-2008 tumbuh 22 kali lipat.  Kami memimpin pasar keramik di Indonesia. Kavasitas produksi naik daridari 2,8 juta M2 menjadi 3,6 juta M2. Dan laba juga naik 10 persen dari sebelumnya menjadi Rp319 miliar dan mempekerjakan 154.000 tenaga kerja,” paparnya.

Tak pelak, Mari Pangestu memuji-muji Tandean. ”Kita patut berikan apresiasi. Di tengah krisis global ini orang pada konsolidasi. Tapi PT Arwana berkembang terus,” tandas Mari kagum.

Berita Special

04 Aug 2009

Industri Keramik Sumbang Pendapatan Rp 15 T

 Industri keramik lokal terbukti mampu berkontribusikan pendapatan kepada negara mencapai Rp15 triliun per tahun tetapi industri tersebut masih dianggap sebagai sunset industry.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Achmad Widjaja, di Jakarta, Selasa (21/7). “Industri keramik masih saja dianggap sebagai sunset sehingga tidak pernah mendapatkan akses pinjaman,” katanya.

Menurut dia, lembaga keuangan formal yakni perbankan tidak pernah secara langsung datang pada industri keramik untuk menganalisis kredit secara detail.

Padahal, katanya, industri keramik mampu menghasilkan omzet hingga Rp13 triliun per tahun dan memberikan pendapatan kepada negara Rp15 trilin per tahun. “Ini membuktikan pasar keramik tidak pernah turun, baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor,” katanya.

Ia mengakui, industri keramik terdampak krisis global, misalnya dalam hal terhambatnya ekspor ke Amerika Serikat, Australia, dan Inggris.

Namun industri keramik memiliki pasar yang tumbuh (emerging market ) kedua di ASEAN seperti Myanmar, Kamboja, Srilanka, dan pasar domestik yang besar. “Fakta lain yang perlu diungkapkan pada 2008 terjadi peningkatan utilisasi pemanfaatan kapasitas terpasang dari 71,2 persen pada 2007 menjadi 82,47 persen dari total produksi sebanyak 332 juta m2,” ujarnya.

Selain itu, untuk produksi ubin lantai, keramik genteng meningkat 20 persen menjadi 120 juta keping, keramik tableware sebanyak 268 juta keping, keramik saniter 4,6 juta keping dan kloset jongkok 10 juta unit. Sayangnya perbankan masih sangat kecil berkontribusi pada industri keramik nasional.

Pada 2007, perbankan hanya mengucurkan dana kepada industri keramik nasional sebesar 55 juta dolar AS.

Padahal, kata Widjaja, pembenahan industri keramik nasional perlu suntikan modal setidaknya 200 juta dolar AS untuk mengembangkan bisnis, investasi dan memperbaharui teknologi. “Perbankan tidak mengucurkan kredit pada industri keramik salah satunya karena masalah naik turunnya pasokan gas dari PGN,” katanya.

Di samping itu, perbankan juga lebih memprioritaskan proyeksi keuntungan jangka pendek. Sebaliknya industri keramik membutuhkan pembiayaan investasi jangka panjang. “Jika industri keramik tidak memperoleh suntikan modal, maka akan menghambat produktivitas, target, ekspor, dan perluasan usaha. Yang pasti industri keramik sulit berkompetisi di pasar global,” katanya.