04 Aug 2009
Kunjungan Mendag ke Anggota ASAKI
Banten (Berita): Pemerintah memperpanjang pemberlakuan safeguard selama tiga tahun (2009-2011) agar industri keramik terutama pecah belah (table ware) terhindar dari gempuran produk impor yang harganya lebih murah.
”Instrumen safeguard ini salah satu bentuk perlindungan pemerintah terhadap industri dan pasar keramik domestik. Terutama dari gempuran produk keramik impor dengan harga murah yang di lempar ke pasar di dalam negeri,” kata Mendag Mari Elka Pangestu, di sela kunjungan kerja ke pabrik keramik PT Arwana Citra Mulia, di Serang, Banten, Rabu [15/07].
Menurut Mari, kebijakan safeguard kemudian ditinjau kembali setelah melalui penelitian terhadap dampak dari kebijakan itu. Dalam arti apakah sudah relatif aman atau masih terganggu oleh produk impor sejenis.
”Instrumen safeguard bisa diperpanjang jika produk industri kita masih diserbu produk keramik impor dengan harga muarh. Tetapi setelah ada pembuktian,” tambahnya.
Penerapan safeguard tidak bisa sembarangan diperpanjang. Sebab instrumen ini hanya boleh dilakukan secara temporary. Karenanya dia berharap industri keramik domestik bisa bersaing setelah pemberlakuan safe guar selama 3 tahun ke depan.
Ketua Umum Asosiasi Industri Aneka Keramik (Asaki) Achmad Widjaja mengatakan, penerapan safeguard bagi produk keramik hanya untuk produk-produk pecah belah saja. Sedangkan keramik di luar pecah belah tidak digunakan safeguard.”Safeguard hanya pecah belah, kompetitornya China, glazing tile belum tersentuh,” jelasnya.
Dia menilai kebijakan ini akan membantu industri keramik dalam negeri dan mampu mendongkrak utilitas pabrik dari 50 persen menjadi 68 persen. Instrumen safeguard adalah mekanisme yang digunakan oleh negara tertentu jika suatu industri di negaranya mengalami gangguan dari serbuan produk impor yang berdampak pada industri hingga ke titik injury (kerugian) misalnya turunnya produktivitas.
Bagi industri keramik kelas menengah,menurut Dirut PT Arwana Citra Mulia, Tandean Rustandi, membajirnya produk impor di dalam negeri tak mempengaruhi produktifitas mereka. Karena sisi harga dan biaya produksi lebih bersaing ketimbang produk impor seperti dari Cina. ”Kebetulan pasar kita 90 persen di lokal, jadi tak ada masalah. Lagipula, keramik yang kita jual kebanyakan untuk kelas menengah. Bahan baku hampir 70 persen dari dalam negeri. jadi cukup bisa bersaing,” katanya.
Yang menggembirakan kata Tandean, perusahaannya tidak kena dampak krisis sehingga terus melakukan ekspansi ke Jawatimur. ”Sejak 2005-2008 tumbuh 22 kali lipat. Kami memimpin pasar keramik di Indonesia. Kavasitas produksi naik daridari 2,8 juta M2 menjadi 3,6 juta M2. Dan laba juga naik 10 persen dari sebelumnya menjadi Rp319 miliar dan mempekerjakan 154.000 tenaga kerja,” paparnya.
Tak pelak, Mari Pangestu memuji-muji Tandean. ”Kita patut berikan apresiasi. Di tengah krisis global ini orang pada konsolidasi. Tapi PT Arwana berkembang terus,” tandas Mari kagum.

