Berita Properti

21 Oct 2009

KADIN: PERTUMBUHAN EKONOMI 2010-2014 6,3 PERSEN

Jakarta,  – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi selama 2010-2014 rata-rata sekitar 6,3 persen per tahun.

“Kalau perkembangannya seperti sekarang, kedepannya pertumbuhan ekonomi tanpa diutak-atik lagi bisa 6,3 persen. Namun kalau ada upaya serius bisa sampai 6,9 persen,” kata Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian, Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Faisal Basri, dalam peluncuran Road Map Pembangunan Ekonomi Indoneia 2009-2014, di Jakarta, Kamis.

Faisal mengatakan target pertumbuhan sebesar itu akan membutuhkan dana investasi sekitar Rp2.855 triliun – Rp2.910 triliun untuk membiayai kegiatan ekonomi nasional.

“Maksimum pemerintah bisa membiayai sekitar 13 persen dari total dana investasi yang dibutuhkan. Jadi pemerintah tidak mungkin menjadi agen pembangunan dan terjun langsung untuk membiayai kegiatan ekonomi,” jelasnya.

Menurut Faisal, sebanyak 87 persen sisa kebutuhan dana investasi harus dihimpun dari investor swasta domestik, termasuk bank, nonbank dan pasar modal serta swasta asing, dalam bentuk pinjaman dan investasi langsung.

“Itu hanya mungkin terjadi kalau iklim investasinya kondusif dan pasar modal bisa ditata lebih baik,” ujarnya.

Untuk bisa menarik investasi asing, lanjut dia, pemerintah harus membangun infrastruktur yang mendukung seperti listrik yang cukup dan pelabuhan yang tidak padat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010-2014 yang optimistis itu bisa tercapai karena adanya modal politik yang lebih baik dibanding lima tahun lalu dan prospek pemulihan ekonomi dunia yang menggembirakan.

“Pada 2010 kita bisa tumbuh di atas 7 persen atau 7,2 persen, selanjutnya pada 2013-2014 tumbuh 7,4 persen,” tuturnya.

Faisal mengatakan dalam road map pembangunan ekonomi Indonesia 2009-2014 yang disusun Kadin, hampir seluruh isinya mencantumkan tahap-tahap pembangunan serta apa-apa saja yang dibutuhkan untuk mencapainya.

“Kita optimistik karena ada tren investasi asing yang naik lagi pada 2010, maka porsi investasi di Indonesia juga tampaknya naik. Kita sekarang `under investment` karena rasio investasi hanya 5,2 persen dibanding GDP, itu juga di bawah Bangladesh,” jelasnya.

Berita Internasional

21 Oct 2009

VIETNAM LEWATI INDONESIA SEBAGAI PRODUSEN TERBESAR KERAMIK

Hanoi, (ANTARA/VNA) – Vietnam berhasil melewati Indonesia untuk menjadi produsen terbesar keramik dan ubin granit di kawasan Asia Tenggara, kata Ketua Asosiasi Perusahaan Keramik Vietnam, Dinh Quang Huy.

Produksi tahunan Vietnam saat ini mencapai sekitar 300 juta meter persegi keramik dan ubin granit, sedang Indonesia hanya sedikit di atas 200 juta meter persegi.

Dengan lompatan besar itu Vietnam juga diakui sebagai produsen keramik dan ubin granit terbesar keenam di dunia, kata Huy.

Perusahaan produsen keramik dan ubin granit di Vietnam yang besar, seperti Prime, Viglacera dan Dong Tam, yang mana yang pertama menduduki ranking kelima produsen terbesar di dunia menurut majalah World Ceramics.

Peresmian pabrik baru-baru ini di pusat provinsi Quang Nam, merupakan pabrik keramik terbesar di kawasan ASEAN, sehingga memberi kontribusi Vietnam mendapatkan posisi saat ini.

Pabrik Prime senilai satu triliun dong (VND) itu merupakan pabrik produksi kedelapan dari total produksi tahunan 24 juta meter persegi.

Menurut asosiasi, Vietnam saat ini memiliki 45 perusahaan keramik dan ubin granit. Industri keramik ini mencatat pertumbuhan sekitar 29 persen selama beberapa tahun lalu.

Selain untuk pasar domestik, ubin keramik Vietnam juga diekspor ke beberapa negara, mencakup Australia dan Korea Selatan, dengan perputaran nilai 110 juta dolar AS.

Berita Daerah

21 Oct 2009

MENPERIN DIHARAPKAN PERMUDAH REGULASI PERINDUSTRIAN

Banda Aceh, 20/10 (ANTARA) – Menteri Perindustrian yang bakal dijabat MS Hidayat diharapkan membuat kebijakan regulasi perindustrian yang bisa mempermudah investor menanamkan modalnya di Indonesia, khususnya di daerah-daerah.

“Saya berharap Menperin Hidayat membuat regulasi yang mempermudah investor membangun industri di Indonesia, terutama di daerah-daerah untuk pertumbuhan ekonomi,” kata Ketua Kadin Aceh, Firmandes di Banda Aceh, Selasa.

Ia menilai Hidayat sangat tepat diangkat menjadi Menperin, karena sejak menjadi Ketua Kadin, beliau telah memiliki jaringan yang luas, sehingga bisa menarik para pengusaha baik di dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia.

“Saya kira Hidayat sangat pantas menjadi Menperin, karena selama menjadi Ketua Kadin, hubungan pemerintah dengan dunia usaha cukup harmonis,” katanya.

Ia menyebutkan, diangkatnya Hidayat menjadi menteri di satu sisi merupakan kebanggaan tersendiri bagi kalangan pengusaha, tapi di sisi lain Kadin merasa kehilangan tokoh yang selama ini telah berbuat banyak terhadap organisasi.

“Kami berharap, pimpinan Kadin mendatang bisa melanjutkan program-program yang telah dilakukan oleh Hidayat,” ujar Firmandes yang juga anggota DPR Aceh itu.

Terlepas dari itu semua, ia berharap, Hidayat yang telah berpengalaman berkecimpung di Kadin agar tetap memperhatikan dunia usaha dengan memberikan kemudahan di dalam menanamkan modalnya.

Selain itu, Firmandes juga berharap, Hidayat bisa memperluas pasar hasil industri di tanah air, apalagi penduduk Indonesia sekarang ini mencapai 200 juta jiwa.

“Pasar luar negeri itu perlu, tapi jangan melupakan pasar dalam negeri yang potensinya sangat besar. Pasar dalam negeri juga tahan terhadap krisis ekonomi,” katanya.

Selanjutnya, hubungan antara buruh dan perusahaan agar lebih diperhatikan, sehingga tidak mudah terjadi mogok kerja, yang akhirnya sama-sama dirugikan, katanya.