Berita Manajemen

18 Nov 2009

Industri Keramik “Teriak” Kenaikan Harga Gas

AKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Aneka Industri Keramik (Asaki) mulai  “teriak” mengenai rencana kenaikan harga gas industri sebesar 20  persen dari 5 dollar AS menjadi 6 dollar AS per Btu (British thermal unit) oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) pada 2010 mendatang. Pasalnya, beban biaya produksi berpotensi melonjak sedikitnya 25 persen karena tahun depan  kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga akan dilakukan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Ketua Umum Asaki Achmad Widjaya menerangkan, kondisi tersebut  menjadikan kinerja industri keramik nasional menjadi tak jelas.
Bahkan, kenaikan harga gas bisa lebih besar dari yang diperkirakan karena pasokan gas akan semakin kecil akibat pemerintah masih
mengekspor gas dengan kontrak jangka panjang.

“Semua kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah besar bagi sektor keramik. Iklim usaha menjadi kian tak kondusif. Ini bertentangan dengan komitmen pemerintah yang akan memangkas berbagai hal terkait sumbatan yang menghalangi pertumbuhan industri ,” ujar Achmad di Jakarta, Selasa (17/11).

Dikatakan, sektor industri keramik membutuhkan pasokan gas sekitar 110  MMscfd (million metric standard cubic feet per day/juta kaki kubik per  hari). Tahun depan, konsumsi akan meningkat menjadi 120 hingga 125 MMscfd.

Pada tahun ini, lanjut Achmad, utilisasi turun 10 persen menjadi hanya 70 persen dari kapasitas terpasang 330 juta keping per tahun. Tahun lalu, utilisasi sektor ini masih sekitar 80% atau sekitar 264 juta  keping.

“Kalau harga gas naik, utilisasi keramik pada tahun depan bisa tinggal 60 persen. Apalagi, masalah di dalam negeri seperti impor ilegal masih sulit teratasi. Kalau biaya produksi naik, keramik domestik semakin mahal sehingga lebih baik menutup pabrik dan jadi pedagang,” tutupnya.

Comments are closed.