| (Businessreview) – Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi para bagi para produsen keramik dalam negeri. Nilai ekspor keramik nasional selama Januari-September 2009 hanya mencapai sekitar US$ 25 juta. Angka ini merosot 75% bila dibandingkan ekspor pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$100 juta. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor produk keramik ubin.
Penurunan ekspor itu terjadi karena pembeli dari negara-negara maju yang menjadi tujuan ekspor utama, seperti Amerika, Eropa, dan Australia, mengerem pembelian. Sebab, tak jauh berbeda dengan kondisi ekonomi mereka, kondisi sektor properti di negara-negara itu belum pulih.
“Sekarang ekspor tidak ada aturan, saat mereka butuh, mereka beli. Tidak terjadwal seperti dulu dan volumenya pun terus turun,” kata Ketua Umum Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaja
Menurut Widjaja, sekarang, para produsen keramik nyaris tak pernah mengantongi lagi kontrak-kontrak jangka panjang. Misalnya untuk masa enam bulan. Padahal, kontrak jangka panjang ini membantu produsen keramik merencanakan produksi secara matang. Soalnya, mereka memiliki detail volume, jenis, ukuran, hingga warna keramik yang diinginkan pembeli.
Menghadapi kondisi ini, menurut Widjaja, produsen hanya bisa pasrah. Apalagi, permintaan ekspor tidak lagi dapat diprediksi. Sejatinya, tren penurunan ekspor keramik ini sudah mulai terasa sejak tahun lalu. Tahun lalu, Asaki menargetkan ekspor US$ 300 juta. Namun realisasi ekspor sepanjang 2008 ternyata hanya US$ 274,8 juta. Penyebabnya, krisis ekonomi membuat permintaan ekspor pada kuartal IV-2008 melemah. “Tahun ini ternyata kondisinya lebih buruk lagi,” lanjut Widjaja.
Kini, posisi produsen makin sulit. Soalnya, keramik untuk ekspor tidak bisa begitu saja dijual di pasar lokal. “Spesifikasinya sangat berbeda,” kata Widjaja. Misalnya saja, keramik ekspor ukurannya lebih besar. Begitu pula warnanya. Alhasil, mau tidak mau, produsen memangkas kapasitas produksi mereka.
Sekarang ini, tingkat utilisasi kapasitas produksi pabrik keramik nasional hanya sekitar 75%, turun dari angka sebelumnya yang mendekati 100%. Artinya, mereka hanya memproduksi 247,5 juga pieces dari kapasitas terpasang 330 juta pieces per tahun.
“Sekarang kami fokus ke pasar domestik,” tambahnya. Penjualan keramik di dalam negeri sudah mencapai Rp 8 triliun selama periode Januari sampai Agustus lalu.
Toh, Departemen Perindustrian (Depperin) menilai, penurunan ekspor itu wajar. Tony Tonduk, Direktur Industri Kimia Hilir Depperin bilang, penurunan tersebut sudah diprediksi. “Kita juga prediksi turun tapi hingga akhir tahun paling hanya 5%-10% dari 2008,” katanya. (Cory) |