Berita Special

24 Dec 2009

Profil Majalah InfoKimia

Profil Majalah InfoKimia (more…)

Berita Utama

13 Dec 2009

Ceramic Industry Seek Delay For Higher Electricity Tariff

TEMPO Interactive, Jakarta: The government’s plan to hike electricity tariffs next year has drew more response from industries, with the latest came on Thursday from the Indonesian Ceramic Industry Association.

Head of the association, Ahmad Wijaya said the industry have not expect for any rise and demanded the government to postpone the plan.

The association said electricity accounts for 20 percent of total energy use in ceramic inductry, while the remaining 80 percent was powered by gas. “We dont expect for any rise, as there will not be much favourable conditions for the economy next year.”

The association said the cost of higher tariff could not be simply shifted to consumers as the market was still at low swing.

However Ahmad said that should any raise be imposed, the extent will hopefully be set around 10 percent, “Beyond that, it will become a burden for industry.”

Berita Informasi Teknologi

13 Dec 2009

Ceramics, textiles, food, energy, information technology and communications are among the sectors that could benefit from nanotech

Indonesian Government to Invest $26.5m in Nanotechnology

The government appears to be taking notice of the huge potential of nanotechnology to improve industrial competitiveness.

The Ministry of National Education will provide Rp 250 billion ($26.5 million) to fund nanotech research and development through 2010.

The Ministry of Industry will provide another Rp 15 billion. (more…)

Berita Special

13 Dec 2009

PN Gas Dinilai Arogan, Industri Keramik Mandeg

Kemayoran, Warta Kota

Kalangan pelaku industri keramik di Indonesia mengakui bahwa tingkat kemandegan yang terjadi di dunia industri keramik di Indonesia selama 10 tahun terakhir sudah parah. Selama itu pula industri keramik dihantui masalah kebutuhan pasokan gas yang tidak tepecahkan karena pemerintah arogan dan tidak memiliki komitmen.

Asosiasi Industri Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mengaku geram terhadap sikap PT Perusahaan Gas Negara (PGN), yang dinilai arogan dalam menanggapi desakan pelaku industri keramik terkait kebutuhan pasokan gas sekaligus keinginan untuk bertransaksi rupiah dalam setiap pembelian gas dengan PGN.

“Bagi industri keramik, kelancaran pasokan gas merupakan hal yang vital karena gas merupakan instrumen utama industri ini. Tetapi selama ini pasokan, harga, dan mata uang transaksi pembeliannya malah memberatkan,” kata Ketua Umum Asaki, Achmad Widjaja, kepada Warta Kota di Gedung Merpati, Jalan Angkasa, Jakarta, Rabu (2/11).

Sehari sebelumnya Asaki mendatangi PT PGN Persero di Gedung PGN, Jalan KH Zainul Arifin, Jakarta untuk mendesak agar PGN menanggapi desakan pelaku industri keramik soal kebutuhan pasokan gas dan berbagai masalah terkait.

Sebenarnya, kata Widjaja, masalah yang muncul lebih merupakan akibat terjadinya monopoli distribusi gas. Karena itu, katanya, PNG kemudian menjadi arogan dan tidak mau tahu keperluan dunia industri.

Manurut dia, salah satu bentuk arogansi PGN terjadi ketika pabrik-pabrik keramik mengalami kendala pembayaran gas, mereka menerima ancaman pemutusan pasokan. “Anggota kami diancam ditutup pasokan gasnya. Seperti itulah sikapnya,” katanya.

Padahal, kata Widjaja, kalau mau jujur pemerintah dan PN Gas tahu bahwa saat ini industri keramik termasuk satu-satunya industri milik anak bangsa yang masih bertahan. “Lainnya sudah jadi milik asing. Ini karya anak bangsa yang masih bertahan dan mampu memberikan kontibusi satu triliun rupiah per bulan kepada negara,” katanya.

Widjaja juga mendesak PGN agar transaksi pembelian gas yang selama ini dilakukan dalam mata uang dolar AS bisa dilakukan dengan kurs rupiah. Sebab selama ini industri keramik lebih banyak mendapatkan pemasukan dalam denominasi rupiah dan pelaku usahanya tidak harus bersusah payah membeli dollar yang fluktuatif. “Tapi saat ini PGN masih tetap memberlakukan transaksi dengan kurs dolar,” katanya.

Saat ini Asaki membawahi 80 anggota yang berasal dari industri kecil dan indusrri rumah tangga hingga indusri besar keramik. Omsetnya mencapai Rp 1 triliun per bulan atau lima persen di antara sektor serumpun. Ini bisa dilihat dari. penjualan keramik di dalam negeri yang mencapai Rp 8 triliun selama periode Januari – Agustus lalu..

Kebutuhan akan gas berada pada peringkat ketiga setelah pupuk dan baja. Di sektor swasta, tingkat kebutugan akan gas industri keramik menduduki perigkat pertama. “Tanpa gas, industri ini akan mati. Jadi perlu dilihat tingkat kebutuhannya,” katanya.

Tahun sengsara

Pada bagian lain penjelasannya, Achmad Widjaja mengatakan, tahun 2009 ini merupakan tahun yang berat bagi para bagi produsen keramik dalam negeri. Nilai ekspor keramik selama Januari-September 2009 hanya mencapai sekitar 25 juta dolar AS. Dibandingkan ekspor pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 100 juta dolar, angka tersebut mengalami kemerosotan 75 persen.

“Penurunan terbesar terjadi pada ekspor produk keramik ubin karena pembeli dari negara-negara maju yang menjadi tujuan ekspor utama, seperti Amerika, Eropa, dan Australia, mengerem pembelian. Sebab, tak jauh berbeda dengan kondisi ekonomi mereka, kondisi sektor properti di negara-negara itu belum pulih,” katanya.

Bahkan Widjaja menggambarkan mekanisme ekspor saat ini berlangsung nyaris tanpa aturan. “Tidak terjadwal seperti dulu. Volumenya juga terus menurun,” kata Widjaja seraya menyebutkan para produsen keramik nyaris tak mengantongi lagi kontrak-kontrak jangka panjang yang dapat membantu produsen merencanakan produksi secara matang.

Namun, ujarnya, tren penurunan ekspor keramik sudah mulai terasa sejak 2008. Pada 2008 Asaki menargetkan ekspor 300 juta dolar AS. Sepanjang 2008 realiasasinya hanya mencapai 274,8 juta dolar. “Jadi tahun ini kondisinya lebih buruk,” ujar Widjaja

Situasi menjadi semakin sulit karena selama 10 tahun terakhir industri keramik tidak berkembang sehingga tertinggal oleh sesamanya di Asean. Anggota Asaki hanya memproduksi ubin lantai dan ubin dinding yang berglasur sementara keramik untuk ekspor tidak bisa begitu saja dijual di pasar lokal karena spesifikasinya berbeda.

Dari total kapasitas industri keramik nasional 76 ribu ton per tahun, produksi hanya mencapai 40 ribu ton atau tingkat pemanfaatan kapasitas industrinya hanya sekitar 65 persen. “Artinya, mereka hanya memproduksi 247,5 juta pieces dari kapasitas terpasang 330 juta pieces per tahun,” katanya sehingga saat ini industri keramik Indonesia terfokus ke pasar domestik. (Willy Pramudya)