Berita Properti

15 Mar 2010

Menteri BUMN Pekan Depan Temui Dirut PGN

JAKARTA - Menteri BUMN Mustafa Abubakar meminta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tidak memangkas jatah gas sekira 20 persen untuk industri.

“Sebisa-bisanya jangan sampai ada yang terpotong karena efek atau implikasi dari pemotongan itu cukup besar kepada pengangguran nanti. Saya kira dampak ekonominya besar sekali,” ungkap Mustafa saat konferensi pers di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (12/3/2010).

Terkait dengan kontrak ekspor gas ke luar negeri, Mustafa mengatakan akan mengevaluasinya kembali. “Kita evaluasi, sejauh mana keterikatan kontrak bisnis untuk ekspor dan sejauh mana peluang untuk impor. Kalau itu masih visible, itu tidak masalah,” tukas Mustafa.

Sementara untuk impor, Mustafa mengatakan sudah mendapatkan informasi yaitu dari Qatar mendapatkan USD1 per mmsfcd. “Kalau dibawa ke sini plus-plus menjadi masih sekira di bawah USD6 (per mmsfcd) untuk industri. Agak mepet memang untuk industri pupuk dengan harga gas USD5 (per mmsfcd),” jelas Mustafa.

Oleh karenanya, pekan depan Menteri BUMN akan bertemu dengan Direktur Utama PGN guna mencari solusi dari masalah ketersediaan gas 2010 tersebut.

Sekadar informasi, kebutuhan pupuk dalam negeri 509 mmsfcd untuk merevitalisasi pabrik pupuk urea. Sementara total dengan pabrik lama 981 mmsfcd.(ade)


Comments are closed.