Berita Utama

06 Sep 2010

Industri Keramik Merasa ‘Dimusuhi’ Perbankan

Jakarta - Janji pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menggalakkan penyaluran kredit perbankan ke sektor riil, tidak konkret. Perbankan lebih memilih untuk memarkirkan uangnya di Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Achmad Widjaya di Plaza Simas, Jalan Fachrudin, Jakarta Jumat (3/9/2010).

“Pemerintah itu nggak jelas. Pengusaha tidak lagi harapkan pinjaman ke bank, karena pemerintah mengelola Rp 273 triliun dan diparkir di SBI. Bank tidak dukung industri. Maka, saatnya instrumen asuransi yang lebih kencang,” ungkap Widjaya.

Pemerintah pun menurut ASAKI tidak bisa mengendalikan inflasi, yang terbukti mengalami tren peningkatan. Salah satu faktornya adalah terjadi impor besar-besaran dan di sisi lain pemerintah tidak dapat membendung.

“Inflasi meningkat dan kurs rupiah menguat juga jangan dikira membawa dampak positif, tidak,” ungkapnya.

“Kondisi yang disampaikan pemerintah, (penyaluran kredit) semua berjalan baik. Tapi sektor riil tidak,” tegasnya.

Sementara itu, ASAKI masih mengalami defisit pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Dari target pasokan gas sebanyak 68-75 mmcsfd, yang baru tersalurkan ke pelaku usah keramik hanya 53-54 mmcsfd.

“Dengan (pasokan gas) segitu saja, mereka (pelaku usaha) hanya jalan 80-85% dari utilisasi. Sebenarnya bisa ditingkatkan lagi produksinya, tapi kita minta PGN kasih lebih,” papar Widjaya.

Peningkatan pasokan gas ini juga, mau tidak mau harus ditingkatkan dalam waktu dekat. Pasalnya mulai tahun 2011 dipastikan akan ada tiga pabrik keramik baru yang berdiri di Indonesia. Keseluruhannya berasal dari investor luar negeri.

“Tahun depan suplai 60-100 mmcsfd, dengan masuknya tiga pabrik keramik masuk Indonesia. Ini harus dikembalikan ke PGN,” paparnya.

Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Berita Utama

06 Sep 2010

PGN Gandeng Asuransi Sinar Mas Jamin Pembayaran Gas

Jakarta – Selain bank garansi, pengusaha keramik yang bernaung dalam Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) akhirnya mendapatkan alternatif penjaminan pembayaran energi gas, yaitu asuransi. Selaku pemasok gas, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menjalin kerja sama dengan PT Asuransi Sinar Mas, dalam hal penerbitan jaminan pembayaran kepada seluruh pelanggan BUMN gas ini.

Sebagai tahap awal, kesepakatan penerbitan jaminan pembayaran ditandatangani antara PGAS dengan empat pelaku industri keramik yaitu PT Colorobia Indonesia, PT Ika Maestro, PT Perkasa Primarindo, PT Primarindo Argatile, dan PT Keramik Indonesia Asosiasi Tbk (KIA Grup).

“Nantinya kami harapkan seluruh pelaku yang bernaung di Asaki, (penerbitan jaminan pembayaran) lewat kita. Sampai akhir tahun jaminan pembayaran akumulasi sudah Rp 500 miliar atau setengah dari anggota (Asaki),” ungkap CFO Asuransi Sinar Mas Njoman Sudartha disela-sela penandatanganan kerja sama di Plaza Simas, Jalan Fachrudin, Jakarta Jumat (3/9/2010).

Njoman menambahkan, selaku perusahaan rekanan PGAS, Asuransi Sinar Mas berterima kasih karena telah mendapat kesempatan untuk menerbitkan produk jaminan. Dengan adanya kerja sama ini, PGAS akan mendapat kepastian pembayaran tagihan dari seluruh pelanggan setiap bulan dari pengusaha keramik.

“Dan apabila ada keterlambatan pembayaran, maka PGAS dapat mencairkan jaminan pembayaran yang telah diterbitkan oleh Asuransi Sinar Mas. Kami akan membayar klaim yang diajukan oleh Perusahaan Gas Negara,” tambah Nyoman.

Menurutnya, pelanggan PGAS dipercaya akan memperoleh pilihan yang lebih baik atas kewajiban menyerahkan jaminan pembayaran, karena Asuransi Sinar Mas memberi persyaratan yang lebih ringan.

“Kita berikan collateral yang lebih rendah dibandingkan dengan bank garansi dan proses penerbitan yang lebih cepat. bank garansikqn, kasih jaminan 100%. Tentu akan mengurangi equity. Tapi dgn asuransi lebih membuat perusahaan punya fleksibilitas yang lebih baik,” paparnya.

Whery Enggo Prayogi – detikFinance