Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/subtube/sites/asaki.or.id/wp-includes/link-template.php(1) : eval()'d code on line 1
Berita Properti

20 Dec 2011

BP Migas: Industri Peroleh Alokasi Gas Terbesar

Jakarta (ANTARA) – Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengungkapkan, sektor industri memperoleh alokasi gas terbesar selama kurun waktu 2003-2010.

Tenaga Ahli BP Migas Fathor Rahman saat diskusi di Jakarta, Kamis mengatakan, selama 2003-2010, sektor industri memperoleh pasokan gas sebesar 10,1 triliun kaki kubik (TCF).

“Dari alokasi total 20,1 TCF, industri menyerap 10,1 TCF atau lebih dari 50 persen,” katanya.

Setelah industri, menurut dia, pembangkit listrik mendapat alokasi 6,9 TCF, dan pabrik pupuk dan amonia 3 TCF.

Alokasi gas buat industri dan pembangkit tersebut, lanjutnya, telah menyubstitusi bahan bakar minyak sekitar tiga miliar barel.

“Pada harga minyak 100 dolar per barel, pasokan gas ke PLN mengurangi subsidi listrik hingga 81 miliar dolar AS dan penghematan energi industri sebesar 106 miliar dolar AS,” ujarnya.

Fathor juga mengatakan, beberapa tahun terakhir, permintaan gas mengalami peningkatan cukup signifikan menyusul kenaikan harga minyak.

Sementara, pemenuhannya membutuhkan paling tidak selama enam tahun.

“Penyediaan gas tidak bisa serta merta dalam jumlah besar dan cepat. Perlu waktu,” katanya.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Satya Yudha mengatakan, pihaknya mendukung program pemerintah mengalokasikan gas bumi buat memenuhi kebutuhan domestik.

Namun, lanjutnya, pemerintah perlu menetapkan formula harga yang jelas.

“Harga gas mesti dinaikkan sesuai keekonomian proyek pengembangan gasnya,” katanya.

Permen ESDM No 3 Tahun 2010 tentang Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi mengamanatkan, gas bumi diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan infrastruktur, besarnya cadangan, keekonomian pengembangan lapangannya.

Berdasarkan data pemanfaatan gas yang dipublikasikan Kementerian ESDM, alokasi domestik mencapai 58 persen dan ekspor 42 persen.

Komposisi domestik adalah pembangkit listrik 24 persen, industri 19 persen, pupuk 11 persen, produksi migas 3,8 persen, bahan bakar transportasi 0,19 persen, dan gas kota 0,023 persen.

Comments are closed.