Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/subtube/sites/asaki.or.id/wp-includes/link-template.php(1) : eval()'d code on line 1
Berita Properti

20 Dec 2011

Pengusaha Keramik Ancam Demo

Para pelaku industri dan rumah tangga pengguna gas yang dijual dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk terancam gulung tikar, sebab pertengahan November mendatang, Santos akan melakukan shut down atau penghentian produksi gas di Santos Sumenep.

Akibat penghentian ini PT PGN SBU II Jatim tak lagi mampu menjual gas ke 12.325 pelanggannya. “Shut Down akan dilakukan minggu ke dua November nanti, mungkin selesainya 2 pekan kedepan atau sekitar 15 hari.

“Selama 15 hari itu Santos harus menghentikan semua kegiatan eksploitasi gas. Artinya, produksi gas sebanyak 110 Million Metric Square Cubic Feed Day (MMSCFD), harus terhenti sementara,” beber Hadi Prasetyo, Kepala Perwakilan BP Migas Japalu (Jatim, Papua, dan Maluku) dalam konferensi pers di kantor BP Migas di Surabaya, Senin (24/10/2011).

Dikatakan, shut down terpaksa dilakukan karena kaki produksi gasnya ada yang retak dan aturan internasional tak mau mentolerir keretakan sedikit pun, sebab akan memicu kecelakaan kerja yang cukup fatal. Dampaknya, citra safety yang dijaga sumur eksplorasi minyak dan gas di Indonesia akan tercoreng.

“Ini juga yang membuat produksi gas di Santos Sumenep ini merosot dari 120 MMCSFD menjadi 100-110 MMCSFD. Kekurangan yang sama juga terjadi di sumur HESS Ujung Pangkah,” katanya. Pernyataan Hadi juga diamini oleh Hamim Tohari, Community Relations Coordinator Santos.

“Kami tahu, PGN sebagai satu-satunya pembeli gas kami akan merugi, tetapi untuk menutupi agar shut down tak terlalu membuat PGN dan pelanggan industrinya langsung terseok maka kami sudah mengusulkan agar shut down dilakukan dengan sistem selang-seling. Mungkin sehari berhenti produksi, sehari kami produksi lagi, hingga genap 15 hari proses perbaikan kaki produksi kami,” sela Hamim Tohari.

Ketika ditanya apakah shut down ini tak akan membuat Santos terkena finalty atau sanksi berupa ganti rugi dari PGN yang telah menjalin kontrak kerja dengan Santos, Hadi Prasetyo mengaku kerjasama antar kedua perusahaan ini berbeda dimana PGN akan mengambil semua produksi gas di Santos Sumenep berapun jumlahnya termasuk kekurangannya.

Saat disusun MoU 2005 lalu antara PGN dan Santos, kebutuhan gas tak sebesar saat ini,” kata Hadi.

Penghentian produksi gas ini akan berdampak meruginya industri, sebab pelaku industri di Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Pasuruan yang menjadi pelanggan PGN SBU II Jatim akan menghentikan semua produksi mereka.  Meskipun shut down merupakan rutinitas rutin sumur bor gas, tetapi jangka waktu shut down yang cukup lama yakni 2 minggu akan langsung membuat industri kalang kabut.

Bahkan rencana shut down ini mendapat reaksi keras dari Achmad Widjaja, Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Jatim, yang mengancam akan melakukan aksi unjuk rasa ke Santos, PGN dan lembaga pemerintahan di Jatim yang tak mampu melindungi kepentingan industri.

“Santos sudah menggaungkan rencana shut down ini sejak awal tahun, tetapi sampai sekarang tak jelas. Kok bisa tiba-tiba saja, tanpa memberitahukan info ini kepada kami, mereka langsung memutuskan November. Santos jangan hanya mau menang sendiri, pertimbangkan juga usaha yang kami rintis saat ini,” ucap Achmad berang.

Achmad menuntut, jika ada shut down yang berkepanjangan selama 15 hari, maka Santos maupun PGN harus mampu menyediakan bahan bakar Elpiji sebagai penggantinya. Sebab 10 industri keramik yang sudah tak lagi menggunakan double engine untuk cadangan energi mereka, akan langsung terhenti. Akibatnya 30 ribu pekerja di industri keramik akan menganggur.

“Sehari kami memasak 900 meter kubik per hari dengan biaya 27.000 per meter kubik, artinya untuk produksi sehari saja kami bisa rugi Rp 24,3 juta dan jika dikalikan 10 industri pengolahan keramik, akan merugi hingga Rp 243 juta dan itu akan terjadi selama 15 hari. Belum lagi karyawan kami juga tak bisa mendapatkan lembur. Silahkan saja hentikan pasokan gas, maka buruh yang akan bergerak dijalanan,” tantang Achmad.

Achmad pun tak bisa berpindah ke solar, karena selain biaya produksi akan meningkat 2-3 kali lipat, kini perusahaan pengolahan keramik pun sudah dilarang menggunakan solar atau bahan bakar minyak lainnya, karena alasan pencemaran lingkungan.

“Kami dituntut untuk menjalankan prinsip go green tapi kok pemerintah dan penyedia gas-nya tak mau peduli,” keluhnya.

Bukan hanya industri keramik yang akan berimbas. Imbas yang paling besar akan terasa di bidang industri lain, sebab dari 322 pelanggan industri PGN SBU II Jatim, 30 persen konsumsi gas digunakan oleh industri makanan dan minuman. 16 persen gas digunakan oleh pabrik metal sedangkan keramik menggunakan 18 persen dari total gas yang ada.sedangkan pabrik chemical menggunakan 16 persen serta glass 15 persen.

Cahyo Triyogo, General Manager PGN SBU II Jatim, membenarkan akan ada shut down dari Santos yang selama ini menyumbang 110 MMCSFD dari total 130 MMCSFD gas yang kini disalurkan ke pelanggan. Tetapi Cahyo mengaku, dampak shut down, sudah disosialisasikan dan diterima dengan baik oleh pelanggannya. Namun Cahyo, menolak jika PGN harus memberikan pengganti gas berupa elpiji atau sejenisnya.

“Itu bukan kewenangan kami, sebab itu tak ada dalam perjanjian kami dengan pelanggan. Ibaratnya, seperti PLN mengalami gangguan dan listriknya mati, tak ada industri maupun rumah tangga yang minta ganti, karena itu memang kondisi alam,” kilah Cahyo.

Cahyo, memastikan semua pelanggannya sudah menyediakan pengganti energi selama gas tak bisa dialirkan ke perusahaan industri mereka. Cahyo pun mengaku PGN akan mengalami kemerosotan omset, tetapi dirinya sudah paham karena akan ada shut down setiap tahunnya.

“Ya mau bilang apalagi, shut down itu memang harus dilakukan. Industri seharusnya sudah menyiapkan energi lainnya untuk kelangsungan produksi mereka,” tandasnya.[rea/

Comments are closed.