Berita Daerah

19 Nov 2008

PGN akan tetapkan harga gas sesuai pasar

JAKARTA: PT Perusahaan Gas Negara Tbk. berancang-ancang untuk menerapkan harga gasnya berdasarkan mekanisme pasar setelah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah.Direktur PGN Michael Baskoro PN mengatakan pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan pemerintah, dalam hal ini Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber daya Mineral Evita Herawati Legowo.

Dari pertemuan itu, pemerintah memberikan lampu hijau kepada BUMN gas itu untuk menetapkan harga sesuai dengan mekanisme pasar.

“Namun, waktunya nanti akan ditentukan pemerintah. Kami menunggu saja. Yang jelas, keinginan itu sudah mendapatkan persetujuan dari Dirjen Migas yang baru Bu Evita [Herawati Legowo],” katanya kemarin.

Menurut Michael, sikap terbaru pemerintah itu sekaligus akan menghapus niatan pemerintah sebelumnya yang mengendalikan harga gas PGN melalui Peraturan Menteri ESDM tentang formula harga gas, yang hingga kini belum terealisasi.

Formula sementara yang berlaku saat ini adalah bahwa PGN hanya boleh menjual gas dengan batas atas 95% terhadap harga ekspor gas, sebelum diproses menjadi gas alam cair (LNG).

“Dengan persetujuan ini formula itu dengan sendirinya tidak berlaku,” katanya menolak menjawab ketika kembali didesak kapan keputusan itu akan diperoleh.

Dia menilai penetapan harga melalui mekanisme pasar merupakan pilihan adil pemerintah.

Selama ini, katanya, PGN diperlakukan tidak adil karena harus membeli gas dari produsen dengan harga pasar sedangkan harga jual dikendalikan oleh pemerintah.

“Itu kan tidak adil. Bagaimana kami bisa maju, ketika beli dibiarkan mengikuti harga pasar, ketika hendak menjual dikendalikan pemerintah.”

Bisnis tidak berhasil mengonfirmasi Dirjen Migas Evita Herawati Legowo yang sedang berada di Brasil. Ketika informasi itu dikonfirmasikan kepada Direktur Hilir Migas Saryono Hadiwidjoyo, dia mengaku belum mengetahui tentang adanya kebijakan tersebut.

Berita Daerah

04 Sep 2008

Inflasi Tinggi akan Dorong Naiknya BI Rate

Asaki.or.id – Jakarta, Pengamat ekonomi, Edwin Sinaga mengatakan, laju inflasi tahunan yang mencapai 11,85% akan mendorong Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) yang saat ini mencapai 9%. “BI diperkirakan kembali menaikkan bunga BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25% untuk menekan inflasi yang terus melaju di atas target pemerintah sebesar 11,2%,” kata Edwin di Jakarta, Selasa. Ia mengatakan, kenaikan BI Rate ini diharapkan dapat mendorong masuknya investor asing untuk menempatkan dananya di pasar uang Indonesia. “Karena sebagian besar investor asing telah mengambil dananya yang telah dialihkan ke pasar lain yang lebih menguntungkan,” kata Edwin yang juga Presdir Finan Corporindo. Kenaikan BI Rate itu, menurut dia, akan memicu rupiah kembali membaik setelah beberapa hari lalu terpuruk hingga mendekati angka Rp 9.200 per dolar AS. “Kalau rupiah menembus di atas angka Rp 9.200 per dolar AS hal ini sangat mengkhawatirkan,” katanya. Ia mengatakan, BI kemungkinan akan berusaha untuk menjaga rupiah tidak menembus angka Rp 9.200 per dolar AS dengan melepas cadangan dolarnya. Rupiah berada dalam posisi yang aman apabila berkisar antara Rp 9.150 sampai Rp 9.175 per dolar AS, namun jika sampai menembus angka Rp 9.200 per dolar AS biasanya rupiah akan terus terpuruk. “Posisi rupiah yang mencapai level Rp 9.195 per dolar AS sudah sangat mengkhawatirkan akibat rumors inflasi yang tinggi,” ujarnya. Inflasi, menurut dia, akan dapat mencapai angka 12%, karena berbagai faktor negatif yang terjadi di dalam negeri sangat memungkinkan mendorongnya ke arah angka tersebut. Inflasi tak lagi dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga BBM. “Dampak kenaikan BBM sudah tidak ada yang ada kenaikan harga gas,” katanya. Ia menyayangkan dinaikkannya harga gas pada saat masyarakat harus menanggung kenaikan harga BBM. “Ini kurang produktif dan justru kontra produktif. Meski harga gas pada akhirnya disesuaikan, namun saya kira tidak dalam tahun-tahun ini,” katanya. Untuk mengerem tingkat inflasi agar tidak berlebihan, menurut dia, pemerintah harus mempersiapkan diri untuk mengamankan pasokan barang dan memperbaiki distribusi barang terutama pada bulan September dan Desember yang akan terjadi inflasi musiman. “Terutama untuk puasa dan lebaran ini,” katanya.

Berita Daerah

24 Jul 2007

Kawasan Sigarbencah Akan Menjadi Pusat Industri Keramik

Asaki.or.id – Jakarta, ”Memproduksi keramik dengan meniru desain China sudah bukan zamannya lagi. Kita bisa mengangkat dan membuat identitas produk keramik lokal, bahkan bahan baku pun mengambil dari bahan lokal,” kata Pemilik Sigar Bencah Keramik Roy Wibisono dalam seminar “Memotivasi Penumbuhan dan Penguatan Industri Kecil Kota Semarang” di Balaikota Semarang, Senin (9/7). Di studio keramiknya di Perumahan Bukit Kencana Jaya, di kawasan perbukitan Sigarbencah, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Roy membuktikan perkataan itu. Bersama sejumlah karyawannya, ia memadukan tanah Sigarbencah yang awalnya berfungsi sebagai tanah uruk dengan pasir atau filspar dan tanah abu dari Gunung Merapi, menjadi bahan keramik. Tanah Sigarbencah yang berwarna putih kusam dan banyak mengandung tanah liat itu menjadi bahan dasar pokok, yaitu sekitar 99 persen.

Dua bahan lain, yaitu filspar dan tanah abu yang banyak mengandung pasir, merupakan bahan baku tambahan. Dari perpaduan tanah itu dan kreativitas lokal, lahirlah keramik Semarang. Keramik-keramik itu menghidupkan ikon-ikon khas Kota Semarang, antara lain Tugu Muda, Gereja Blenduk, dan Lawang Sewu. Motif atau gambar Gereja Blenduk dan Lawang Sewu menjadi penghias gelas, vas bunga, dan jam dinding. Ikon Tugu Muda menjadi miniatur. Yang Melaksanakan Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang Bambang Purnomo mengatakan, kerajinan keramik itu akan dikembangkan menjadi keramik Semarangan

atau keramik khas Kota Semarang. Pengembangan itu dimulai dengan pelatihan sekitar 20 orang, terdiri dari warga sekitar dan peminat pengembang usaha keramik, di Studio Sigar Bencah Keramik pada 20-23 Juli. Dari pelatihan itu, mereka bisa mengembangkan suvenir khas Semarang dari keramik dan menciptakan kreativitas lain yang tetap bernapaskan lokal. “Harapannya, warga sekitar akan turut membuat dan mengembangkan keramik Semarangan sehingga Sigarbencah akan menjadi pusat industri keramik khas Semarang,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur PT Webe Inter Tirzada Wenny mengatakan, Kota Semarang bukan kota seni, keterampilan kerajinan kurang berkembang luas dan memasyarakat. Kondisi itu berbeda dengan kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Jepara. Di kota-kota itu, sebagian besar masyarakat terbiasa dengan keterampilan menghasilkan hasta karya beragam produk. Untuk itu, presiden direktur perusahaan manufaktur dan eksportir beragam kerajinan dari bahan-bahan natural ini akan turut membantu mengembangkan dan memajukan keterampilan para peserta dan perajin kecil.

Berita Daerah

14 Jul 2007

Pasokan Gas Minim, Kedaung Grup Kena Penalti

Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta, Kompas – Akibat minimnya pasokan gas, perusahaan keramik Kedaung Group terkena penalti 100 persen. Setelah dinegosiasikan, seluruh pesanan terpaksa dikirim melalui pesawat udara.

Biaya pengiriman itu ternyata mencapai 500.000 dollar AS. Ironisnya, harga jual keramik tableware yang dikemas dalam 12 kontainer (masing-masing berisi 7.448 boks) tidak sebanding ongkos kirimnya. Harga jual tableware berkisar 28.000 dollar AS hingga 29.000 dollar AS per kontainer.

Direktur Produksi Kedaung Group Alton mengungkapkan kerugian yang dialaminya kepada Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya di Jakarta, Selasa (10/7), dalam jumpa pers persiapan pameran “Indo Asian Ceramics 2007″ yang diselenggarakan Rabu-Minggu (11-15 Juli 2007).

Alton mengaku kapok menerima kembali pesanan yang besar dari Inggris. Pasalnya, pasokan gas, baik volume maupun tekanannya, tidak pernah dipenuhi oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) secara kontinu.

Keterlambatan pengiriman akibat minimnya pasokan gas itu terjadi Maret lalu. Padahal, seluruh pesanan seharusnya sudah dikirimkan kepada konsumen di Inggris pada Februari 2007.

Kerugian itu baru diungkapkan karena selama ini Alton memilih bungkam. Kerugian itu pun pernah diungkapkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat resmi, tetapi tidak membuahkan hasil.

Kedaung Group yang dahulu kapasitas produksinya bisa mencapai 2,5 juta keping per bulan, kini menurunkan kapasitas produksinya menjadi 1,5 juta keping per bulan.

Alton mengatakan, “Sebetulnya saya sudah menjadwalkan pengiriman hasil produksi pakai kapal laut. Biaya seluruhnya paling sekitar 5.000 dollar AS. Sayangnya, hingga batas waktu produksi yang ditetapkan, proses produksinya terhambat akibat terhambatnya pasokan gas.”

Achmad Widjaya mengatakan, risiko bisnis memang selalu ada. Untuk urusan gas, pengusaha keramik Indonesia memang tidak mempunyai pilihan.

“Pembangunan pipa gas South Sumatera West Java (SSWJ) saja belum ada kepastian alokasi gas yang bisa disalurkan ke pabrik keramik,” ujarnya. (OSA)

Berita Daerah

25 May 2007

PMA Inggris Tambah Investasi

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (SINDO)-Perusahaan keramik asal Inggris Royal Doulton & Wedgwood berencana meningkatkan investasinya di Indonesia sebesar USD25-28 juta, atau sekitar Rp220-246 miliar.

Tambahan investasi tersebut akan direalisasikan perusahaan penanaman modal asing (PMA) tersebut pada 2008. “Total investasi Doulton di Indonesia saat ini mencapai USD75 juta, dan akan ada penambahan USD25-28 juta,” ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhamad Lutfi, seusai mendampingi Chairman Royal Doulton & Wedgwood Sir Anthony O’Reilly bertemu Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, di Kantor Wapres Jakarta, kemarin.

Lutfi menambahkan, perusahaan itu juga berencana memindahkan pabriknya di Eropa ke Indonesia. Royal Doulton tercatat sudah beroperasi di Indonesia sejak 12 tahun terakhir. Ketertarikan Royal Doulton di Indonesia, jelas Lutfi, adalah karena kelebihan tenaga artistik Indonesia yang membuat produknya sangat kompetitif.

Menurut Lutfi, peningkatan investasi PMA Inggris tersebut akan menjadi alat promosi bagi perusahaan sejenis untuk berinvestasi di Indonesia. “Dalam jangka panjang, Tangerang, Bandung, Bali dan Lombok akan kita kembangkan menjadi pusat produksi keramik tingkat dunia,” kata Lutfi.

Dalam pertemuan yang dihadiri pula oleh Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) tersebut, lanjut Lutfi,Wapres juga menyatakan dukungan atas masuknya PMA di sektor tersebut.Wapres juga berjanji segera memperbaiki masalah pasokan gas untuk industri keramik yang saat ini kurang lancar. “Masalah suplai, Wapres menjelaskan dalam waktu 40 hari, seperti janji PGN masalah gas ini akan diselesaikan. Wapres juga menjanjikan, pada 2010 pasokan gas di Indonesia akan mengalami equilibrium sehingga dipastikan tidak akan ada lagi kekurangan pasokan,” paparnya.

Sementara itu, Chairman Royal Doulton & Wedgwood Sir Anthony O’Reilly mengatakan, penambahan investasi sebesar USD25 juta akan menggandakan kapasitas produksi dari 6 juta keping per tahun saat ini menjadi 12 juta keping. “Di samping itu, kami juga akan melakukan transfer teknologi dan pengetahuan dari Inggris ke Indonesia, khususnya di bidang desain,” tuturnya.

Menurut Anthony,5-10 tahun ke depan ekonomi Indonesia akan maju pesat. Hal itu dibenarkan Ketua Asaki Achmad Widjaya yang mengatakan bahwa saat ini Indonesia merupakan pemain nomor lima dunia di bidang produksi ubin lantai, ubin dinding, barang pecah belah, dan genteng. “Semua asli dari sini. Kita ekspor cukup besar,” cetusnya.(ali ikhwan)