Berita Manajemen

06 Jul 2009

Ekspor Keramik Semester I-2009 Anjlok 54%

Jakarta – Nilai ekspor industri keramik selama semester I-2009 diperkirakan anjlok 54% dibandingkan semester I-2008. Penurunan disebabkan turunnya permintaan dari negara tujuan ekspor akibat krisis.

“Ekspor keramik semester I-2009 diperkirakan tidak sampai US$ 50 juta,” ujar Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Achmad Widjaya, di JCC, Jakarta, Kamis (2/7/2009).

Achmad mengatakan, pada semester I-2008 nilai ekspor keramik mencapai US$ 110 juta. Mengacu pada nilai tersebut, ekspor keramik hingga akhir Juni 2009 mengalami penurunan tajam sebesar 54,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Pada triwulan I-2009 saja, ekspor tidak sampai US$ 25 juta. Angka US$ 50 juta di semester I-2009 juga masih perkiraan, belum tentu sampai segitu,” ujarnya.

Ia mengatakan, penyebab utama penurunan ekspor keramik lantaran krisis ekonomi global telah menyebabkan anjloknya permintaan dari negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Eropa.

“Kita sudah coba lakukan pengalihan pasar ekspor ke ASEAN, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Target kita 20% ekspor keramik bisa dialihkan ke ASEAN, tapi realisasinya hanya sekitar 10%,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia memprediksi nilai ekspor satu tahun penuh di 2009 juga bakal anjlok tajam dibanding tahun lalu. Pada tahun 2008, ekspor keramik nasional mencapai US$ 220 juta.

“Tahun ini kami perkirakan paling banyak mencapai US$ 100 juta, itu target optimisnya,” ujarnya.

Achmad juga mengatakan sulit melakukan pengalihan pasar ekspor ke pasar domestik, terutama dari sisi daya beli.

“Mengalihkan ke domestik lebih sulit lagi. Daya belinya tidak cukup,” ujarnya.

Berita Manajemen

27 Apr 2009

Industri keramik tertolong pasar domestik

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA – Industri keramik nasional hingga kuartal III-2009 belum memperoleh order dari pembeli (buyer) di beberapa negara tujuan ekspor tradisional,seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Akibatnya, kinerja ekspor industri ini pada kuartal I-2009 anjlok hingga 60 persen menjadi hanya USD30 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD75 juta. Ketua Asosiasi Industri Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya mengatakan, sepanjang kuartal I-2009, industri domestik hanya memenuhi order yang diperoleh pada kuartal IV-2008 lalu. “Pasar Amerika dan Eropa itu mewakili 70 persen dari ekspor keramik nasional,yakni sekitar USD300 juta, dan mereka sedang ambruk. Jadi, kita cuma bisa menunggu sekarang ini,” ujar Achmad saat dikonfirmasi, di Jakarta. Dia menambahkan, penurunan ekspor terbesar terjadi untuk produk lantai ubin. Produk ini juga sulit dialihkan ke pasar domestik karena produk yang diekspor memiliki ukuran, jenis, dan motif berbeda dengan jenis yang dijual ke pasar lokal. “Jadi kalau ekspornya mati, ya (penjualannya) mati,” katanya. Lebih lanjut dia menjelaskan, sisa ekspor yang masih berlangsung saat ini hanya ke beberapa negara tujuan di kawasan ASEAN, dia antaranya Myanmar, Sri Lanka, dan Kamboja. Namun, kontribusi ekspor oleh negara-negara itu sangat kecil. “Kalau negara di luar AS dan Eropa,kontribusinya masih kecil, maksimal hanya 8 persen, jadi sangat jauh sekali perbedaannya,” paparnya. Secara terpisah, Direktur Industri Kimia Hilir Departemen Perindustrian (Depperin) Tony Tanduk menerangkan, pada kuartal I tahun ini ekspor keramik memang diprediksi anjlok. “Ekspor memang diestimasi turun sekitar 30 persen. Terutama dari sektor perumahan,” ungkap Tony. Terlepas dari kondisi buruk tersebut, Achmad Wijaya mengatakan bahwa industri keramik sedikit tertolong oleh meningkatnya omzet penjualan untuk pasar domestik. Penjualan keramik di pasar domestik sepanjang Januari? Maret 2009 memperlihatkan peningkatan tipis sekitar 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari Rp3 triliun menjadi Rp3,5 triliun. “Penjualan domestik meningkat menjadi sekitar Rp3,1?3,5 triliun hingga Maret lalu. Konsumsiter besar masih didominasi produk ubin lantai,” ujarnya. Asaki memperkirakan pasar domestik akan terus membaik berkat perkembangan positif perekonomian nasional.

Sumber:  Okezone
Berita Manajemen

09 Apr 2009

Pemerintah perkuat 15 sektor industri

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA: Departemen Perindustrian menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak krisis global yang kini menghantam 15 sektor industri manufaktur nasional. Seluruh sektor manufaktur itu mengalami pelemahan pasar ekspor, terganggunya pasar domestik, dan penundaan ekspansi. Seusai hasil inventarisasi Depperin, pelemahan ekspor ke Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang dialami industri tekstil dan produk tekstil (TPT), produk karet, produk kayu, pulp dan kertas, minyak sawit, elektronik, furnitur, pulp dan kertas, keramik, produk ban, dan alas kaki. “Pelemahan ekspor tertinggi diperkirakan terjadi untuk TPT, produk kayu, rotan olahan, serta pulp dan kertas rata-rata 20%-25%,” kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam Diskusi Economic Outlook 2009 yang diselenggarakan Bisnis Indonesia, kemarin. Sementara itu, enam sektor manufaktur nasional yakni TPT, baja, elektronik, keramik, makanan minuman, dan produk kayu, dinilai paling menderita dengan ancaman membanjirnya produk China. “Karena itu, Depperin mengusulkan pemberian label khusus untuk impor dan verifikasi importasi produk yang rawan penyelundupan,” katanya. Untuk pengamanan pasar domestik, lanjutnya, Depperin telah menyiapkan beberapa langkah taktis. Pertama, usulan pemberlakuan tata niaga impor serta membuat early warning system untuk pemberlakuan pengamanan perdagangan (safeguard)dan antidumping. Kedua, penundaan pelaksanaan program penurunan tarif BM untuk empat produk manufaktur hingga 2010. Keempat produk yang mengalami penundaan penurunan BM itu adalah keramik, baja, karet, dan bahan baku kabel optik. “Di tengah ketatnya likuiditas, sejumlah sektor perlu diberikan kelonggaran dalam pemberian kredit investasi dan penundaan kenaikan pajak. Regulasi importir terdaftar untuk sejumlah produk juga perlu ditetapkan. Verifikasi teknis untuk produk impor juga diperketat terma- suk pemberian label khusus untuk barang-barang impor,” paparnya. Ketiga, mengusulkan kepada Departemen Keuangan untuk memberi insentif berupa pembebasan bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) kepada sedikitnya di 10 sektor industri manufaktur pada 2009 dengan anggaran Rp2,1 triliun. Ke-10 sektor itu antara lain baja, pelat timah, susu, otomotif, elektronik, dan telematika. Usulan ini diharapkan terealisasi November 2008. “Jika dipandang perlu, insentif itu akan dilanjutkan hingga 2010,” paparnya. Terganjal likuiditas Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri dan Kelautan Rachmat Gobel menilai kekeringan likuiditas di sektor perbankan diprediksi menjadi batu sandungan terberat terhadap rencana investasi di dalam negeri pada tahun depan. “Terus terang investasi 2009 cukup berat, meski prospek tetap ada. Kalau kita bisa mengambil peluang dalam pelemahan ekonomi dunia hingga tahun depan, ini bagus buat industri nasional. Momentumnya ada di sini,” katanya. Dibandingkan dengan krisis 1998 terdahulu, dia menilai, seharusnya pengusaha nasional memiliki daya tahan lebih kuat untuk menghadapi gejolak finansial pada kuartal I/2009. Misalnya, pemerintah jangan terlalu mengandalkan pembiayaan jangka panjang, memperbanyak transaksi rupiah dibandingkan dengan dolar AS dan menggerakkan roda ekonomi di sektor riil, termasuk UKM. Dalam periode itu pula, lanjutnya, pemerintah harus dapat menjamin keamanan dan kenyamanan iklim investasi, menjelang pelaksanaan Pemilu 2009. Pasalnya, kondisi politik yang tidak kondusif dapat menurunkan minat investasi.

Sumber:  BI
Berita Manajemen

19 Sep 2008

Antam Jajaki Pasok Listrik ke PLN

Asaki.or.id – Jakarta, JAKARTA (SINDO) – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menjajaki untuk memasok listrik ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berdaya 2×75 megawatt (MW) di Pomala, Sulawesi Tenggara senilai USD300 juta. 

”Nantinya listrik itu kita akan jual ke PLN,” kata Direktur Keuangan Antam Djaja M Tambunan di Jakarta kemarin. Djaja mengungkapkan, kajian memasok listrik ke PLN dilakukan dengan terlebih dahulu memasok kebutuhan internal perseroan. Saat ini kebutuhan listrik internal mencapai 110 MW.Jika pembangunan independent power producer (IPP) tersebut terealisasi pada 2010,Antam akan memasok kelebihan daya sebesar 40 MW ke PLN.  

”Saya pikir memasok listrik ke PLN sesuai dengan kondisi saat ini karena hampir di seluruh wilayah kekurangan listrik,”imbuhnya. Mengenai kebutuhan batu bara PLTU tersebut, Djaja belum dapat memberikan angka pastinya karena masih dikaji. Dia hanya mengungkapkan, perseroan berencana menjajaki untuk mengakuisisi sejumlah lahan batu bara. Namun, dia belum dapat mengungkapkan wilayah mana saja yang sedang dibidik. 

”Mungkin tidak terlalu jauh dari lokasi PLTU, tapi bisa juga di luar wilayah tersebut,” katanya. Direktur Utama Antam Alwin Syah Loebis mengatakan, proyek pembangunan PLTU ini dilakukan sebagai energi alternatif di Pomala. PLTU tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2010. ”Selama ini kami menggunakan listrik dengan bahan bakar minyak.Kalau kami terus menggunakan cara ini, agak sulit masuk jadi pemain tingkat dunia,”tuturnya. 

Menurut dia, porsi perseroan dalam proyek IPP ini sebesar 20%, sedangkan sisanya dari sejumlah mitra yang berminat. ”Saat ini masih dalam pembukaan tender,” imbuhnya. Mengacu pada komposisi kepemilikan saham dalam proyek ini,Antam akan merogoh kocek USD60 juta yang berasal dari kas internal, dan sisanya dari mitra strategis. Sayangnya, dia belum dapat menyebutkan perusahaan mana saja yang akan masuk sebagai mitra perseroan dalam proyek ini. ”Bisa dari asing atau lokal,”kelitnya.

Berita Manajemen

08 Aug 2008

PGN Golongkan 6 Pelanggan Gas

Asaki.or.id – Jakarta, Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengajukan 6 golongan pelanggan untuk penyusunan formula gas. Setiap golongan memiliki mekanisme pengaturan harga yang berbeda.

Dalam situs resmi Ditjen Migas yang dikutip detikFinance, Sabtu (12/4/2008), disebutkan Dirut PT PGN Sutikno mengusulkan enam golongan ini dalam rapat tertutup dengan para stakeholder gas. Rapat dihadiri antara lain pemerintah c.q Ditjen Migas, Kadin, penjual gas seperti PGN, dan konsumen gas seperti Asaki, asosiasi kaca, dll.

Golongan I adalah rumah tangga dan pelanggan kecil, yang penetapan harganya dilakukan oleh BPH Migas.

Golongan II adalah industri khusus yang diberikan harga semi subsidi. Pelanggan yang masuk golongan ini antara lain industri perkapuran dan genteng rakyat dengan pemakaian sekitar 10.000 m3 per bulan.

Golongan III untuk rumah sakit dan kantor yang diberlakukan harga semi komersial dengan pemakaian 10.000 sampai 100.000 m3 per bulan.

Golongan IV untuk hotel dan restoran yang diberlakukan harga komersial dengan pemakaian 10.000 sampai 100.000m3 per bulan.

Golongan V untuk industri manufaktur yang diberlakukan harga komersial dengan pemakaian gas lebih dari 1.000m3 per bulan. Pelanggan industri manufaktur sendiri akan dibagi menjadi 4 jenis.

Sedangkan Golongan VI untuk pembangkit listrik, diberlakukan harga komersial dengan pemakaian lebih dari 1.000.000m3 per bulan. Harga untuk pelanggan ini dibagi 2 jenis.

“Tapi ini bukan berarti kami ingin segera menaikkan harga, melainkan usulan untuk penyusunan formula,” kata Soetikno seperti dikutip situs tersebut.

PGN juga mengusulkan batas bawah harga gas berdasarkan harga keekonomian, terdiri dari harga di well head, toll fee, tax dan iuran.

Sementara Ketua Asaki Achmad Wijaya mengakui, dalam pertemuan siang tadi PGN memang menjelaskan mengenai harga gas saat ini baik di well head, harga ekspor maupun harga dunia.

Harga yang dipaparkan antara lain harga gas di well head sebesar US$ 3,65/mmbtu, harga ekspor Indonesia yang sebesar US$ 12/mmbtu, dan harga dunia yang sebesar US$ 16/mmbtu. Sementara harga yang dibayar produsen keramik saat ini sebesar US$ 5,5/mmbtu.

“Mereka menjelaskan mengenai harga-harga saat ini. Tapi kami belum memberi tanggapan. Mungkin minggu depan,” katanya ketika dihubungi detikFinance.

Yang pasti, ia berharap tidak ada kenaikan harga gas pada tahun ini. Karena harga gas sebesar US$ 5,5/mmbtu yang dibayarnya sekarang dinilai sudah cukup memberatkan.

Seperti diketahui sebelumya, formula gas yang tengah disusun ini akan menggunakan batas atas dan batas bawah.