Berita Special

07 Jul 2010

Wapres Jamin Gas Industri Domestik

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Presiden Boediono menjamin pasokan gas bagi industri keramik dalam negeri.

Wapres Jamin Gas Industri Domestik

Wapres Jamin Gas Industri Domestik

“Dalam jangka pendek memang pasokan gas untuk kebutuhan dalam negeri, masih terbatasnya infrastruktur,” katanya, saat membuka Forum Keramik Dunia 2010 di Jakarta, Rabu (30/6/2010).

Ia mengatakan, pemerintah saat ini masih mengkaji dan menghitung tingkat kebutuhan dan ketersediaan energi, khususnya gas bagi konsumsi domestik. “Salah satu kendala yang dihadapi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri adalah infrastruktur seperti pipa penyaluran dan terminal penerima serta harga yang kompetitif,” ungkap Boediono menegaskan.

“Karena itu, saya sudah mengadakan dialog untuk membahas hal itu, apalagi pemerintah telah menetapkan kebijakan pembangunan ekonomi nasional berbasis gas, karena selain harganya murah dari minyak juga ramah lingkungan,” ujarnya.

Diungkapkan Wapres, saat ini pemerintah akan meningkatkan kapasitas pipa gas di Jawa Barat dan pembangunan pipa gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pasokan gas dalam negeri.

Adapun masalah harga, Boediono menegaskan, harga yang ditetapkan sesuai dengan keekonomian dan kompetitif. “Jangan, karena untuk kebutuhan dalam negeri lalu harga yang diminta harus serendah-rendahnya dari harga yang dijual ke luar negeri, hingga tidak mencapai harga keekonomian yang justru akan berujung pada pemberian subsidi yang akan membebani APBN dan rakyat sendiri dalam jangka panjang,” tuturnya.

Namun pemerintah yakin pada jangka menengah, kebutuhan energi terutama gas dengan pertumbuhan ekonomi nasional tujuh hingga delapan persen, dapat terpenuhi untuk kebutuhan domestik termasuk industri keramik.

Sebelumnya, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), mengeluhkan kurangnya pasokan gas untuk industri keramik.

Ketua Umum Asaki Achmad Widjaya, menyampaikan, hingga saat ini kapasitas produksi dari industri keramik baru mencapai 75 persen atau 55 juta meter kubik per tahun sehingga omzetnya baru mencapai Rp 18,2 triliun.

“Padahal, bahan baku berlimpah, sumber daya manusia tidak ada masalah, transportasi dan pasar juga tidak ada masalah. Yang menjadi ancaman bagi kami adalah justru pasokan energi, untuk gasnya,” kata Achmad.

sumber: kompas.com
Berita Special

07 Jul 2010

Wapres Ultimatum Kontraktor Migas Bangun Infrastruktur

JAKARTA–MI: Wakil Presiden Boediono memberikan ultimatum kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKSK) yang memegang kontrak pembangunan infrastruktur gas segera menyelesaikan tugasnya. Pasalnya, keterlambatan pembangunan infrastruktur akan mengganggu suplai gas dan kerugian semua pihak.

“Ada yang sudah mengantongi hak membangun, tapi belum membangun. Sebaiknya diserahkan kembali ke negara, agar kita bisa mencari yang mampu,” kata Boediono dalam pembukaan World Ceramics Tiles Forum di Hotel Sultan Jakarta, Rabu (30/6).

Kontraktor yang dimaksud, kata Wapres, adalah BUMN dan swasta yang telah memiliki kontrak sejak lama tetapi enggan membangun infarastruktur karena terhambat harga gas yang jauh dari angka keekonomian. Keterbatasan infrastruktur gas saat ini masih mengganggu suplai gas.

Soalnya, pembangunan infrastruktur gas domestik masih belum terakselerasi. Hal ini mengakibatkan banyak biaya yang hilang. “Yang sudah punya hak untuk membangun harus cepat membangun. Kalau tidak, yang tersandera banyak sekali. Yang terhambat sektor listrik, transportasi, dan lain-lain,” ujarnya.

Pemerintah saat ini sedang membangun infrastruktur pipa, receiving terminal untuk LNG, dan jaringan gas untuk kebutuhan industri, transportasi, dan rumah tangga. Boediono berharap infrastruktur gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa segera diselesaikan. Infrastruktur di Jawa Barat sudah mencukupi. “Mudah-mudahan secara bertahap kendala yang menghambat bisa diatasi,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah tetap konsisten mengutamakan industri dalam negeri. Hal ini diharapkan bisa mendongkrak tingkat perekonomian. Boediono mengaku pemanfaatan dan penyerapan gas untuk industri masih terbatas. “Belum bisa dipaksakan. Alasannya, dukungan infrastuktur yang belum memenuhi,” katanya.

Meski begitu, kata Boediono, pemerintah sedang menyusun sistem energi yang berbasis gas yang mendukung kegiatan perekonomian dan lingkungan hidup. Hal ini juga agar biaya industri lebih murah. “Gas dan hidrokarbon tersedia banyak dan harus dikelola dengan baik,” katanya.

Pemerintah juga mengkaji kebijakan yang menghambat investasi. “Insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama akan disampaikan ke publik dan pelaku usaha,” katanya.

Mengenai harga gas, pemerintah menyatakan harga jual gas juga masih dikaji. Dia mengingatkan agar industri tidak mengharapkan harga yang murah. “Itu tidak fair. Memang masih mungkin harga jual gas dalam negeri lebih murah dari harga jual luar negeri dengan tetap mempertimbangkan harga keekonomiannya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa harga di dalam negeri yang terlalu murah akan memberikan konsekuensi adanya imbalan yang harus dilakukan pemerintah. Yakni, memberikan konsesi-konsesi yang mungkin nilai keekonomian lebih tinggi di masa mendatang. “Jika dipaksakan, akan ada subsidi terselubung yang berdampak pada APBN termasuk rakyat. Apalagi harga yang jauh dari keekonomian akan menganggu industri hulu gas sesuai dengan hukum ekonomi,” katanya. (Tup/OL-5)

sumber: media indonesia
Berita Special

07 Jul 2010

Kualitas Keramik RI Diakui Pasar Dunia

Jakarta – Produk keramik Indonesia dari berbagai ukuran, jenis dan model sudah diakui dunia. Hal ini karena kualitas produk keramik Indonesia sudah sangat baik dan bisa bersaing dengan produsen keramik kelas dunia seperti Italia dan Spanyol.

“Produk keramik Indonesia kualitasnya bagus sehingga memiliki prospek yang bagus, tak mengherankan bisa diterima pasar Eropa,” kata Ketua Forum Keramik Dunia Alfonso Panzani di sela-sela acara Indonesia Building Technology Expo (IndoBuildtech) 2010 di JCC, Rabu (30/6/2010).

Panzani menambahkan Indonesia saat ini sudah menjadi produsen keramik yang hebat dan diperhitungkan di pasar dunia. Adanya ketersediaan bahan baku yang berlimpah, tenaga ahli yang memadaii dan penggunaan teknologi keramik yan maju dan berkembang menjadikan Indonesia menjadi produsen keramik luar biasa.
“Saya kagum dengan produk keramik yang desainnya mirip kayu,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Ahmad Wijaya mengatakan dari sisi teknologi pembuatan dan desain produksi, pabrik-pabrik keramik Indonesia sudah mengadopsi penggunaan teknologi digital. Bahkan saat ini produksi keramik berbahab baku lempung dari lumpur sedang dikembangkan dengan berbagai desain yang teranyar.

“Meski saat ini kita mendapat ancaman terdekat kita adalah India, karena mereka mulai menghilangkan produksi batu marmer mereka,” jelasnya.

Saat ini kata dia dari kapasitas produksi keramik lokal mencapai 243 juta meter persegi keramik per tahun. Sementara sebagian produksi lebih banyak diekspor diantaranya sebelum krisis 2008 hampir sebanyak 12% diekspor ke AS dan 8% diekspor ke Uni Eropa.

“Salah satu negara yang mau tak mau harus impor dari Indonesia adalah Australia karena paling dekat dari Indonesia,” katanya.

sumber: Suhendra – detikFinance
Berita Special

10 Jan 2010

Komoditi dan Keramik Bisa Ekspansi, Garmen Tertekan

INILAH.COM, Jakarta – Menghadapi FTA-China ada beberapa kelompok industri yang berpeluang ekspansi ke luar, tetapi ada pula kelompok industri yang ekstra keras supaya bisa bertahan.

“Semua jenis produk komoditi pertanian seperti CPO, Karet, Kakao sangat berpeluang untuk lakukan ekspansi. Namun, perlu mengupayakan temuan nilai tambah produk,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Frangky Sabarani di Jakarta, Sabtu (9/1).

Selain komoditi pertanian produk Makanan dan minuman, produk keramik sangat berpeluang menjangkau pasar Asean dan China. “Peluang ekspor keramik ke China sangat tinggi. Hanya saja justruk produksi dalam negerinya yang kurang,” kata Frangky.

Pada kesempatan yang sama Deputy Bidang Kajian UKMK, Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta mengatakan salah fokus program pemerintah hadapi FTA-China adalah pengembangan industri keramik dalam negeri.

Pemerintah tengah fokus pada pengembangan industrik keramik dalam negeri mengingat peluang pasarnya sangat terbuka, terutama di luar negeri, seperti China,” katanya.

Lanjutnya, dalam upaya mengembangkan industri keramik dalam negeri pemerintah sudah menetapkan beberapa daerah pengembangan industri keramik diantaranya, industri keramik di Jogya, Balipejaten, Bayu Mulet di Lombok.

“Problem yang dialami industri keramik kita adalah soal kualitas, desain serta upaya promosi. Sebenarnya di Lombok mereka sudah punya tempat promosi sendiri tetapi karena kurangnya wisatawan yang datang akibat dari lemahnya koordinasi makanya jadi iddle. Kedepannya, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas da desain serta membantu upaya promosi,” jelasnya.

Sementara dari sekian produk yang ada produk garmen dikhawatirkan menjadi sangat tertekan. Serbuan garmen dari china bakal menyebabkan persaingan dengan garmen dalam negeri sangat tertantang.

Misalnya tambah I Wayan, untuk harga satu meter kain sutra di pasar tanah Abang, Jakarta Pusat, Sutra impor dari China bisa Rp25 ribu per meter, sementara harga produk lokal bisa mencapai Rp50 ribu per meter. [san/cms]

Berita Special

24 Dec 2009

Profil Majalah InfoKimia

Profil Majalah InfoKimia (more…)