Berita Utama

10 Jan 2010

Harga Gas Indonesia Lebih Murah di Malaysia

VIVAnews - Menghadapi perdagangan bebas (FTA) Asean-China, pengusaha mengaku tidak takut. Wasekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia Franky Sabarani justru menantang pemerintah bagaimana dalam menyiapkan Indonesia untuk siap menghadapi FTA.

“Kalau pengusaha ditanya siap? Kami siap. Tapi kami dengar ada usaha keramik kemarin yang tutup karena kekurangan gas, itu bagaimana?” kata Franky di Warung Daun, Sabtu 9 Januari 2009.

Franky menanyakan apakah pemerintah berani memastikan kecukupan gas untuk kepentingan dalam negeri.

Sebab, tidak hanya dialami oleh industri keramik. Kekurangan gas bahkan juga terjadi di perusahaan-perusahaan BUMN.

Ini bukan sesuatu yang aneh, makanya kami bertanya, berani tidak gas prioritas sebagai sumber energi untuk dalam negeri? Karena harga energi untuk produksi itu paling murah adalah gas.”

“Tapi lucunya gas dalam negeri lebih mahal dari pada gas industri di Malaysia, padahal gas Malaysia itu dialirkan dari Singapura yang gas itu dari Indonesia,” lanjut Franky.

Selain persoalan gas, dalam sumber pembiayaan pemerintah juga ditunut untuk menurunkan suku bunga. “Berani tidak pemerintah menurunkan suku bunga,” ujar dia.

Berita Utama

10 Jan 2010

Golkar: Presiden agar tunda pelaksanaan ACFTA

JAKARTA (Bisnis.com): Fraksi Partai Golkar (FPG) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menunda pelaksanaan perdagangan bebas Asean-China Free Trade Area (ACFTA) mengingat dampaknya yang sangat merugikan bagi industri manufaktur nasional.

Sekretaris Fraksi Partai Golkar Ade Komarudin berpendapat ACFTA berpotensi meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan secara absolut.

“Dengan dilaksanakannya ACFTA, industri manufaktur yang selama ini dijadikan tulang punggung nasional untuk menyerap tenaga kerja akan tutup dengan sendirinya. Industri manufaktur kita tidak akan mampu bersaing dari serbuan produk China,” ujarnya dalam siaran pers hari ini.

Akibatnya, tegasnya, angka pengangguran dan kemiskinan melonjak karena maraknya PHK dan minimnya investasi dibidang industri manufaktur. “Bila ini terjasi, bukan tak mungkin akan memicu instabilitas nasional,” ungkapnya.

Karena itu, lanjutnya, Partai Golkar meminta pemerintah untuk menunda kesepakatan tersebut untuk kepentingan nasional yang lebih besar. “Negara-negara maju juga bersikap demikian, bila kepentingan nasonalnya terganggu. Lihat saja sikap Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya dalam perundingan WTO, mereka berusaha dan sangat melindungi kepentingan nasionalnya.”

Menurut Ade, selain meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan, ACFTA berdampak pada ketidakseimbangan neraca perdagangan antara China dan Indonesia. “Kita hanya mampu menjual bahan baku yang belum atau setengah diolah, sementara pemerintah China sangat agresif mendorong ekspor ke luar negeri dengan skim kebijakan yang mendorong industrinya bisa bersaing secara produktif. Jadi antara ekspor dan impor akan timpang dengan sendirinya,” jelasnya.

Dia menambahkan untuk tumbuh dan berkembang industri nasional masih terkendala dengan minimnya infrastruktur, tingginya biaya transportasi serta jasa pelabuhan yang masih berbelit.

“Dengan kendala yang demikian besar, Fraksi Partai Golkar menilai tidak etis bagi pemerintah membiarkan industri manufaktur nasional ‘mati’ dengan sendirinya akibat diberlakukannya kesepakatan ACFTA.”

Sektor industri yang akan terpuruk jika ACFTA dilaksanakan sesuai kajian Partai Golkar adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri petrokimia, industri peralatan dan mesin pertanian, industri alas kaki, industri fiber sintetik, industri elektronik (termasuk kabel dan peralatan listrik), industri permesinan, industri rancang bangun serta industri baja.

“Dengan Vietnam saja produk manufaktur kita sudah kalah, apalagi dengan produk China. Kami menyarakan kepada pemerintah untuk meneliti dan mengkaji produk-produk mana yang sudah siap untuk dilepas dalam rangka perdagangan bebas itu.”

Bagi produk-produk industri yang belum mampu bersaing, tuturnya, sebaiknya pemerintah melakukan renegoisasi agar produk itu ditunda dimasukkan dalam daftar perdagangan bebas China-Asean.

FPG meminta pemerintah pusat dan daerah untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan dunia usaha. “Pemerintah harus membantu dunia usaha dalam upaya meningkatkan kinerja melalui regulasi, insentif dan fasilitas yang memungkinkan dunia usaha mampu bersaing secara kompetitif.”

Pemerintah pusat dan daerah, jelasnya, harus sinkron dalam mengambil dan menjalankan kebijakan. “Selama ini, kebijakan pemerintah pusat, kadang-kadang dijalankan berbeda di daerah, hal itu tercermin dengan banyaknya perda yang tidak business friendly,” papar Ade.(yn)

Berita Utama

13 Dec 2009

Ceramic Industry Seek Delay For Higher Electricity Tariff

TEMPO Interactive, Jakarta: The government’s plan to hike electricity tariffs next year has drew more response from industries, with the latest came on Thursday from the Indonesian Ceramic Industry Association.

Head of the association, Ahmad Wijaya said the industry have not expect for any rise and demanded the government to postpone the plan.

The association said electricity accounts for 20 percent of total energy use in ceramic inductry, while the remaining 80 percent was powered by gas. “We dont expect for any rise, as there will not be much favourable conditions for the economy next year.”

The association said the cost of higher tariff could not be simply shifted to consumers as the market was still at low swing.

However Ahmad said that should any raise be imposed, the extent will hopefully be set around 10 percent, “Beyond that, it will become a burden for industry.”

Berita Utama

25 Nov 2009

Industri Minta PGN jangan Buang Badan

Safiun,Indonesian Rubber Glove Manufacturing, Michael Baskoro (COO PT.Perusahaan Gas Negara (Persero),Tbk, Achmad Widjaja, ASAKI

Safiun (Indonesian Rubber Glove Manufacturing), Michael Baskoro (COO PT.Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk), Achmad Widjaja (ASAKI)

JAKARTA–MI:Kalangan produsen pengguna gas kecewa dengan sikap PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang sangat tidak responsif menjawab keluhan mereka. Mereka meminta PGN jangan buang badan soal jaminan pasokan gas yang seharusnya menjadi wilayah PGN. (more…)

Berita Utama

16 Nov 2009

Keramik impor kian banjiri pasar

AKARTA: Industri keramik di dalam negeri berpotensi merugi hingga US$234 juta pada tahun ini akibat dihantam impor ilegal asal China.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya mengungkapkan kendati pemerintah mengenakan bea masuk (BM) produk tableware, ubin dan sanitary berkisar 20%-30% seperti diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 561/2005 di samping safeguard (pengamanan perdagangan) sepanjang 3 tahun terakhir, impor ilegal masih melonjak tiga kali lipat sepanjang 2007-2008. (more…)